Kebaperan dalam Sebuah Buku

Kania sedang sibuk menulis pesanan dari orang-orang yang datang berkunjung ke bazar yang diadakan oleh organisasi daerahnya, ketika Hpnya berdering dan membuyarkan konsentrasinya. Pesan demi pesan masuk ke Hp dengan casing berlatar superhore “Hulk”, namun hanya sebuah pesan yang menarik pehatiannya untuk meninggalkan pekerjaan yang ia sedang lakoni. Pesan tersebut ia buka dan mengabaikan pesan lainnya. “Aku di depan”, bunyi pesan tersebut. Kania langsung beranjak pergi keluar dan meminta temannya untuk mengambil alih pekerjaannya. Tak butuh waktu lama untuk mendapati si pengirim pesan tersebut. Dari kejauhan sesosok dengan rambut yang perlahan mulai menjuntai ke bawah, memakai topi khas tahun 80-an dan kaos oblong bertuliskan “Saya Indonesia, Saya Pancasila” tersenyum pada Kania. Ia tak seorang diri melainkan bersama teman-temannya. Kania tersenyum balik dan langsung menghampiri mereka ramah “Maaf nah, buku yang kamu maksud dipinjam sama Riko”. “Oh, padahal aku lagi butuh buku itu”, si pengirim pesan menimpali pernyataan Kania dengan tatapan menunduk. “Nanti aku mintakan sama Riko yah”, ucap Kania dengan tatapan penuh penyesalan. Tak lama seseorang berseru dari kejauhan “Bagas, masuk” dan seruan tersebut menyudahi pertemuan Kania dengannya.


Kania kembali ke tempat bazar dengan muka yang sedikit memerah. “Ih, Riko jahat banget sih, padahal aku udah ngasih tahu dia”, gerutu Kania dalam hati. Kania begitu kesal dengan kelakuan sahabatnya Riko yang meminjam salah satu bukunya tanpa sepengetahuannya. Ia baru menyadari kehilangan sebuah buku ketika Bagas mengiriminya pesan. “Kania, aku mau minjam buku kamu yang judulnya Sejarah Manusia yang Terlupakan”. Kania yang saat itu sedang assik membaca buku “Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan” langsung mencari buku yang dimaksud karena Bagas sedang dalam perjalanan ke rumahnya untuk meminjam buku tersebut. Lama Kania mencari, namun buku yang dicarinya tak kunjung didapatkan. Ia mulai gelisah karena Bagas tak lama lagi akan tiba di rumahnya. Tiba-tiba Hpnya berdering, namun Kania tak menggubrisnya. Ia malah sibuk mencari buku, dicarinya di meja belajar, di bawah kasur, di ruang tamu, dan pendopo tempatnya menghabiskan waktu kala sore menjemput, namun buku tersebut tak juga ia temukan. Ketika kembali ke kamarnya, Hpnya masih tetap berdering. “Ada apa Ko ?”, Kania mengangkat telfon. “Sorry, aku lupa kamu ngasih tahu kamu. Kemarin aku ngambil buku kamu Sejarah Dunia yang Terlupakan, aku ada tugas dari dosen terkait itu.” Jawab Riko memberikan penjelasan dengan terkekeuh-kekeuh sedang Kania menahan sabar karena geram dengan kelakuan Riko yang tanpa pamit mengambil bukunya. “Ih, jadi kamu yang ngambil buku aku ? kok gak bilang-bilang sih ? kamu bawa bukunya ke tempat bazar malam ini yah” ujar Kania mengakhiri perbincangannya dengan Riko.


Sesaat kemudian, terdengar suara pintu rumah diketuk oleh seseorang “Assalamu’alaikum” sapa suara orang tersebut. “Ah itu pasti Bagas” batin Kania dalam hati “Wa’alaikumsalam, iya tunggu” jawab Kania dengan sedikit berteriak. Sebelum keluar kamar, Kania sedikit berkaca untuk memastikan dirinya dalam kondisi yang tidak acak-acakan. Kania membuka pintu dan didapatinya Bagas sedang duduk membaca koran yang tersedia pada meja di teras rumah. “Bagas, aku minta maaf, buku yang kamu maksud ternyata dipinjam sama Riko. Kita ketemu di bazar aja, nanti aku kasih bukunya ke kamu” jelas Kania kepada Bagas dengan ujung jari-jarinya digigit karena takut Bagas akan marah padanya. “Oh gitu, okelah, aku pamit kalau gitu”, seru Bagas sambil berlalu pergi meninggalkan Kania yang masih termangu melihat sikap Bagas. “Unbelievable, dasar cowok super cuek”. Kania menggerutu dalam hati, merasa harga dirinya ternodai karena sikap Bagas yang terlalu dingin kepadanya. Kania berharap ia akan mengobrol lama dengan Bagas dan mendiskusikan beberapa hal yang menurutnya penting untuk didiskusikan, namun Bagas malah meninggalkannya. Sekarang ia mengerti mengapa banyak perempuan di luar sana yang mengantri mendapatkan cinta dari Bagas, sikap dingin dan cueknya terhadap perempuan membuatnya menjadi sosok yang misterius. “Ih apanya yang misterius, gak keren, cowok kurangajar mah dia itu” bisik Kania dalam hati sambil berlalu pergi ke kamarnya dengan kejengkelan masih menguasai pikirannya. Dan begitulah bagaimana Kania dan Bagas kemudian bertemu di bazaar pada malam harinya.


Kania dan Bagas berada di lembaga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sama tempat mereka menuntut ilmu, yaitu Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM). Kebetulan Bagas Azrial Marzuki adalah ketua umum sedang Kania Prawirdayanti Putri sebagai anggota. Namun Kania hanya sesekali mengikuti pertemuan UKPM disebabkan oleh kesibukan lain yang mengharuskannya melepaskan UKPM. Padahal Kania memiliki passion untuk menjadi seorang editor, namun sayang tugas akhir menuntutnya untuk menyelesaikan kewajibannya secepatnya.


Hubungan keduanya pada awalnya biasa saja, sebatas hubungan antara sesama anggota lembaga. Mereka tidak dekat, dan bahkan hanya sesekali bertegur sapa jika kebetulan bertemu atau ada urusan lembaga. Namun hubungan mereka perlahan mulai dekat ketika Bagas dan Kania terlibat adu argumen pada acara diskusi yang diadakan oleh himpunan Kania. Saat itu Kania bertindak sebagai fasilitator dengan tema kajian tentang sejarah peradaban manusia. Kania menjelaskan banyak hal tentang kesalahpahaman manusia akan teori Darwin, evolusi manusia, dan fosil manusia purba di Indonesia yang merupakan jawaban atas teori Darwin selama ini. Namun, semua penjelasan tersebut dibantah oleh Bagas dengan mengajukan pertanyaan tentang bagaimana menghubungkan antara penjelasan tentang manusia yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan manusia purba sebagaimana yang dipelajari oleh Kania di jurusannya. Kania yang tidak memiliki referensi terkait itu hanya mampu terdiam dan ia merasa telah dipermalukan oleh Bagas karena tak mampu menjawab pertanyaannya. Setelah diskusi berakhir, Kania berlalu pergi menuju parkiran tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia merasa telah hilang muka dan hanya mampu berpaling kala seseorang menegurnya.


Hujan deras menyambut Kania ketika ia baru saja mengeluarkan kunci motor dari tasnya. “Ah … kok hujan sih ?” gerutu Kania dengan kesal. Ia berniat kembali ke himpunannya, namun karena jarak parkiran dan himpunan cukup jauh, Kaniapun mengurungkan niatnya. Ia duduk mendekap tubuhnya pada bangku yang biasa digunakan oleh tukang parkir memantau motor para mahasiswa yang datang dan pergi dari kampus. Malam semakin larut namun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Kania mulai putus asa, ia berniat menerobos hujan namun karena membawa laptop dan tasnya tidak terlindungi oleh rainbag, niat nekatnya tak ia lakukan. Tak lama berselang, Kania merasa seseorang sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Bulu kuduk Kania mulai merinding, ia ingin menoleh namun dirinya dikuasai oleh rasa takut sehingga ia hanya mampu terduduk diam pada tempatnya. Tiba-tiba seseorang memegang bahunya dan Kania yang sedari tadi ketakutan langsung berteriak histeris. Kania menutup muka dengan kedua telapak tangannya, ia menangis tersedu-sedu karena ketakutan. Bagas yang tak tahu akan perbuatan yang ia lakukan mampu membuat Kania menangis langsung berusaha menenangkannya. “Heii Kania, jangan nangis. Aku Bagas” pernyataan Bagas membuat Kania menghentikan tangisnya dan sesaat kemudian langsung memarahi Bagas dengan nada suara sedikit berteriak “Kamu apa-apaan sih, kelakuan kamu tuh hampir bikin jantung aku copot tahu”. “Maaf, maaf Kania. Aku gak sengaja”, jawab Bagas membela diri. “Maaf kamu gak bakalan ngembaliin ketenangan aku tahu” tegas Kania yang kemudian berlalu pergi menuju motornya dan meninggalkan Bagas seorang diri.


Bagas mengikuti Kania sampai di parkiran tempat motor Kania berada, padahal motornya diparkir di tempat lain. Merasa Bagas mengikutinya, Kania langsung berbalik “Kamu ngapain ngikutin aku sih ?” maki Kania dengan nada sedikit merendah. Ia masih menghormati Bagas sebagai orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya. “Aku mau minta maaf sama kamu Kania tentang kejadian pas dikusi tadi. Aku gak bermaksud mojokin kamu. Aku benar-benar minta maaf” jawab Bagas dengan raut muka penuh penyesalan. Kania merasa bersalah pada Bagas atas sikap judesnya. Ia tahu itu bukan salah Bagas karena ia seharusnya ia lebih bisa menguasai materi dan tidak kewalahan jika ada pertanyaan yang diajukan seperti yang Bagas lakukan pada saat diskusi sebelumnya. “Iya, gak apa-apa. Aku minta maaf juga udah bersikap judes sama kamu”, jawab Kania dengan suara lirih. “Ohya, sebagai permintaan maafku aku mau ngasih sesuatu sama kamu. Ini” sambil menyodorkan sebuah buku pada Kania. Kania yang tak percaya dengan apa yang dilakukan Bagas hanya menerima buku tersebut tanpa bertanya alasan Bagas memberikannya buku. Begitupun saat Bagas pamit untuk pulang, Kania hanya mengangguk kecil. Dan itulah bagaimana awal mula Bagas dan Kania mulai dekat dan bahkan sesekali bertemu untuk mendiskusikan sesuatu. Kecintaan pada jendela dunia “buku” mampu mendekatkan mereka satu sama lain dan membuat orang-orang di sekeliling mereka menganggap jika mereka memiliki hubungan spesial. Walaupun demikian, tetap saja sikap Bagas yang cuek dan menghindari tatapan wanita tidak berubah dan itu membuat Kania sering jengkel karena merasa diabaikan sebagai seorang wanita.


Merasa tidak enakan sama Bagas, Kaniapun memutuskan meninggalkan bazar sementara waktu untuk mengambil buku di rumah Fikar. Berangkat seorang diri menuju rumah Riko yang terbilang cukup jauh dengan kondisi jalan macet karena ada pohon tumbang, tak menyulutkan niat Kania. Hampir sejam lamanya waktu yang ia buuthkan untuk mendapatkan buku yang dimaksud. Setelah mendapatkan buku tersebut, ia langsung menemui Bagas yang saat itu sedang melakukan konsolidasi bersama beberapa petinggi organda. “Ini bukunya” Kania menyerahkan buku kepada Bagas dan sesaat kemudian minta diri karena takut mengganggu Bagas yang memiliki agenda penting.


Hubungan mereka semakin dekat dari waktu ke waktu, yang awalnya dari sebuah buku kemudian berlanjut ke mode chattingan. Mereka membicarakan banyak hal mulai dari passion, mendiskusikan buku yang mereka baca, saling bertukar ilmu dari jurusan mereka masing-masing, dan bahkan tentang kriteria pasangan masing-masing. Kedekatan yang tidak disengaja itu ternyata mampu menumbuhkan benih-benih cinta pada Kania. Ia begitu terpesona akan pengetahuan Bagas, kewibawaannya, terlebih lagi Bagas memang memiliki rupa yang rupawan. Kania merasa nyaman dengan lelaki tersebut hingga ia betah berlama-lama berada di dekatnya. Orang-orang yang melihat tingkah laku Kania merasa heran dengan perubahan Kania karena selama ini Kania terkenal begitu cuek dengan lelaki yang ingin mendekatinya. Namun hal tersebut tak berlaku pada Bagas, Kania begitu ramah padanya.


Kania baru saja menyelesaikan perbaikan skripsinya pada sepertiga malam. Kepenatan menguasai tubuhnya karena seharian berkutat dengan buku dan dan beberapa jurnal terkait skripsinya. Dosen pembimbingnya yang terkenal killer dan perfect meminta Kania mengumpulkan skripsinya keesokan harinya karena ia akan ke luar negeri dan tidak memiliki banyak waktu untuk Kania bimbingan. Alhasil, Kania harus begadang semalaman agar skripsinya cepat di ACC walaupun matanya tak mampu lagi terjaga. Sesaat sebelum kesadarannya hilang, bayang dari Bagas menguasa pikiran Kania. Kania memejamkan mata dan sebisa mungkin membuang jauh-jauh bayangan Bagas dari pikirannya, namun tetap saja bayangan Bagas terus muncul dan bahkan membuat kesadaran Kania kembali pulih. Kania terduduk diam pada kasurnya sambil bertopang dagu memikirkan cara agar bayangan Bagas tak lagi mengganggu tidurnya. Kania menyapu sekeliling kamarnya dan matanya tertuju pada sebuah buku – Asmara di Atas Haram, pemberian dari Bagas beberapa bulan silam saat hujan sedang asik membasuh bumi. Kania mengambil buku tersebut dan membolak-balik isinya karena kekosongan pikirannya hanya dikuasai oleh bayangan Bagas. Namun Kania tersentak kaget melihat beberapa bait tulisan pada halaman belakang buku tersebut. Beberapa baris kalimat yang berisi pernyataan tentang kekaguman si pemberi buku pada seorang perempuan dengan inisial K. “Itu kan huruf awal nama aku”, bisik Kania dalam hati meyakinkan dirinya bahwa itu benar-benar untuknya. Dan begitu kagetnya Kania melihat nama si penulis. “Dari sahabat hatimu, Bagas”, begitulah kalimat penutup dari coretan-coretan kecil pada buku tersebut. “Bagas kagum sama aku ? kagum berarti suka kan ?” Kania bertanya-tanya dalam hati seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Ia begitu senang karena tulisan tersebut ditujukan untuk dirinya dan juga karena si penulis adalah cowok yang selama ini dikaguminya, Bagas.


Kania berjalan seorang diri memasuki perpustakaan dengan mendengarkan musik melalui earphonenya agar tak mengganggu penghuni perpus lainnya. Dari kejauhan seseorang memanggilnya, namun Kania tak mengindahkannya karena pada telinganya sedang terpasang earphone. Bagas mendekati Kania dan kemudian berjalan beriringan dengannya. Kehadiran Bagas yang tak disadari olehnya membuat Kania kikuk dan salah tingkah, apalagi mengingat bait per bait yang tertulis dalam buku tersebut. “Hai Bagas” sapa Kania dengan eyes smilenya. Bagas membalas sapa Kania dengan mengucapkan kata yang sama. “Aku pergi dulu yah, aku ada janji sama dosen pembimbing” Kania beranjak pergi meninggalkan Bagas padahal belum lama ia berada di perpustakaan. Kania berbohong kepada Bagas jika ia memiliki janji, karena berada di dekat Bagas hanya membuat hati Kania berdebar-debar tidak karuan. Sikap canggung Kania membuat Bagas terheran-heran. Ia tak mengerti dengan sikap Kania yang tiba-tiba salah tingkah. Namun Bagas tak ingin berprasangka buruk terhadapnya dan memilih menyibukkan diri dengan beberapa tumpukan buku untuk menyelesaikan tugas deadline dari dosennya.


Suatu sore saat matahari sore akan kembali ke peraduannya meninggalkan sinar petangnya, Kania terlihat asik membaca buku Asmara di Atas Haram di sebuah bangku seorang diri. Di depannya, danau kampus mengalir dengan tenang dengan pepohonan melambai tertiup angin. Di sana-sini terlihat orang menyibukkan diri dengan aktivitas sorenya. Ada yang sedang melakukan senam bercampur poco-poco dengan irama musik dangdut sebagai backsoundnya, beberapa remaja yang jogging dan sesekali berhenti untuk berselfi ria, ada yang memasang hammock di tepian danau, dan ada juga yang hanya sekedar chit-chat sambil menikmati segarnya air danau. Kania tenggelam dunianya, membaca kembali buku pemberian Bagas. Bagas yang baru saja selesai sholat ashar di masjid kampus yang berlokasi dekat dengan danau kampus melihat Kania seorang diri kejauhan. Bagas mendekati Kania. akan tetapi, Kania yang tenggelam dalam dunianya tak menyadari kehadiran Bagas. Ia barusan tersadar ketika Bagas telah duduk di sampingnya dan memperhatikan Kania dengan bersandar pada bangku. Kania ingin berkelit bahwa ia harus pulang karena harus mengantar mamanya arisan, namun niat itu ia urungkan. Sekeras apapun ia berusaha menghindari Bagas, takdir pertemuan di antara mereka tak akan pernah hilang karena status keduanya telah menjadi teman. Yang Kania harus lakukan sekarang adalah menanyakan apakah buku tersebut benar-benar ditujukan untuknya. “Itu kan buku pemberian aku. Udah kamu baca ?” Tanya Bagas memulai percakapan. “Iya”, jawab Kania singkat tanpa menghilangkan sifat canggungnya. “Bukunya bagus gak ?” kembali Bagas bertanya dengan menatap langsung kedua mata Kania. mendapati Bagas menatapnya, muka Kania langsung memerah, jantungnya berdegup kencang, dan cepat-cepat Kania langsung memalingkan mukanya. “Hm, iya bukunya bagus. Kisah cinta antara Yasser dan Istiqomah sangat inspiratif. Mereka menahan rasa untuk tidak berpacaran sampai mereka disahkan di mata agama. Dan pada akhirnya, mereka saling menyatakan perasaaan di Tanah Haram ketika keduanya telah halal satu samu sama lain” cerita Kania menjelaskan isi buku tersebut. “Kalau kamu suka sama seseorang, kamu mendam perasaan kamu atau ungkapin langsung ke orang yang kamu suka ?” Tanya Bagas sekali lagi. Kali ini mata Bagas tertuju pada danau yang ada di depannya. Pertanyaan Bagas membuat Kania hampir kehabisan napas karena debaran jantungnya semakin berdegup kencang. “Apa mungkin Bagas mau nembak aku ?” Tanya Kania dalam hati. Kania begitu senang hingga tak sadar ia tersenyum malu-malu seorang diri. Bagas menoleh dan mendapati Kania tersenyum tanpa alasan “Kania, jawab. Menurut kamu gimana ?” Bagas menjitak kepala Kania karena kesal pertanyaannya tak digubris oleh Kania. “Yah, harus diungkapin dong. Menahan rasa itu hanya akan membuat kamu tersakiti karena cinta itu butuh jawaban” jelas Kania kepada Bagas dengan mengisyaratkan telunjuknya bahwa itu penting untuk dilakukan. Bagas terdiam dan meresapi penjelasan Kania dengan sedikit anggukan. Beberapa saat kemudian “Aku menyukai seorang perempuan” bisik Bagas pada Kania. “Siapa ?” Tanya Kania yang tidak bisa menyembunyikan ekspressi bahagianya, berharap bahwa perempuan yang dimaksud Bagas adalah dirinya. “Kamila” jawab Bagas singkat. “Buku Asmara di Atas Haram itu sebenarnya ingin aku berikan untuknya. Bait per bait yang ada pada halaman belakang buku aku tulis khusus untuknya. Namun sayang, ternyata ia telah dilamar oleh lelaki lain. Jadinya, yah aku kasih ke kamu.“ Bagas mengakhiri penjelasannya dan memilih meratapi kisah cintanya yang tiada berujung. Namun Kania ? hatinya hancur berkeping-keping, penjelasan Bagas meluluhlantakkan perasaannya, begitu sakit hingga ia hampir terisak karena ternyata perasaan Bagas bukan untuknya, melainkan untuk Kamila – perempuan berhijab dengan lesung pipit. Sekarang Kania mengerti mengapa selama ini Bagas tak pernah memperlakukannya layaknya orang yang spesial di hatinya. Ternyata perasaan Kania kepada Bagas bertepuk sebelah tangan. Kania terbawa perasaan pada buku yang diberikan oleh Bagas, merasa bahwa buku tersebut khusus diberikan untuknya, merasa bahwa Bagas juga memiliki perasaan yang sama dengan Kania. Dan pada akhirnya yang ada hanya kebaperan dalam sebuah buku pemberian.

Comments