Aku Melihat Tuhan di Matamu

mata.jpg Source : google[/caption]
Seorang perempuan berhijab terlihat sedang duduk menyendiri di tepi sebuah danau. Matanya memandang ke langit yang ditaburi bintang-bintang berkelipan. Pikirannya kacau, matanya sayu dan sembab
seakan ada masalah besar sedang menimpanya. Sesekali dia melempar batu ke danau sambil menghela napas. “Huufftt, sampai kapan seperti ini. Mengapa orang-orang menjauhiku, bahkan untuk mendekatpun mereka merasa jijik” Bisiknya dalam hati. Berkali-kali dia menghela napas, berkali-kali pula dilemparnya batu ke dalam danau, mencoba meluapkan emosinya, tetapi ia tak kuasa membendungnya. Air matanya tumpah seketika. Ia berkali-kali bertahan untuk tidak lari dari masalah yang menimpanya, tetapi kegigihan dan ketabahannya tak bisa lagi dia bendung. Air matanya seakan berpesan bahwa dia sosok yang begitu rapuh. Kesendirian yang selama ini ia jalani tak bisa lagi menemaninya. Ia membutuhkan pendamping hidup !

         ***

Namanya Dwi Sumaiyyah Makmur. Dia kuliah disebuah perguruan tinggi negeri di Kota Makassar. Mahasiswa semester 6 tersebut kuliah di Jurusan Arkeologi yang notabenenya bermayoritas laki-laki. Ayya sapaa akrabnya, terpaksa kuliah di jurusan tersebut karena desakan orang-tuanya yang menginginkan dia menjadi seorang arkeolog. Pada awalnya Ayya menentang pilihan kedua orang-tuanya tetapi karena diancam akan disekolahkan di luar negeri, Ayya pun luluh dan kemudian mengikuti perintah orang-tuanya. Ketika masuk dan berinteraksi dengan dunia arkeologi, Ayya malah menyukai dan penasaran dengan dunia arkeologi yang membawanya masuk dan menyelami masa lalu melalui tinggalan materil budaya manusia masa lampu. Prasejarah, sejarah, klasik, filsafat adalah beberapa mata kuliah yang disenanginya. Dia suka berbagi dan membantu mereka yang membutuhkan, pekerja keras, dan sangat menyukai climbing. Walaupun Ayya adalah sosok yang banyak diidolakan oleh wanita karena paras ataupun kebaikannya, tetapi bagi kaum adam mereka tidak menyukainya. Hal ini bukan karena tanpa alasan, Ayya memang sangat membenci yang namanya laki-laki. Prinsip hidupnya adalah “Laki-laki hanya akan menghancurkan wanita”. Karena prinsip itulah, sampai sekarang Ayya masih betah menjomblo dan tidak ada seorangpun laki-laki yang mau mendekatinya.

Pada setiap weekend, Ayya mempunyai rutinitas yang wajib dan harus dilakukan. Ia harus membawa binatang peliharaannya, Rambo-seekor iguana keluar jalan-jalan dan menikmati matahari pagi. Waktu itu entah kenapa Ayya terlihat badmood dan melamun, ia teringat akan kata-kata teman laki-lakinya yang mengatainya “Perawan Tua”. Sekeras apapun dia mencoba mematahkan perkataan temannya tetapi dia merasa temannya benar juga. “emang iya sih aku masih jomblo, tapi masa iya aku perawan tua, aku hanya gak mau merusak masa mudaku dengan pacaran. Oke fix, laki-laki itu perusak !” gumamnya dalam hati. Ketika beberapa saat ia terlarut dalam lamunannnya, ia kemudian berdiri dan beranjak kembali ke rumah. Diperjalanan pulangnya ia membantah semua tudingan yang dialamatkan kepadanya sehingga orang yang melihat kelakukannya menganggapnya gila karena berbicara sendiri.

***

Perkuliahan semester 6 akan segera berakhir. Menjadi rutinitas wajib bagi jurusan arkeologi mengadakan study tour ke tempat-tempat bersejarah setiap semesternya. Kebetulan waktu itu, dua angkatan yaitu 2011 dan 2012 mengikuti study tour. Ketika berada dalam bus, Ayya terlihat duduk sendiri sambil mendengarkan lagu kesukaannya “Love Story”. Sesaat kemudian, bus terdengar gaduh karena teriakan histeris mahasiswa cewek yang melihat seorang lelaki tampan masuk ke dalam bus. Karena tak punya tempat duduk yang tersisa, lelaki tersebut duduk di samping Ayya. Ayya tidak menyadari kejadian tersebut karena assik mendengarkan musik. Beberapa saat kemudian ayya yang larut dalam dunianya, merasa ngantuk dan kemudian tertidur. Ketika sadar Ayya terlihat tertidur dibahu lelaki tersebut. Ayya pun segera bangkit dan mata mereka bertemu satu sama lain. Ayya merasa ada ketenangan ketika memandang lelaki tersebut, ketenangan dan kedamaian yang tidak pernah dia dapatkan selama ini. Apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama ? Ayya menepisnya dan buru-buru megambil tasnya dan kemudian bergabung dengan mahasiswa cewek lainnya. Ketika lelaki tersebut mengikuti langkah Ayya, ia melihat sebuah benda milik Ayya yang ia tinggalkan. Ya, itu adalah sebuah buku diary milik Ayya. Ketika lelaki tersebut hendak mengembalikannya, Ayya telah beranjak pergi. Karena penasaran dengan isi diary tersebut, ia kemudian membuka dan membacanya halaman demi halaman, dan akhirnya ………???

***

Lelaki mistrerius tersebut bernama Mohammad Aswar Arif. Dia seorang Ketua Maperwa di Fakultas Sastra, tempat Ayya menuntut ilmu di bangku kuliah. Sosok yang banyak diidolakan oleh para wanita tersebut adalah seorang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Itu terbukti dari seringnya dia melakukan bakti sosial kepada orang-orang yang membutuhkan. Ari sapaan akrabnya, adalah senior Ayya di arkeologi tetapi Ayya tidak pernah mengetahui hal itu karena dia terlalu sibuk dengan urusan akademik, sedangkan Ari adalah Ketua Maperwa yang banyak mengurusi organisasi kampus.

***

Ari telah selesai membaca diary tersebut. Tangannya gemetar, mulutnya tak mampu berbicara, yang ia lakukan hanya diam sambil menatap lurus pada diary yang ada digenggamannya. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. “Gadis penderita HIV ?” kata Ari sambil  menutup lembaran terakhir dari buku diary milik Ayya. Hanya itu yang mampu dia keluarkan dari bibir mungilnya. Ia kemudian menyimpan buku diary tersebut di dalam tas ransel miliknya, dengan niat akan dikembalikan kepada Ayya ketika bertemu. Tetapi, Tuhan berkehendak lain ketika akan keluar dari dalam mobil, Ayya terlihat berlari-lari kecil dalam mobil sambil terisak. “Di mana buku diaryku ? apakah ada yang melihatnya ?”. tanya Ayya sambil terisak. Karena melihat Ayya yang menangis karena kehilangan barang miliknya, Aripun mendekatinya dan menyodorkan buku diary miliknya. “ini buku diary milik kamu, aku tadi nemuin diary kamu ketika kamu beranjak pergi” kata Ari sambil duduk di samping Ayya. “aku minta maaf karena telah membaca buku diary kamu, aku hanya ….”. Ketika akan mengklarifikasi alasan membaca buku diary milik Ayya, Ayya dengan sigap langsung meraih buku tersebut dan kemudian berhenti menangis. “terima kasih karena sudah mengembalikan buku diary ini, kamu adalah orang yang pertama kali melihat dan membaca buku diaryku, ini adalah rahasia antara kita berdua, kamu dan aku telah diikat oleh curahan hati yang kugoreskan disetiap lembar diary ini” jawab Ayya sambil tersenyum. Senyuman yang indah dengan deretan gigi berbaris dengan rapi. momen langka yang jarang didapatkan karena Ayya sangat pendiam dan bahkan senyumpun dibatasinya. Ari merasa tenang ketika melihat gadis tersebut, dibalik sosoknya yang pendiam, dia adalah sosok yang begitu rapuh dan baik.

Setelah kejadian itu, Ari tidak bisa menjalani kehidupannya dengan tenang. Ia selalu kepikiran akan sosok Ayya, sosok yang begitu kuat di luar tetapi rapuh di dalam. Ari juga mengerti kenapa selama ini Ayya bersikap sangat judes dan cuek ketika ada lelaki yang mendekatinya. Ternyata dan tak lain karena ia terlahir dari orang tua yang mengidap HIV. Buku diarylah yang membuka mata hati Ari. Ari merasa perlu berbicara empat mata dengan sosok ayya dan memecahkan masalah yang dihadapi Ayya yang ia tuliskan dalam lembaran buku diarynya. Ia putuskan akan bertemu dengan Ayya besok hari di Taman Belakang Sastra.

Keesokan harinya, Ari menunggui ayya setelah mendapatkan informasi bahwa Ayya sedang mengambil kelas filsafat. 2 jam menunggui Ayya membuat Ari kelelahan dan kemudian tertidur di sebuah bangku panjang tak jauh dari kelas filsafat. Ketika sadar dan mendapati dirinya tertidur, Ari buru-buru ke kelas filsafat tetapi ketika hendak berdiri, sosok yang familiar, sosok yang membuatnya menunggu berjam-jam terlihat sedang duduk di sampingnya. Ayya hanya diam tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Aripun buru-buru mencairkan suasana dengan mengajak Ayya ke taman belakang sastra seperti yang telah dia rencanakan sebelumnya. “Maafkan aku karena telah membaca buku diarymu tanpa permisi, hanya saja” belum sempat Ari melanjutkan pembicarannya Ayya terlihat terisak, air matanya tumpah ruah “Kamu tak perlu minta maaf, aku memang gadis hina. Aku terlahir tanpa sosok ayah yang membantuku melewati hidup ini. Apakah aku anak yang tidak diinginkan di dunia ini, apakah aku anak haram karena terlahir sebagai anak hasil perkosaaan ? tanya Ayya meluapkan emosi yang dia sembunyikan selama 19 tahun ini. Hantaman cacian, hinaan, dan kritikan yang selama ini dia dapatkan membuatnya tak lagi bisa menahannya. Kepada laki-laki yang baru dikenalnya diluapkanlah emosinya. “Aku gadis penderita HIV, apakah aku salah terlahir di dunia dengan penyakit seperti itu ? ini juga bukan keinginanku ! tambah Ayya yang mulai mengurangi emosinya. Ari paham betul apa yang dirasakan oleh Ayya, gadis penderita HIV yang merasa hina karena terlahir tanpa sosok ayah dan harus menanggung derita seperti itu. Ia merasa harus menemani hari-hari Ayya. “Ayya, jangan pernah menyalahkan siapapun atas apa yang kamu alami sekarang. Ketahuilah keajaiban akan datang ketika kamu selalu bertahan dengan apa yang kamu percayai” jawab Ari memberikan motivasi pada Ayya. Diperhatikannya sosok Ayya lebih jelas, keanggunan yang terpancar dari diri Ayya membuat Ari menyukainya. Walaupun Ayya mengidap penyakit yang mematikan dan belum bisa disembuhkan tetapi tak mengurungkan niat Ari untuk menjaga gadis yang tengah sedang duduk di sampingnya.

Lambat laun kedekatan mereka semakin terjalin, membuat mereka saling mengerti satu sama lain. Tidak ada kata pacaran dalam  hubungan tersebut, walaupun kedekatan mereka membuat orang-orang berpikir bahwa mereka menjalin hubungan khusus. Ari merasa harus melindungi Ayya dan membuatnya kuat agar Ayya sejenak dapat melupakan penyakit ganas yang sedang menggerogotinya. Setiap harinya Ari menjemput Ayya di kediamannya dan kemudian memberikan sebuah puisi. Perlakuan romantis Ari kadangkala membuat Ayya tersipu malu karena tidak pernah mendapatkan momen manis seperti itu. Kadang Ayya berpikir untuk berpacaran dengan Ari, tetapi Ayya merasa berpacaran hanya menciptakan momen canggung di antara mereka berdua. Jadi, Ayya memantapkan hatinya “Oke, tidak akan kata pacaran”.

Dari hari ke hari kehidupan Ayya dipenuhi pelangi berkat kedatangan Ari, lelaki yang ditakdirkan Tuhan untuknya dari sebuah buku diary. Seseorang yang mampu mengubah tangisan kesedihan menjadi tangisan kebahagiaan, menciptakan momen indah ketika semuanya terasa suram, dan menjadi penguat ketika Ayya merasa tak mampu memikulnya. Namun, kebahagian itu tak berlangsung lama. Virus HIV yang bersarang di tubuh Ayya mulai melumpuhkan kekebalan tubuhnya. Ayyapun dilarikan ke ICU rumah sakit terdekat dan mendapat perawatan intensif. Ia harus dipasangi selang dan tak seorangpun diizinkan untuk menjenguknya. Ari yang mendengar kabar tentang keadaan Ayya langsung bergegas ke rumah sakit. Namun, yang ia dapatkan tubuh Ayya yang ditutupi kain berwarna putih. Ayya telah meninggal dunia, pujaan hatinya kini tak bisa membersamainya lagi. Ari terdiam, termangu, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Air matanya seketika tumpah ruah. Dengan langkah kaki yang diseret, ia berjalan mendekati Ayya. Dipeluknya tubuh Ayya yang telah terbujur kaku, tanpa desahan nafas kehidupan.

Ayya dimakamkan di samping makam kedua orang tuanya. Guratan kesedihan tergambar jelas kepada semua orang yang menghadiri pemakaman tanpa terkecuali Ari. Hingga pemakaman berakhir, Ari masih belum beranjak dan lebih memilih berlama-lama di tempat Ayya dimakamkan. Kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Ari membuatnya menangis tersedu-sedu. Dilhatnya kembali foto Ayya yang sedari tadi berada dalam pelukannya. Tatapan mata Ayya yang mampu meluluhlantakkan hati Ari. Hati yang tertutup begitu kuat mampu terbuka lebar hanya dari tatapan mata itu. “Aku melihat Tuhan di kedua matamu”, seru Ari sambil berlalu pergi dari makam Ayya.

Comments