Melihat Morowali Dalam Kacamata Arsitektur

23376641_538092819868144_5852277983130101125_n View Kota Bungku. Sumber: Ifan Bente[/caption]
Dalam salah satu unggahan terbaru di sosial media pesbuk, seorang teman yang kebetulan alumni jurusan arsitektur mengkritik pembangunan Morowali yang terkesan barahanta a.k.a tidak terarah. Menurutnya,
seharusnya sebagai kawasan industri baru di Indonesia, Morowali sudah memiliki konsep master plan kota masa depan. Apalagi Morowali baru saja berulang tahun yang ke-19 tahun, telah masuk pada usia dewasa untuk mulai memikirkan dan menata tata pembangunan kotanya agar sesuai dengan konsep kota masa depan.

Benarkah pembangunan Kabupaten Morowali barahanta ? Let us find the truth

Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131/2015 Morowali berhasil keluar dari daerah tertinggal di Indonesia dengan usia yang masih sangat muda (berusia 14 tahun), mengikuti empat kabupaten/kota pendahulunya di Sulawesi Tengah yaitu Kabupaten Banggai, Kota Palu, dan Poso. Hal ini sejalan dan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan Sumber Daya Manusianya (SDM) yang berada pada indeks 6.0. Artinya adalah rata-rata penduduk Morowali menamatkan pendidikan pada tataran Sekolah Menegah Atas (SMA) atau setara.

Pertumbuhan SDM serta kemajuan pada sektor ekonominya juga berdampak pada perkembangan kotanya. Pendirian beberapa bangunan maupun monumen baru seperti Islamic Center Guru Tua, Taman Sangiang Kinambuka, Taman Kota Fonuasingko, dan Masjid Raya Bungku mengundang decak kagum. Masyarakat bangga dan puas atas perkembangan Morowali yang dinilai semakin maju ke depan, ini mah slogan Yamaha. Yah sayapun tidak sangsi akan perkembangan Morowali dewasa ini namun sayangnya ketika teman saya dari Makassar berkunjung ke Morowali, ia bertanya sambil melihat-lihat perkantoran Fonuasingko yang menurutnya keren “landmark Kota Bungku apa ?”

Saya pribadi bingung mau menjawab apa karena sependek pengetahuan saya Kota Bungku sama sekali tidak memiliki ikon kota yang menjadi ciri khasnya. Namun teman saya yang lain menjawab “landmark Kota Bungku itu yah Masjid Raya Bungku”

Who says ? manasa barahanta



[caption id="attachment_241" align="aligncenter" width="481"]60505432_869835116693911_8758744209940283392_n Masjid Raya Bungku. Sumber foto : Ifan Bente[/caption]
Jadi begini mylov, sampai sekarang Kab. Morowali kita (hah kitaa ?) yang tercinta ini sama sekali belum memiliki orientasi pembangunan yang jelas dan terarah. Hal ini berdampak pada pembangunan fasilitas sarana dan prasarana yang asal-asalan dan tidak berciri khas selain kejelasan IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Dalam konsep pembangunan ruang kota, tiap-tiap kota seharusnya memiliki perencanaan terkait branding kota yang diunggulkan sehingga nantinya bisa menjadi landmark di kota itu. Lalu apakah masjid raya menjadi landmark Kota Bungku ? jawabannya tidak, tidak sama sekali karena masjid raya tidak menonjolkan bahkan menampilkan satupun ciri khas Kota Bungku selain lokasinya yang berada di Kota Bungku. Itu saja !

Tidak usah jauh-jauh, Kantor Bupati yang seharusnya menjadi ikon kota dan bangunan perkantoran maupun komersil lainnya, sama sekali tidak memiliki ciri khas atau nilai budaya. Lah bagaimana mau punya landmark, peraturan daerah yang ada sampai sekarang hanya sebatas pada tataran RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang seharusnya sudah harus dalam bentuk RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kota). Artinya adalah pemerintah sudah memuat syarat bangunan pemerintah maupun komersil (kantor, hotel, restauran, bank, dan lain-lain) sesuai tema pembangunannya.

Tiga tahun lalu, ketika bertemu mantan bupati sebelumnya dalam sebuah pertemuan, saya melempar pertanyaan “Mengapa Masjid Raya Bungku tidak menampilkan ciri khas kebudayaan Bungku ?” beliau menjawab sambil memperlihatkan maket pembangunan Jembatan Matano “Karena sudah ada di rumah jabatan”. Dan saya hanya bisa kongia-ngia saat itu. Memang tak dapat dipungkiri, pemerintah daerah sebelumnya lebih fokus mengembangkan sektor agraria untuk mewujudkan Morowali sebagai lumbung SIE. Sehingga sebelum melangkah terlalu jauh, lebih baik pemerintah saat ini yang fokusnya sedang mengatasi devisit daerah mulai berbenah memikirkan pembangunan Morowali yang tercinta ini. Nah kalau pemda terkait masih bingung mau dibawa kemana orientasi pembangunan Morowali, mungkin masukan berikut bisa bermanfaat.

Orientasi pembangunan ke arah kebudayaan adalah cara terbaik untuk memperbaiki pembangunan Morowali yang asal-asalan ini. Mengapa ? karena jumlah populasi suku yang kecil dan kondisi masyarakat dewasa ini yang plural akan menggerus kearifan lokal dan nilai budaya yang sudah kita (hah kita ??) miliki saat ini. Setelah menentukan tema, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat forum diskusi dengan mengundang stakeholder terkait untuk menentukan bagaimana dan apa yang seharusnya ditonjolkan dari kebudayaan itu sendiri. Nanti aplikasinya ke bangunan-bangunan monumental kota. Kalau masih bingung mau pakai yang mana, hasil penelitian saya di salah satu gua prasejarah di Topogaro bisa menjadi langkah solutifnya. Upzz promosi ! 

Kita bisa berkaca pada keberhasilan Bali, Jogjakarta dan Toraja dalam pembangunan kotanya yang sarat akan nilai kebudayaan. Ketika berkunjung ke dua daerah tersebut, kesan kuat yang paling nampak adalah baik penduduk dan kotanya menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokalnya. Tidak usah jauh-jauh, Kota Palu sebagai ibukota Sulawesi Tengah sudah mengusung brand kota beradat dan berbudaya sehingga pembenahan pada pada fasilitas-fasilitas umum mulai dilakukan. Hal itu terlihat dari seringnya pemerintah Kota Palu melakukan sayembara desain dengan langgam arsitekturnya berasal dari kebudayaan Kaili. Baik dari bangunan maupun ornamennya yang bisa diaplikasikan pada bangunan. Makanya tak heran jika berkunjung ke Kota Palu, kita (hah kita ??) akan disungguhi bangunan-bangunan yang mencirikan khas kebudayaan Kaili salah satunya bangunan PIP2B Sulawesi Tengah, DPRD Provinsi, Kantor Walikota, Kantor Gubernur, Rujab Gubernuran Siranindi, Wisma donggala dll.



[caption id="attachment_244" align="aligncenter" width="472"]tana-toraja-sulawesi-selatan.jpg Kawasan Adat Buntupune, Kabupaten Toraja. Sumber : google[/caption]

[caption id="attachment_245" align="aligncenter" width="470"]1539166425-0-DSC_0807.jpg Kantor PIB2B Sulawesi Tengah. Sumber:  google[/caption]
Gimana ? langkah yang solutif bukan ? dan saya sangat berharap pembangunan yang tidak berorientasi seperti gapura “Selamat datang di Morowali” tidak ada lagi sehingga Morowali bisa mempersiapkan diri melalui pembangunan yang sustainable untuk mendorong lahirnya kota masa depan.



[caption id="attachment_242" align="aligncenter" width="369"]PHOTO-2019-06-30-15-02-17 Gapura "Selamat Datang" Morowali. Sumber : Abd. Kasim Parilele[/caption]


Comments