Tinggalan Arkeologis Bungku

33125019_2049808965339487_1814824377791807488_n Hand Stencils (cap tangan) di salah satu gua di Sombori. Source : Facebook Acca Accaevara[/caption]
Sampai kapan tinggalan arkeologis di Morowali diperlakukan bak anak tiri ?

Ah, lagi-lagi pertanyaan macam di atas selalu menggelitik pikiran saya setiap kali melihat promosi wisata dari Dinas Pariwisata Kab. Morowali yang hanya berisi Sombori.
Jika berkunjung ke kantor dinas pariwisata, spanduk pariwisata hanya menampilkan Sombori sebagai satu-satunya daerah wisata. Tapi sebagai manusia, kita (hah kitaa ?) diperintahkan untuk selalu berhusnudzon (berbaik sangka). Mungkin dinas pariwisata tidak memiliki banyak dana untuk mencetak spanduk lain sehingga hanya Sombori yang ditampilkan. Di linimasa sosial mediapun demikian,  lebih banyak foto pulau Sombori yang ditampilkan ketimbang daerah wisata lain yang tak kalah cantik jika saja diperhatikan oleh pemda terkait. Sombori memang menjadi kebanggaan Morowali karena pesona keindahan alamnya yang konon tak kalah dengan Pulau Raja Ampat Papua. Jadi wajar, perhatian lebih banyak tecurah pada daerah wisata yang mendatangkan money dibandingkan benda purbakala yang catatan sejarah bahkan masyarakatnya sudah tidak ada. Oh kasian

Sebagai orang yang menghabiskan masa kuliah dengan benda-benda antik, cangkang kerang-kerangan, ekskavasi atau bahasa pasarnya gali-menggali, dan sejarah manusia puluhan ribu tahun lalu, saya merasa miris dengan keadaan tinggalan purbakala di daerah ini. Dan juga sebagai satu-satunya lulusan sarjana arkeologi di wilayah ini, saya dihadapkan pada persoalan dilematis. Menggiring opini masyarakat untuk mencintai tinggalan arkeologis untuk turut serta melindunginya sedikit sulit untuk dilakukan. Yah mau bagaimana lagi, kondisi masyarakat saat ini mengalami degradasi kearifan lokal. Budaya daerah lain dibanggakan dan budaya daerah sendiri dipandang sebelah mata !

Sebagai daerah kawasan industri yang diperhitungkan di kawasan Timur Indonesia, Morowali sedari sekarang harus berbenah diri, mempersiapkan master plan kota masa depan. Salah satu syaratnya adalah memiliki sasaran dan orientasi pembangunan. Dan untuk mewujudkan hal itu orientasi pembangunan yang bisa diwujudkan adalah ke arah kebudayaan. Mengapa ? alasan paling utama dan krusial adalah karena jumlah penduduk Suku Bungku yang minoritas dan kondisi plural masyarakatnya. Sehingga pemanfaatan dan perlindungan tinggalan arkeologis harus dilakukan agar keberadaannya dapat dinikmati oleh generasi masa depan.

Dalam UU No. 11 tahun 2010 disebutkan bahwa tinggalan arkeologis memiliki lima nilai penting yaitu nilai agama, pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan, dan sejarah. Yah tapi mungkin bagi kebanyakan masyarakat awam hanya melihatnya sebagai tinggalan tak bernilai dan keberadaannya dipandang sebelah mata. Ngapain capek-capek ke gua cuman lihat tengkorak ? ngapain ke benteng toh yang dilihat hanya batu-batu ? ngapain melestarikan tinggalan purbakala ? ah pemikiran dangkal. Kalau ada tipe manusia yang berpikiran seperti ini baiknya diungsikan jauh-jauh dari peradaban. What an idiot !

Ketika saya ditunjuk untuk menjadi perwakilan Universitas Hasanuddin dalam Tokay Project 2016 bersama arkeolog Jepang, Rintara Ono dengan lokasi penelitian terpusat di Topogaro, Kec. Bungku Barat, saya hanya tertawa kecut. Bahkan karena saking penasaran, saya bertanya kepada dosen saya alasan memilih Morowali sebagai lokasi penelitian. Yah mau bagaimana lagi, saya tahu betul betapa daerah ini sangat miskin tinggalan arkeologi dan walaupun sudah terdapat bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh UU malah dialihfungsikan atau dibiarkan rusak dimakan waktu. Dosen saya hanya berkata “just go and see” dan ternyata saya tidak mengenali daerah saya dengan baik. Setelah melakukan ekskavasi, banyak ditemukan artefak di mana ketika di-dating didapatkan usia puluhan ribu tahun silam. Dan karena itulah, saya memutuskan untuk memindahkan lokasi penelitian akhir saya yang awalnya di Kabupaten Poso ke kampung halaman saya sendiri, Morowali.



[caption id="attachment_146" align="aligncenter" width="364"]dsc_1062.jpg Gua Vavompogaro[/caption]

[caption id="attachment_147" align="aligncenter" width="369"]1 Gua Tokandindi[/caption]
Di Desa Topogaro terdapat dua gua yang memiliki tinggalan arkeologis di antaranya Gua Vavompogaro dan Tokandindi. Tulisan tentang Gua Vavompogaro sebelumnya sudah diulas dan dipublish oleh salah satu media onlie Kamputodotcom dalam tulisan berjudul “Jejak Neolitikum di Morowali yang Penting Kamu Ketahui“. Salah satu temuan masterpiece-nya adalah wadah kubur kayu yang oleh masyarakat setempat disebut soronga. Dahulu, mereka yang meninggal akan ditempatkan pada sebuah lokasi terbuka yang disebut pontambea sampai membusuk dan tersisa tulang-belulangnya. Tulang-belulang tersebut diambil, dikumpulkan jadi satu, dan ditempatkan dalam wadah kubur. Wadah kubur yang ditemukan di Gua Vavomopogaro dan Tokandindi memiliki ukuran yang relatif kecil, berukuran rata-rata hanya 1 meter. Dan wadah kubur seperti ini juga ditemukan di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tenggara. Berbeda halnya dengan wadah kubur di Kabupaten Toraja dan Enrekang yang memiliki ukuran besar. Penelitian akan wadah kubur di Kabupaten Morowali penting dilakukan karena berdasarkan hasil penelitian Prof. Akin Duli, dosen arkeologi sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin didapatkan fakta bahwa penelitian terkait wadah kubur kayu harus dilakukan ke wilayah Sulawesi Tengah agar dapat menyatukan puzzle demi puzzle penelitian. Hal inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian di kampung halaman saya sendiri.



[caption id="attachment_148" align="aligncenter" width="371"]2 Wadah Kubur Soronga di Gua Tokandindi[/caption]

[caption id="attachment_149" align="aligncenter" width="366"]3 Salah satu varian wadah kubur soronga[/caption]

[caption id="attachment_150" align="aligncenter" width="386"]4 Bentuk utuh dari wadah kubur soronga[/caption]
Selain itu, gambar cadas (rock art) juga ditemukan di beberapa gua di Kawasan Pulau Sombori setelah survei yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Manado tahun lalu. Di wilayah Sulawesi Tengah, penemuan gambar cadas lebih banyak ditemukan di Kabupaten Morowali Utara. Gambar cadas di Kawasan Pulau Sombori berupa lukisan cap tangan (hand stencils) yang jumlahnya ratusan. Dibalik keindahan alam Pulau Sombori, ternyata ada keindahan lain yang tak kalah menakjubkan. Mengapa gambar cadas dianggap penting ? karena gambar cadas dulunya digunakan oleh manusia purba sebagai media untuk menyampaikan pesan. Terlebih lagi, lukisan cap tangan pada umumnya sebagai tanda berkabung atas kematian kerabat dan biasanya mereka yang ditinggalkan akan memotong jari setiap ada anggota keluarganya yang meninggal.

Sesuai dengan amanat UU bahwa tiap benda cagar budaya memiliki lima nilai penting yang kelestariannya harus dijaga, sehingga baik wadah kubur kayu dan rock art yang sudah ditemukan oleh para peneliti harusnya juga menjadi prioritas pemerintah saat ini. Cukup Masjid Tua Bungku dan Benteng Fafontofure yang menjadi korban, jangan sampai terjadi lagi pada wadah kubur kayu soronga dan rock art di Sombori. Berkaca pada Kabupaten Toraja yang begitu menonjolkan citra kotanya sebagai kabupaten berbudaya di mana media penguburan seperti erong dilindungi dan menjadi objek wisata. Aksesnya yang jauh tidak menyulitkan wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini karena memang pada dasarnya daerah yang menonjolkan kebudayaannya lebih banyak menarik minat wisatawan. Kitapun bisa melakukan hal yang sama karena media penguburan soronga hanya dan satu-satunya yang ditemukan di Kabupaten Morowali. Pun ini berlaku bagi gambar cadas di Sombori. Penemuan ini bisa membuka cakrawala berpikir kita untuk memahami bagaimana pola kehidupan manusia purba puluhan ribu tahun yang lalu.

Kalau sudah seperti ini, masihkah kita abai terhadap tinggalan arkeologis ?

Comments