Kutemukan Kamu di Tanah Rantau
Find arms that will hold you at your weakest times, eyes that will see your beauty at your ugliest times, and a heart that will love you at your worst[/caption]
“Perhatian-perhatian, panggilan terakhir bagi penumpang pesawat udara Batik Air dengan nomor penerbangan KT1306 tujuan Surabaya dipersilahkan segera naik ke pesawat melalui pintu nomor 6”
Suara peringatan pihak bandara terhadap para penumpang untuk segera masuk ke dalam pesawat menggema di ruang tunggu tempat Nay
berada. Sudah lima menit lamanya panggilan berlalu, namun Nay tetap tak beranjak. Pandangannya masih tertuju pada handphone bercasing luffy – tokoh anime kesukaannya pada serial One Piece. Ia hanya duduk diam dengan pandangan kosong menatap Hp miliknya. Tak lama berselang, sebuah pesan masuk dan membuat Nay berkeingat dingin. Takut membuka pesan tersebut, ia lantas menyingkirkan Hpnya sejauh mungkin dari kursi tempatnya berada. Diliriknya Hp tersebut, namun tangannya seakan beku untuk menyentuhnya. Dalam kebingungannya, suara peringatan dari pihak bandara kembali terdengar.
“Your attention please, this is the finall call for Water Air passengers on flight number KT1306, leaving for Surabaya. Please board the aircraft immediately through gate number 6”
Nay mengambil Hpnya, diliriknya pesan tersebut sekali lagi. Ia menarik napas dalam-dalam dan langsung menekan tombol “read”. Ia sedikit menutup matanya karena takut dengan isi pesan tersebut.
“Ayah ikhlaskan kamu pergi, tapi setelah urusanmu selesai, kamu langsung balik dan menikah dengan Arief”.
Nay sedikit memicingkan matanya dan menggeleng tak percaya dengan isi pesan tersebut. Mulutnya menganga lebar. Ia baca sekali lagi pesan dari ayahnya. “Iya, benar kok, gak ada yang salah“ bisik Nay dalam hati. “Ah ……….. akhirnya aku tidak jadi menikah” teriak Nay histeris sambil mencium layar Hpnya berulang kali. Ia kemudian mengambil tas punggungnya, memasang earphone, dan memutar salah satu playlist lagu kesukaannya “Beautiful in White” yang dinyanyikan oleh Shane Filan, personil Westlife. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekelilingnya yang dibuat bingung karena aksi berteriaknya. Ia berlalu pergi menuju pos pemeriksaan terakhir tiket, walaupun sebagian orang berbisik membicarakan dirinya yang dianggap sedikit kurang waras. Namun, ia sama sekali tidak perduli dan memilih menyapa setiap orang yang ditemuinya dengan senyum sumringah yang tergambar jelas di wajahnya.
Nay adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ia baru saja mendapat gelar sarjana dari salah satu perguruan tinggi di Kota Daeng, Makassar. Baru dua hari merasakan euphoria kelululusan, ia memutuskan untuk merantau ke Jawa tanpa memberi tahu niatnya terlebih dahulu kepada orang tuanya. Niat merantau baru ia sampaikan ketika ia telah berada di bandara melalui sebuah pesan singkat.
“Nay, Nay belum siap untuk menikah. Nay pamit merantau ke Jawa”
Hati Nay benar-benar hancur ketika tahu ia akan dinikahkan seminggu setelah kelulusannya. Ayahnya telah menjodohkannya dengan Arief, sepupu Nay dan telah membuat acara lamaran tanpa memberi tahu Nay akan hal tersebut. Nay baru tahu akan dijodohkan sewaktu mengikuti majelis taklim di masjid, seorang ibu setengah baya, tetangganya menghampirinya dan sedikit berbisik.
“Duh Nak Nay cantik banget. Sayang, sebentar lagi udah mau nikah”
“Nikah ? Nay belum kepikiran menikah Bu”
“Lah, kan udah lamaran dua minggu lalu”
Syok dengan pernyataan tersebut membuat Nay tidak fokus mendengar penjelasan Pak Ustadz. Ucapan si ibu tersebut selalu terngiang dalam kepalanya hingga sebelum majelis berakhir, ia pamit undur diri. Tiba di rumah, ia mendapati ibunya seorang diri duduk di halaman belakang rumah, sedang ayahnya keluar tak tahu entah kemana. Nay takut mengganggu ketenangan ibunya, tetapi ia membulatkan tekadnya untuk menanyakan kebenaran akan berita pernikahannya.
“Bu” Panggil Nay halus sembari ikut duduk di samping ibunya
“Ada apa nak ?” tanya ibunya
“Nay bakalan dinikahin yah sama Bang Arief ? tanya Nay dengan tatapan serius
“Maafin bu Nak, keputusan ayahmu tidak bisa ditentang”
“Tapi Bang Arief itu sepupu Nay, abang Nay, kakak Nay juga”
Jawab Nay dengan tangisan sambil berlari pergi menuju kamarnya, meluapkan segala kekesalannya seorang diri dengan tangisan. Ia mengutuk dirinya karena harus terlahir dari keluarga yang mementingkan martabat dibandingkan kebahagiaan anaknya. Sebagai anak pertama, ia tak pernah menyangka akan dijodohkan dengan Arief yang merupakan sepupu pertamanya. Bagaimana mungkin dia harus menikah dengan keluarganya sendiri. Ia akan menuruti perjodohan yang diatur oleh keluarganya asal bukan dengan keluarganya sendiri. Namun, semuanya telah terjadi, tak akan ada yang berubah karena ayahnya adalah tipe orang keras yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Tak ada yang bisa dilakukan Nay selain meluapkan kesedihannya melalui tangisan sampai kemudian tangisannya menghantarkannya ke alam mimpi.
Pukul 04.00 WIB, Nay baru tersadar dari peraduannya ke pulau kapuk. Dilihatnya sekeliling kamarnya dan kemudian beranjak menuju lemari pakaiannya. Diambilnya beberapa helai pakaian, buku, perlengkapan make-up dan mandinya, kemudian dimasukkannya ke dalam koper. Tak lupa ia membawa laptop, cokelat chacha (snackfavoritnya) yang disimpannya di dalam tas punggungnya. Setelah itu, Nay menunaikan sholat subuh dan sebelum fajar menyingsing, ia keluar dari rumah membawa koper dan tas punggungnya. Nay kabur dari rumah …
Tiba di sebuah perempatan jalan, Nay duduk pada sebuah halte bus. Ia mengenakan earphone dan mendengarkan lagu “Fight Song” yang dipopulerkan oleh Rachel Platten.
Like a small boat, on the ocean
Sending big waves, into motion
Like how a single word, can make a heart open
I might only have one match
But I can make an explossion
And all those things I didn’t say
Wrecking balls inside my brain
I’ll scream them loud tonight
Can your hear my fight song
This’s my fight song, Take back my life song
Prove I’am allright song, My power’s turned on
Starting right now I’ll be strong, I’ll play my fight song
And I don’t really care if no body else, believes
‘cause I’ve still got a lot of fight left in me
Diputarnya lagu tersebut berulang kali. Tak ada yang dilakukannya selain berdiam diri menatap jalan raya yang masih lengang. Ia menarik napas berkali-kali dan kemudian mengetik sebuah pesan singkat. Ia mengetik namun kemudian dihapusnya. Ia mengetik lagi kemudian dihapusnya kembali. Hal tersebut ia lakukan berulang kali sampai sejam lamanya barulah ia mengirim pesan tersebut kepada seseorang. Setelah mengirim pesan, ia menelpon sebuah taksi untuk mengantarnya ke bandara. Nay ingin ke luar Sulawesi.
Pesawat yang akan membawa Nay ke Surabaya akhirnya lepas landas. Namun, bukan Surabaya yang menjadi tujuan utama Nay melainkan Kampung Iggris, Pare. Awalnya Nay tidak berkeinginan ke Pare, namun karena rencana pernikahannya yang tinggal menghitung hari, ia pun memutuskan melarikan diri ke Pare.
“Jika Nay tidak melanjutkan pendidikan jenjang S2, lebih baik Nay menikah dengan laki-laki pilihan ayah”
Kata ayahnya setelah acara syukuran kelulusan wisuda Nay selesai. Saat itu, Nay tidak terlalu menggubris perkataan ayahnya karena sibuk membereskan perlatan makan yang kotor. Selain itu, Nay berpikir jika ayahnya tak mungkin melakukan perjodohan yang hanya dilakukan oleh kebanyakan orang Bugis yang menjunjung tinggi adatnya, sedang ayahnya hidup di kota yang terbilang menjunjung tinggi modernitas. Pare adalah tempat pelarian terbaik. Ayahnya akan berpikir jika Nay benar-benar serius ingin melanjutkan kuliah, karena pelamar S2 harus memiliki sertifikat kecakapan bahasa inggris seperti IELTS dan TOEFL. Namun Nay sama sekali tidak berminat untuk melanjutkan kuliah, karena ia lebih memilih bekerja dibandingkan berkutat kembali dengan bangku perkuliahan yang tugasnya seabrek. Tiba di Bandara Juanda Surabaya, Nay dijemput oleh pihak travel yang telah Nay hubungi sesaat sebelum pesawat take off. Di bus, Nay bersebalahan duduk dengan seorang lelaki yang menutup mukanya dengan sebuah buff. Tak ingin mengganggu lelaki yang sedang tidur tersebut, Nay perlahan duduk dan menyimpan barang bawaannya tanpa menciptakan suara. Bus perlahan mulai jalan. Nay mengintip dari balik jendela. Senyumnya merekah karena ia bisa bebas dari cengkraman ayahnya yang mengharuskannya hidup seperti roman Siti Nurbaya. Nay tertidur. Perjalanan menuju Pare ditempuh selama empat jam lamanya. Nay baru tersadar ketika lelaki yang duduk di sampingnya memanggilnya pelan. “Mba, udah sampai”. “Ohya, makasih” jawab Nay sembari merapikan selimut yang menyelimutinya. Nay mengambil barang bawaannya, namun karena masih setengah sadar ia hampir menjatuhkannya. “Sini aku bantuin mba”, kata si lelaki berkacamata tersebut. Nay tidak sempat menanyakan namanya karena ia sibuk membalas pesan dari ibunya yang khawatir karena Nay pergi tanpa pamit. Nay berhenti di depan spanduk bertuliskan ‘TEST English School’ bersama dengan koper pink kesayangannya. Nay tak sendiri, ia bersama belasan orang yang kebetulan se-bus dengannya, duduk menunggu pihak TEST English School memanggil mereka. Setelah perlengkapan administrasi selesai, Nay diantarkan menuju dormnya, tempat dia menghabiskan waktu selama beberapa bulan untuk belajar bahasa inggris.
Air mata Nay tumpah ruah ketika ibunya menelpon menanyakan keadaannya.
“Nay baik-baik saja di sini … Nay minta maaf bu udah bikin ibu dan bapak khawatir … Nay cuman empat bulan di sini … Doain Nay yah Bu … Ibu juga di sana baik-baik yah”
Kalimat tersebut menandai akhir dari percakapan telepon antara Nay dan ibunya. Di dorm, ia bertemu dengan Lintang yang berasal dari Sumbawa. Tak lama berselang, dua orang penghuni kamar lainnya memasuki kamar. Mereka adalah Yesi dan Filry yang berasal dari Karawang, Jawab Barat. Jadilah mereka berempat tidur dalam kamar yang hanya berukuran 3 X 3 meter. Untuk mengisi kekosongan karena kelas baru akan dimulai keesokan harinya, Nay membaca sebuah buku berjudul ‘Asmara di Atas Haram’ yang mengisahkan tentang dua insani, hafidz dan hafidzah yang memutuskan menikah di depan kabah. Mereka berdua bertemu pada sebuah event perlombaan Musabaqal Tilawatil Qur’an di sebuah kota, namun tidak pernah mengungkapkan rasa. Mereka hanya saling mengagumi dalam diam, hingga ketika mereka berdua menjadi juara dalam event tersebut, barulah mereka berkata jujur. Mereka diberangkatkan menuju Mekah, kota suci umat islam sebagai hadiah atas kemenangan yang telah mereka raih. Di depan kabah, Arini dilamar oleh Akhyar untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya, istri dari anak-anaknya nanti. “Aku menerimamu” jawab Arini dengan suara terisak, tak kuasa menahan keharuan karena dilamar di depan kabah, kota suci. Sama seperti harapan dari Akhyar agar cinta mereka berdua kelak suci seperti sucinya kota Mekah, tak cacat, dan abadi hingga ajal menjemput.
“Apakah aku akan mendapatkan kisah cinta yang sama seperti mereka ?” batin Nay dalam hati, menutup lembaran terakhir dari buku tersebut.
BERSAMBUNG
Comments
Post a Comment