Story of My Life
Pepatah bijak mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang dan tak sayang maka tak cinta. Perkenalan adalah sebuah gerbang untuk menyatukan ikatan beberapa insani yang ingin saling mengenal dan berhubungan satu sama lain. Dengan mengenal seseorang, kita mampu menambah relasi pertemanan dalam skala yang lebih luas. Untuk mengenal seseorang lebih dekat, tidak mesti harus bertemu langsung namun bisa juga melalui cara lain, salah satunya tulisan. Dan paragraf demi paragraf yang ada dalam tulisan ini menyiratkan beberapa kisah yang terjadi dalam hidupku …
Dahniar M Arsyad adalah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Orang-orang lebih sering memanggilku dengan sebutan Niar walaupun dewasa sekarang dipanggil dengan nama Daha dan ukhti. Namun demikian, terkadang ketika memperkenalkan diri kepada orang lain, aku mengatakan bahwa Rain adalah nama panggilanku. Mengapa Rain ? karena nama Niar ketika dibalik menjadi Rain yang berarti hujan dalam bahasa inggris. Yah, aku menyukai hujan. Aku suka menyendiri dan menatap tetes-tetes hujan yang terjatuh dari langit. Tetapi, aku juga membenci hujan yang turun ketika telah larut malam. Itu membuatku takut dan sulit untuk memejamkan mata karena pikiran menerawang membayangkan makhluk tak kasat mata.
Aku adalah anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara. Sejak kecil, aku lebih banyak diasuh oleh orang lain. Rata-rata mereka menjadikanku anak angkat untuk memudahkan mereka mendapatkan keturunan. Karena terbiasa bersama dengan orang-orang baru membuatku suka mengikuti siapapun kemanapun mereka pergi. Hal yang sedikit menggelikan adalah ketika kakak angkatku menikah dan hijrah ke Makassar bersama istrinya. Mungkin karena terbiasa tidur bersama, sehingga akupun juga ikut membersamai mereka ketika sedang hangatnya berhoneymoon. Guess what ? kami bertiga tidur dalam satu ranjang dengan aku berada di tengah-tengah mereka. Sungguh perbuatan seperti ini jangan ditiru karena dapat mengurasi romantisme pasutri ckck.
Ketika kecil, aku jarang bersosialisasi dengan teman-teman yang seumuran denganku. Di kampung, aku hanya memiliki beberapa teman yang bisa dihitung jari. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama kedua kakak lelakiku walaupun pada kenyatannya kami bertiga tidak terlalu dekat satu sama lain. Adapun orang-orang di sekitarku yang datang menghampiriku dan bermain bersama denganku. Kedua orang tuaku sangat protektif terhadapku karena di kampung tempatku tinggal, kebanyakan anak gadis menikah muda (red : hami di luar nikah). Hal inilah yang membuat aku dilarang bersosialisasi untuk menghindari kejadian naas seperti itu
People around me called Me “The most unpredictable girl”. Julukan tersebut ditujuan pada sifatku yang bikin orang-orang terdekat geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, terkadang aku akan bersikap baik dan manis namun kadang tak ada angin, tak ada hujan, aku akan memperlihatkan muka ‘andalan’ ciri khas seorang Dahniar. Tekukura alias marah-marah, tidak senyum, cuek, dan jutek. Seperti itukah diriku ? entahlah.
Dalam hal akademik, aku menampakkan taring ketika kelas IV SD. Dengan akal dan pikiran yang pas-pasan, aku berhasil meraih peringkat ketiga dari 60-an siswa kala itu. Semester selanjutnya, peringkat naik satu tingkat menjadi peringkat kedua dan prestasi itu aku pertahankan sampai aku dinyatakan lulus dari SDN Sakita. Kemudian aku melanjutkan sekolah di SMPN 1 Bungku yang merupakan sekolah favorit dan unggulan di Kabupaten Morowali. Di sekolah tersebut, aku berkenalan dengan beberapa teman yang katanya anak hits. Akupun bergabung dengan kelompok mereka dan menamakan diri kami dengan nama yang sok populer “D’A : Dynamic Angels”. Di sekolah ini, aku berhasil menjadi peringkat 1 selama tiga tahun berturut-turut. Akupun heran dengan keberhasilan yang telah aku torehkan. Aku sangsi dengan pencapaianku sendiri karena menurutku aku orang yang biasa-biasa saja. Wali kelasku di kelas VIII pada saat itu menunjukku untuk menjadi wakil dari kelas VIII B untuk mengikuti lomba story telling tingkat kabupaten. “Story telling ? bahasa inggris ? aduh maaf pak saya tidak bisa berbahasa inggris” kataku menolak tawaran dari wali kelasku. Akan tetapi, beliau tetap memaksaku untuk ikut berpartisipasi sehingga kata “IYA” keluar pun dari bibirku.
Mengikuti lomba setingat kabupaten membuatku tak percaya diri. Aku diharuskan berkompetesi dengan siswa utusan sekolah sekabupaten Morowali. Teks untuk story telling kudapatkan dari guru bahasa inggris kesayanganku, Pak Fadli serta properti untuk berdongeng kudapatkan setelah uang tabunganku kukuras habis. Aku biasanya berlatih seorang diri dengan menghadap ke cermin. Cukup sulit untuk menghapal dan memperagakan alur cerita agar sampai di penonton. Dan segala hal yang kulakukan sebelum lomba membuahkan hasil. Aku dinyatakan sebagai pemenang dari lomba story telling dan wajib mewakili Kabupaten Morowali ke tingkat provinsi. Aku sedikit tidak PD ketika namaku diumumkan. Berangkatlah aku ke kota yang terkenal akan teluk dan kaledonya, Palu. SMP Al-Azhar dan Madani adalah dua sekolah terfavorit di Kota Palu dan aku diharuskan melawan mereka. Aku hanya mendapat peringkat harapan 1 pada lomba tingkat provinsi. Padahal menurut juri aku bisa mendapatkan juara. Hanya saja aku dilanda jetlag ketika menuju lokasi pertandingan. Aku mabuk darat setelah taksi yang membawa kami ke lokasi memutar jauh karena tidak tahu lokasi pertandingan.
Romansa percintaan anak muda pun dimulai ketika aku masih SMP. Beberapa lawan jenis menginginkan diriku menjadi pasangannya, namun tak seorangpun yang kuindahkan. Hingga aku bertemu dengannya di penghujung akhir sekolah. Perkenalanku dengannya dimulai ketika aku ikut serta dalam kamping sekabupaten Morowali. Entah apa yang merasukinya hingga ia menjadikan nama mamaku sebagai guyonan. Sepanjang aku mengikuti kamping, sepanjang itupun juga ia menyerangku dengan guyonan yang sama sekali tidak lucu. Hal itu berlanjut ketika kamping berakhir dan kami kembali ke sekolah. Ia yang berada di kelas sebelah mulai rajin berkunjung ke kelasku dan sering menggaguiku. Desas-desus mengalir dengan deras bahwa dia menyukaiku. Aku tak mempercayai kabar tersebut hingga ketika mata pelajaran “Keterampilan”, ia ke kelasku karena wali kelasnya berhalangan hadir. Kebetulan ibu guru yang mengajar keterampilan sedang sibuk beradu dengan siswa lain, sehingga keberadaannya tidak diketahui. Aku dikelilingi oleh empat orang temanku dengan dia berada di samping tempatku duduk. “Niar, saya suka kau. Kau mau jadi pacarku ?” kalimat itu mengalir keluar dari mulutnya. Aku terkejut setengah mati dengan pernyataannya hingga sampai jam sekolah berakhir, aku tak kunjung memberikannya jawaban. Ia dilema dan terus mengikutiku. Bersama dengan keempat temanku, aku digiring ke salah satu rumah warga. Disitulah aku mengatakan bahwa aku bersedia menjadi pacarnya. Kisah-kasih kamipun dimulai saat itu juga dan berakhir tiga bulan kemudian ketika aku mengalami kecelakaan.
Setelah masa SMP berakhir, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke salah satu pesantren di Kota Palu. Namun apalah daya seorang anak, aku tidak medapat restu dari mamaku. Alasan klise “kamu masih kecil, tidak usah pergi jauh-jauh”. Tak kunjung mendapatkan restu, aku memutuskan kabur selama seminggu dari rumah dengan harapan aku diizinkan ke pesantren. Keluarga besarku sudah ikut campur namun mamaku tetap keukeh tidak mengizinkan dan dengan terpaksa aku bersekolah di SMAN 1 Bungku Tengah. Di sekolah ini, aku masih mempertahankan prestasi dengan tetap menjadi peringkat 1 di kelasku. Aku juga aktif di organisasi pramuka dengan menjadi Ketua Dewan Ambalan dan Organisasi Palang Merah Remaja (PMR). Aku juga sempat menjadi bagian dari Dewan Kerja Cabang (DKC) Kabupaten Morowali.
Mata pelajaran yang menjadi favoritku adalah biologi. Ketika kelas X, aku ditunjuk untuk mengikuti OSN (Olimpiade Siswa Nasional) tingkat kabupaten. Mulailah aku belajar dan mempersiapkan diri agar bisa meraih hasil yang maksimal nantinya. Tapi, takdir berkata lain. Pada hari H, aku tidak diikutkan seleksi dengan alasan kuota untuk peserta olimpiade biologi telah cukup sehingga hanya kakak senior yang diikutkan. Tahun berikutnya, aku kembali mengikuti OSN dan keikusertaanku untuk kedua kalinya mengantarkanku menjadi pemenang untuk olimpiade biologi tingkat kabupaten. Aku yang pada saat itu dipanggil oleh kepala sekolah di ruangannya langsung menyalami dan memberikanku selamat. “how can be ?” batinku dalam hati ketika menerima ucapan selamat dari orang-orang di sekitarku. Ketika aku ke provinsi, pada saat itu juga sedang berlangsung ulangan semester yang membuatku harus mengikuti ujian susulan.
Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Kota Daeng, Makassar dengan tujuan bisa menjadi seorang fisioterapi. Namun naas, ketika tes di Politeknik Kemenkes Makassar, aku tertidur dan membuatku kewalahan menyelesaikan ujian tulis. Alhasil ketika pengumuman nama-nama yang berhasil lolos, aku dinyatakan TIDAK LOLOS. Satu-satunya harapanku adalah pengumuman SBMPTN di Universitas Hasanuddin. Aku pada saat itu mengambil IPC dengan pilihan 1) fisioterapi, 2) farmasi, dan 3) arkeologi. Namapun keluar, tetapi bukan jurusan yang kuharapkan. “Selamat anda lulus SBMPTN di Jurusan Arkeologi” begitulah kira-kira kalimat pengumuman oleh panitia pada laman web SMPBTN. Perasaan senang karena berhasil lolos di salah satu perguruan terkenal di Indonesia membuatku senang dan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun arkeologi ? bukan jurusan itu yang kuharapkan. Dan akupun memutuskan untuk menjadi seorang arkeolog. Sampai sekarang …
Saat semester dua, aku memutuskan untuk pindah dari jurusan arkeologi ke jurusan sejarah atau antropologi. Aku tidak tahan dengan prosesi kaderisasi yang ada. Wakil Dekan II fakultas saat itu telah memberi izin dan pihak Jurusan Sejarah sudah menerima. Namun, pihak Jurusan Arkeologi tidak mengizinkan kami untuk pindah. Aku dilema untuk tetap kuliah di arkeologi atau pindah ke jurusan lain. Selama sebulan lamanya aku tidak menginjakkan kaki di kampus dan teman-temanku mulai khawatir terhadapku. Saat pelarianku itulah, aku memutuskan untuk kembali kuliah di arkeologi dan mengikuti seluruh proses kaderisasi yang memakan waktu 1 tahun. Selama sebulan lamanya bersama peserta lainnya, kami harus jogging dengan mengitari kampus, kemudian lapangan sepak bola sebanyak 3 kali, dan terakhir ke kolam renang. Kamipun juga harus menerima materi terkait survival dan cara-cara kerja arkeolog sebelum ke lapangan. Sungguh, aku harus menahan ketidaksukaanku terhadap kegiatan seperti itu dan itu membuatku muak. Namun, segala penderitaan telah berakhir. Ketidaksukaanku pada prosesi pengaderan sudah tak ada. Rasa muak yang membelengguku pada saat itu semata-mata karena aku yang terlalu manja dan tidak mau berorganisasi. Sekarang, setiap kali terdapat prosesi pengaderan di himpunan, aku akan ikut ambil bagian.
Dan kini, aku hampir menyelesaikan kewajibanku sebagai seorang mahasiswa. Tak lama lagi, status “mahasiswa” yang begitu digaungkan akan berubah menjadi “alumni” dan mengantarkanku menuju gerbang dunia baru.
Comments
Post a Comment