Negeri Para Jenderal
Seorang perempuan berkacamata terlihat duduk beradu dengan komputer ketika matahari pagi mulai tampak di ufuk timur. Sinar keemasannya memasuki ruangan yang hanya berukuran 5×5 meter dari balik jendela kayu yang mulai rapuh. Tombol demi tombol keyboard komputer ditekannya
dan sesekali ia berhenti untuk memikirkan ide yang akan ditulisnya. Sesekali ia menyeruput kopi yang berada pada meja dari akar kayu bahar tempat komputer tersebut berada. Nampak juga tiga gelas kopi di mana dua di antaranya kini menyisakan ampas. Pada bagian layar komputer terdapat stiker yang bertulisan “Barang Inventaris Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum”. Selain itu, lembaran demi lembaran kertas berserakan pada meja dan juga lantai BEM. Tak jauh dari tempat perempuan tersebut berada, terdapat beberapa spanduk yang ditumpuk rapi. Di samping spanduk yang ditumpuk, banyak papan-papan dari triplek yang ditulis menggunakan cat dan piloks. Sesekali perempuan tersebut mengusap-usap matanya agar tidak terpejam. Areal matanya mulai terlihat menghitam pertanda ia terjaga sepanjang malam. Ia melepas kacamatanya, membersihkannya, dan memasangnya. Ia kembali menyeruput kopi dan disandarkannya kepalanya pada kursi kayu yang mulai rapuh dimakan waktu. Ia memejamkan mata sesaat dan kemudian menarik napas dalam-dalam. Tak lama berselang, seseorang memasuki ruangan tersebut dan memanggil namanya. “Kania .. Kania …”
Kania, itulah nama perempuan berkacamata tersebut. Dia merupakan mahasiswa hukum di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Palu. Ayahnya adalah mantan duta besar (dubes) yang wilayah kerjanya berpusat di Afrika. Sejak kecil, Kania lahir dan tinggal selama 10 tahun di Zimbabwe, Afrika Selatan. Wilayah tersebut merupakan daerah yang dikuasai oleh rezim militer di mana kebebesan sipil dibatasi. Namun, karena peperangan yang semakin berlarut pada beberapa tahun silam membuat Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menarik semua warga Indonesia kembali termasuk ayah Kania. Di Indonesia, ayah Kania bekerja sebagai deputi kementerian luar negeri yang menangani masalah hubungan diplomasi antara Indonesia dengan negara-negara luar. Walaupun karir ayahnya terbilang gemilang, Kania tidak berniat untuk mengikuti jejak ayahnya. Berbekal pengalamannya selama tinggal di daerah konflik, ia memutuskan mengambil jurusan hukum ketika kuliah. Selain itu, ia menjadi salah seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia yang tertindas oleh rezim militer. Kania melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh rezim militer Zimbabwe hampir sama dengan apa yang terjadi di tanah airnya sendiri. Kania memang tidak lahir dan besar di Indonesia, namun semangat nasionalisme dan rasa cinta akan tanah airnya tetap membara dalam sanubarinya.
Kania kembali ke Indonesia setelah 17 tahun tinggal dan menetap di luar negeri. Kepulangannya ke Indonesia meninggalkan serpihan demi serpihan kenangan yang menyesakkan dada. Ia tak kuasa melihat berita-berita di media cetak maupun tulis yang memperlihatkan wilayah Zimbabwe yang hampir rata dengan tanah karena konflik yang sedang bergejolak. Walaupun tempat tinggalnya di Zimbabwe terbilang jauh dari daerah pusat konflik, namun ia tetap terlihat tidak tenang. Suatu hari, ia bersama dengan adiknya yang berumur 10 tahun sedang duduk santai di depan televisi sambil memakan kaledo buatan ibunya. Tak lama, tayangan breaking news dari salah satu TV swasta membuat Kania tersentak kaget. Bulawayo, tempat tinggal Kania di Zimbabwe kini masuk dalam salah satu wilayah sasaran perang oleh rezim militer di sana.
Bulawayo adalah sebuah wilayah di Utara Zimbabwe yang berjarak ±50 km dari ibukota Zimbabwe, Harare. Daerah ini merupakan kota terbesar kedua setelah Harare dan merupakan rumah bagi komunitas berbagai etnis. Berbagai macam komunitas etnis terbentuk di wilayah yang pernah menjadi daerah kekuasaan inggris selama 30 tahun. Di sana, Kania memiliki seorang sahabat bernama Joa, seorang penduduk Suku Shona yang merupakan suku mayoritas di Zimbabwe. Joa setahun lebih tua dibandingkan Kania, namun mereka berada pada kelas yang sama di salah satu sekolah internasional di sana. Perkenalan keduanya dimulai saat Kania mengalami aksi pencopetan ketika akan mengunjungi air terjun Victoria bersama temannya. Kania berteriak memintai pertolongan di sekelilingnya. Joa yang saat itu berada tak jauh dari lokasi kejadian langsung mengejar pelaku setelah mendengar Kania berteriak minta tolong. Joa merupakan salah satu atlet karate di Bulawayo, sehingga tak butuh waktu lama untuknya melumpuhkan pelaku pencopetan. Kania merasa lega karena tasnya dapat kembali padanya. Terlebih lagi orang yang menolongnya adalah teman sekelasnya yang terkenal cool dan merupakan bintang sekolah. Sejak saat itulah, Kania dan Joa menjadi dekat sebagai sepasang sahabat beda negara. Perbedaan itu indah dan perbedaan itu akan menyatukan bukan malah menjauhkan. Walaupun keduanya berasal dari latar belakang yang tidak sama baik agama, etnis, bahkan negara, namun tak menyulutkan niat mereka untuk bersahabat. Perbedaan tersebut mereka gunakan untuk saling dekat dan mempelajari sejarah dan budaya satu sama lain. Ketika konflik terjadi, Joa sedang mengikuti tes masuk militer di Harare. Mereka tak bisa bertemu satu sama lain, bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan kalimat perpisahan. Kesedihan mendalam Kania rasakan ketika pesawat mulai membumbung tinggi, meninggalkan Zimbabwe, Joa, dan segala kisah-kasih selama Kania di negara yang terkenal akan wisata safarinya tersebut.
Berita dalam TV tersebut memperlihatkan wilayah Bulawayo yang dibombardir oleh tank-tank militer. Gas air mata ditembakkan pada massa yang sedang berunjuk rasa menolak Presiden Dominik Rodrigues yang akan kembali memimpin Zimbabwe. Massa tersebut tidak menginginkan Dominik untuk menjadi orang nomor satu di Zimbabwe lagi. Pemerintahannya telah berjalan selama 40 tahun namun tak membuat Zimbabwe terlepas dari inflasi dan krisis ekonomi. Zimbabwe masih menjadi salah satu dari 10 negara termiskin di dunia, walaupun potensi tambang emas dan bijih besi negara tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Massa yang menolak terangkatnya Dominik kemudian melancarkan aksi penolakan dengan menduduki beberapa pusat pemerintahan. Namun, apa yang mereka lakukan dapat diatasi dengan mudah setelah Dominik memerintahkan militer untuk turun tangan mengatasi massa. Adapun mereka yang dianggap menjadi dalang aksi penolakan dipenjarakan langsung tanpa melalui proses pengadilan.
Cheryl, adik Kania langsung menjerit histeris melihat tayangan di TV tersebut. “Kak, tempat kita kak, tempat kita kak” ucap Cheryl sambil menarik lengan baju kakaknya. “lihat kak, tempat kita udah gak ada lagi”, tambah Cheryl sambil menunjuk tayangan yang ada pada TV dengan air mata yang semakin sulit untuk dibendung. “Iya dek, kita doakan semoga Joa dan orang-orang di sana pada selamat yah dek”, ucap Kania menenangkan Cheryl yang tangisannya semakin menjadi-jadi. Kania sendiri tak kuasa membendung air matanya menyaksikan tempat kelahirannya sekarang rata dengan tanah. “Biadap” bisik Kania dalam hati setelah tayangan breaking news tersebut selesai. Setelah tangisan Cheryl mulai mereda, Kania mencoba menghubungi Joa melalui media sosial skype untuk mengetahui keadaan sahabatnya tersebut. “Dek, tolong ambilkan Hp kakak di atas meja belajar” perintah Delia kepada adiknya. “untuk apa kak ?” tanya Cheryl sambil menyeka air mata dengan bajunya. “Kakak mau hubungi Joa dek, mau mastiin keadaannya di sana”, jawab Kania sambil memerintahkan adeknya untuk segera pergi dengan isyarat tangan. “Kak, nih” ucap Cheryl sambil menyodorkan Hp milik Kania setelah beberapa saat lalu pergi mengambil Hp di kamar Kania. “Makasih yah adik kesayangannya kakak” jawab Kania sambil merangkul adeknya.
Mereka berdua kemudian menuju sebuah halaman yang berada di belakang dapur. Halaman tersebut berupa kolam renang dengan beberapa kursi rotan berjejer rapi. Selain itu, juga terdapat dua buah kolam yang berisikan ikan napoloen. Kania dan adiknya kemudian duduk pada sebuah kursi bambu yang dinaungi langsung oleh pohon beringin. “cepetan kak, lama banget. Cheryl pengen bicara ama Kak Joa” desak Cheryl kepada Kania. “Iya, sabar nah dek” jawab Kania menenangkan adiknya. Kania mengambil Hpnya dan langsung mencari contact person Joa. Panggilan pertama tak diindahkan oleh Joa, begitupun panggilan kedua dan ketiga. Tak ada jawaban, Kania kemudian mengirim short message. “Joa, how’s ur there ?. Please, text me as soon as possible. I’m getting worried about u after seeing the news on tv”. Pesan terkirim, namun tak ada balasan dari Joa. “Gak ada balasan nih dek, padahal pesannya udah terkirim” ucap Kania kepada Cheryl dengan tatapan mata yang mulai berair. Kania menghela napas panjang dan sesaat kemudian mengajak Cheryl masuk kembali ke dalam rumah. Kania tak tahu lagi bagaimana cara menghubungi Joa selain menunggu pesannya dibalas. Ia hanya bisa menunggu, menunggu sebuah ketidakpastian yang tak berujung.
***
Hujan deras diselingi petir mewarnai perjalanan Kania ketika akan berangkat kampus hari ini. Ia langsung mengeluarkan payung bergambar minnions dan kemudian berjalan menuju halte yang berada beberapa meter dari rumahnya. Dari balik jendela rumah, Cheryl dan Mba Mina memperhatikan Kania dengan tatapan bingung. “Mba, tumben Kak Kania nolak diantar sama Pak Wanto”, tanya Cheryl kepada Mba Mina. “Oalah non, mba Mina juga gak tahu, yang jelas Mba Kania sepertinya lagi ada masalah ” jawab Mba Mina mencoba memberikan penjelasan kepada Cheryl. “Oh gitu yah” ungkap Cheryl sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya dan kemudian kembali menatap jalanan yang semakin digerus oleh hujan yang seakan tidak ingin berhenti.
Hujan semakin deras memuntahkan jutaan air ke bumi. Hembusan angin sanggup membuat Kania menggigil kedinginan walaupun ia telah memakai sweater. Di sana-sini, saluran air meluap dikarenakan sampah yang dibuang pada saluran menyumbat aliran air. Sampah-sampah tersebut terbawa hingga ke badan jalan dan membuat beberapa pengguna jalanan harus menutup hidung ketika melintas melewatinya. Kania “si gadis perfeksionis dan anti kotor” langsung naik pitam melihat pemandangan yang kini tersaji di depannya. Ia tidak menutup hidung seperti lazimnya pengguna jalan lainnya lakukan. Ia malah menggerutu dalam hati dan beberapa saat kemudian mengambil handphone pada saku sweaternya dan mengambil foto sampah yang berserakan tersebut. Volume air yang meluap telah sampai pada lutut orang dewasa ketika Kania telah berada di halte bus. Tak butuh waktu lama menunggu, bus yang menuju kampusnya kemudian tiba. Sebelum memasuki bus, Kania mengambil headset dari tas punggungnya dan memasangnya pada kedua telinganya. Bus saat itu tak sesak karena hanya diisi oleh beberapa orang. Kania memilih duduk pada kursi bagian belakang dekat jendela. Ia langsung mengarahkan pandangannya pada jendela yang memperlihatkan langsung kehidupan luar ketika hujan beraksi memperlihatkan kekuatannya.
Saat Kania sedang asik dengan kesendiriannya, seseorang dengan pakaian serba hitam langsung duduk di sampingnya. Kania hanya menoleh sebentar dan kemudian kembali menatap kehidupan luar dari balik jendela bus. Walaupun Kania merasa risih dengan kehadiran orang tersebut, namun ia tak mau ambil pusing dan bersikap acuh tak acuh terhadapnya. Orang tersebut mendehem namun Kania tak mengindahkannya. “Siapa sih ni orang, SKSD banget. Masih banyak kursi yang kosong tapi kenapa duduknya di samping gue ?” gerutu Kania dalam hati. Kania kemudian memperkeras volume musik agar suara orang tersebut tak lagi didengarnya. Hujan semakin deras, membuat Kania ikut terhanyut menikmati setiap tetes-tetes hujan dari balik jendela dengan menengadahkan tangannya ke luar. Saat sedang asik dengan kesendiriannya, orang yang ada di sampingnya juga ikut menengadahkan tangannya ke luar jendela. Merasa risih dengan kelakuan orang tak dikenalnya tersebut, Kania langsung berpaling dan mengeluarkan kekesalan yang sedari tadi ditahannya. “Lo apa-apaan sih, ganggu aja. Gue gak suka sama apa yang lo barusan lakuin. Itu sama saja pelecehan seksual” amuk Kania dengan raut muka kemerah-merahan karena kesal. “Maap, map. Gue penasaran aja sama yang lo lakuin tadi. Kayaknya seru”, jawab pria tersebut membela diri yang kemudian diikuti dengan tawanya. “minggir, gue mau pindah tempat duduk”. Kania beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tas punggungnya yang berada pada kakinya. Cowok tersebut memegang tangan Kania “gak usah, lo di sini aja. Nanti gue yang pindah”. “Ih, apaan sih lo megang-megang gue. Dasar mesum” cerutu Kania dengan tatapan sinis. “maap, maap” jawab pria tersebut dan sesaat kemudian beranjak pergi ke kursi di belakang Kania.
Kania menghela napas panjang sampai pria tersebut mendengar desahan nafas Kania. “Astagfirullah, gue gak boleh marah-marah. Ingat Kania, lo gak boleh bawa sifat lo yang suka marah-marah sama orang yang lo gak suka kelakuannya “, batin Kania dalam hati menenangkan perasaannya yang sempat dibakar api kekesalan.
Bus melaju kencang menerobos hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Kania masih terbuai dalam dunia pelamunannya dan tak memedulikan sekitarnya termasuk si lelaki misterius yang menghujaninya dengan tumpukan kertas yang digulung. Tak berapa lama berselang, sebuah patung dengan figur tangan kanan memegang tombak dan tangan kiri memegang parang mulai terlihat, menandakan ia seorang pembesar yang dihormati. Di bawah patung itu, tertulis nama “Panglima Besar Tadulako”. Melewati patung tersebut, tulisan Universitas Tadulako terpampang pada gerbang yang berbentuk tanduk kerbau dan diukir dengan ragam hias khas Sulawesi Tengah. Berjarak 10 meter dari gerbang tersebut, rumah-rumah adat dari suku-suku yang mendiami Sulawesi Tengah berjejer menampilkan keeksotisannya, sehingga tak ayal pemandangan tersebut bagaikan tampilan museum berjalan.
Bus berhenti di sebuah halte dekat auditorium kampus. Kania langsung bergegas keluar dan sedikit berdesak-desakan dengan mahasiswa lain yang akan menaiki bus dan menghindari hujan. Kania tiba dalam ruangan kelas saat ………….
BERSAMBUNG
Comments
Post a Comment