Perempuan Penunggu Rembulan
Senja telah menyelesaikan tugas mengantarkan matahari sore ke peraduannya. Sedikit terang olehnya masih tersisa di pelupuk langit. Lambat-laun semakin terkikis dengan terang baru yang tak kalah dengan keindahan terang senja. Kini, sesosok penguasa malam merasuki kehidupan dunia dan mengubahnya menjadi gelap.
Namun, bintang maupun rembulan bersamaan muncul dan menciptakan harmonisasi yang indah. Terang benderang yang dihasilkan oleh keduanya membuat makhluk dunia betah berlama-lama menikmati kebesaran Ilahi. Makhluk nokturnal yang bermalas-malasan sepanjang hari pun keluar dari sarangnya, mencari asupan penghidupan. Walaupun berjuta keindahan terpampang jelas, namun kehidupan malam yang misterius dan mencekam membuat banyak makhluk enggan untuk berinteraksi dan menikmati keindahannya sepanjang malam.
Rembulan bersama sahabat setianya bintang menyinari kehidupan malam dan memberikan penghidupan bagi makhluk-makhluk setia penunggunya. Kadang ketika sedang badmood, rembulan enggan keluar dari peraduannya. Ia malah asik bercengkrama ria dengan bintang dan mengabaikan tugas utamanya sebagai penunggu malam. Jika sudah seperti itu, sekumpulan awan nan pekat menggantikan peran rembulan. Mungkin karena hanya muncul sesaat, awan tersebut saling bersenda gurau dengan memainkan beberapa permainan. Yah, mereka menurunkan ribuan tetes hujan dengan selingan petir yang menggelegar. Tak ayal apa yang mereka lakukan membuat beberapa insani terperosok jauh ke dalam lembah kenikmatan duniawi.
Saat jiwa dan raga yang lain sedang merantau ke pulau kapuk, kusibakkan selimut beranyam dan menggerayang mencari tempat berpijak. Lampu pelita yang menjadi teman setia setiap hari selama sang malam datang, telah padam kehilangan bahan bakar. Mendapatkan kaki berpijak pada tanah tak butuh waktu lama. Rumah yang hanya berukuran 3×3 meter tak cukup luas untuk menahanku. Kaki yang hanya beralaskan tanah, badan yang hanya diselimuti dua helai kain tak menciutkan niatku untuk mencari peenghidupan malam. Berbekal pelita bambu dan anyaman wadah di pundak, ku telusuri jalanan setapak nan berlumpur. Dinginnya malam menusuk tajam sampai ke ubun-ubun. Suara-suara malam seakan berbisik pada pikiran untuk takut dan menyuruh kembali ke rumah. Tak gentar aku dibuatnya, langkah demi langkah telah kulewati seorang diri berteman sepi.
Ribuan langkah telah aku lewati sampai di tempat peraduan malamku setiap harinya. Sebuah danau bertabur sinar gemerlapan bintang dan secercah sinar dari sang rembulan terpampang di kedua sang indra pelihat. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah kumpulan ribuan air danau. Tak butuh waktu lama untuk mengagumi keindahannya, sesegera mungkin kutancapkan pelita bambu dan menurunkan wadah beranyam yang sedari tadi membebani pundak.
Penghuni danau ini akan menampakkan diri ketika malam menjelang. Seakan ingin berteman dengan penghuni malam lainnya, mereka datang dan bersalaman untuk menjalin pertemanan. Mereka selalu melakukan hal yang sama setiap malamnya, walaupun penghianatan selalu menodai tali pertemanan yang ingin mereka jalin. Bagiku, kedatangan mereka adalah anugerah yang tidak boleh terlewatkan barang sedetikpun. Dengan pakaian yang masih melekat, kumasuki wilayah penghuni danau tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dengan tidak tahu malu, kupasang beberapa bubu (alat penangkap ikan) yang telah kusimpan pada tepian danau.
Malam semakin beranjak dan bubu telah terpasang di dalam sarang penghuni danau. Dengan badan yang masih diselimuti oleh air danau, kucari ranting dan batang pohon yang telah layuk dimakan waktu. Kukumpulkan dan kutumpuk menjadi satu untuk membuat api unggun agar sesegera mungkin mengusir dingin yang menguasai badan. Sembari menunggu penghuni danau mendekati umpan yang telah aku buat, kurebahkan diri pada batang pohon yang tergeletak di tepian danau. Dengan beratapkan langit bertabur bintang, kutunggui malam mengakhiri tugas besarnya. Saat seperti inilah, dunia khayal mengetuk pikiranku.
Aku seorang gadis yang baru saja beranjak dewasa. Perawakanku tinggi semampai dengan kulit nan terang seperti langsat muda. Aku tak seperti gadis desa lainnya yang ketika beranjak dewasa akan dipersunting oleh kaum penikmat nafsu. Telah banyak kutolak kedatangan orang-orang yang hendak menggauli diriku ketika kata “TERIMA” kusabdakan keluar. Bukan karena aku memiliki sifat pemilih untuk meraih kesempurnaan hidup. Bukan seperti itu. Tanggung jawab sebagai tetua dalam keluarga mengurungkan niatku untuk melepas keperawananku. Akulah tulang punggung keluarga ini. Kewajiban memberikan penghidupan yang layak untuk keluargaku harus kutunaikan sebelum diri ini bertemu keluarga baru nantinya.
Salah satu pekerjaan yang aku lakukan untuk menghidupi keluargaku adalah menjadi pencari ikan danau. Ikan yang kudapatkan kutangkap secara tradisional tanpa menggunakan alat-alat penangkap yang membahayakan ekosistem kehidupan penghuni danau. Walaupun jumlah tangkapan terbilang tak banyak, tetapi mampu mengenyangkan perut setiap harinya. Juga lebih yang tersisa dari hasil penjualan ikan kusisihkan untuk bekal di suatu hari tatkala dibutuhkan.
Setiap harinya, kuterobos malam tanpa rasa gentar sekalipun menggerogoti. Tak banyak penduduk yang mencari penghidupan pada danau ini. Cerita berantai akan penghuni danau yang menganggu siapapun ketika mendekati danau menghantui setiap penduduk desa. Memalingkan muka untuk menikmati keindahan danau ataupun merendamkan badan setelah seharian beraktivitas, urung dilakukan penduduk desa. Desas-desus akan penghuni danau membuat nuraniku berlari-lari penasaran. “Siapakah si penghuni danau itu ?” batinku dalam hati. Berbekal penerang alami, kulangkahkan kaki menuju danau. Semak belukar menjadi rintangan yang harus dilewati untuk mencapai danau. Duri dari semak belukar membuat luka sayatan pada beberapa bagian tubuh. Keraguan hampir membuatku berbalik ke rumah ketika jalan keluar dari semak belukar yang kuterobos tak kunjung kudapatkan.
Dan semuanya terbuyarkan dengan pemandangan yang berada di depanku. Bibir keluh untuk mengeluarkan sua, hanya kerlipan mata yang mampu berbicara. Lama aku menunggu kedatangan si penunggu danau yang sering dipergunjingkan orang, namun tak sekalipun nampak yang dimaksud. Aku menghabiskan malam sembari menunggui fajar menyingsing. Ikan dan udang berkelebatan di pinggiran danau. Tak tahan dengan tingkah mereka membuat tanganku terasa gatal dan detik kemudian berada di antara mereka. Kutangkap seekor, namun karena tidak lihai memegang ikan, dengan mudahnya ia kabur dari genggamanku. Tiba-tiba gelombang air danau yang sedari tenang berubah menjadi riuh. Sayup-sayup di kejauhan, muncul sesosok menggunakan perahu kayu. Tubuhnya ringsek dimakan zaman, dengan jalan tergopoh-gopoh menuruni perahu tuanya. Ia menghampiriku dengan tangan kirinya memegang pelita dan tangan kanan memegang sebuah senjata yang samar-samar seperti sebuah belati. Nyaliku tak ciut ketika lelaki tua itu hanya berjarak satu meter dariku. Tak ada kata keluar dari mulutnya yang hanya menyisakan beberapa alat penguyah, selain tatapan tajam menghujam jantungku.
Tak lama, ia pun bersua menanyakan maksud kedatangaku di danau tersebut. Tampak dari perawakan dan penampilannya, ia bukan orang jahat seperti orang yang kebanyakan cerita. Kuceritakan maksud kedatanganku dengan pertanyaan membubuti setiap jawaban yang kusampaikan kepadanya. Dari perkenalanku dengannya, tahulah aku bahwa ternyata kakek tua tersebut adalah si penghuni danau yang orang perbincangkan selama ini. Dulunya, danau ini adalah sumber kehidupan bagi penduduk desaku. Banyak penduduk desa yang menggantungkan hidupnya dari danau ini. Namun, peristiwa besar kemudian terjadi. Penduduk desa yang semakin rakus akan hasil yang didapatkan dari danau tersebut mencoba mencari peruntungan dengan cara kotor. Mereka menebarkan racun dan menggunakan bahan peledak yang berakibat rusaknya ekosistem danau. Kakek tua tersebut juga dulunya adalah penduduk desaku, namun kemudian mengabdikan dirinya pada danau tersebut. Ia tergugah hatinya untuk menghentikan perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh penduduk desa, di samping juga untuk menyelamatkan ekosistem kehidupan danau.
Untuk memuluskan aksinya, si kakek akan berlayar ke tengah-tengah danau dan kemudian memuntahkan api dari mulutnya yang telah dilumuri minyak tanah. Hingga api tersebut berubah layaknya sebuah bola api jika nampak dari kejauhan. Bola api yang muncul di tengah danau menjadi buah bibir penduduk desa keesokan harinya. Beberapa orang percaya mulai membuat cerita bahwa bola api tersebut adalah kutukan bagi penduduk desa karena telah merusak ekosistem danau. Lambat laun penduduk desa mulai tidak lagi melakukan perburuan ikan secara ilegal. Tak pelak, sikap ketakutan membuat mereka mengalihkan pekerjaan menjadi petani jamur yang notabenenya memang tumbuh subur di desa kami. Waktu berganti dan kini tak seorangpun penduduk desa yang kembali ke danau. Cerita angin tentang penghuni danau membuat seorangpun enggan ke danau, hingga diriku kembali mengulang cerita menjadi orang yang pertama kali menginjakkan kaki ke danau setelah peristiwa itu.
Ekosistem kehidupan penghuni danau telah normal seperti sediakala. Benih-benih ikan kembali mengisi kehidupan danau, terumbu karang beranak-pinak menjadikannya tempat bermain bagi ikan dan penghuni danau lainnya. Sebelum kakek tua meninggalkan diriku yang masih termangu akan ceritanya, ia berkata “Danau ini adalah milik Tuhan yang dititipkan kepada penduduk desa ini. Danau ini adalah milik kita bersama. Maka, pergunakanlah dengan baik demi kemaslahatan bersama”.
Pesan kakek tua tersebut menyadarkanku kembali dari alam khayal. Di ufuk barat sana, sinar kekuningan-kuningan sudah mulai nampak pertanda sang fajar tak lama lagi muncul. Sang rembulan malam telah menyelesaikan tugasnya. Kulangkahkan kaki memasuki dinginnya air danau di pagi hari. Kudapati bubuku telah disesaki oleh penghuni danau. Kupindahkan segera ke dalam wadah beranyamku. “Tangkapan hari ini lumayan banyak”, bisikku dalam hati sembari mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Fajar pun menyingsing menerangi makhluk hidup yang masih terbuai dalam alam mimpi. Menjadi pertanda bahwa hari telah berganti. Menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia seperti roda kehidupan yang setiap hari selalu berputar. Jutaan titik-titik embun membasahi bumi dan memberikan kesegaran. Gas-gas baru bertaburan ke udara memberikan efek sejuk bagi penghirupnya. Bebunyian dari binatang-binatang saling bersahut-sahutan sebagai terompet alam yang membangunkan manusia dari sifat malasnya. Ah, pagi hari yang penuh dengan sejuta kenikmatan. Terima kasih Tuhan untuk nikmat tiada tara yang selalu kau berikan tanpa berharapkan pamrih. Dan aku “si gadis penunggu rembulan” kembali pulang membawa ladang kehidupan bagi keluargaku.
Comments
Post a Comment