Kamulah Sahabat Hatiku


9520a4d259a0664d1c136dc3583c593d.png_wh860 Source : google[/caption]
Dering alarm Hp membangunkanku dari perantauan ke pulau kapuk. Dengan mata yang sedikit terbuka, kuraih alarm dan langsung mematikannya. Kembali kutarik selimut, mencoba untuk melanjutkan tidur yang tertunda
. Kututup mata sejenak tetapi pikiran menerawang antah berantah. Dengan rasa malas yang masih menguasai tubuh, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk buang air. Setelah selesai, aku yang bermaksud kembali berlayar ke pulau kapuk terhenyak dengan suara ketukan pintu. Aku tak bersuara, hanya diam yang kulakukan. Kurapatkan telinga menimbang-nimbang siapakah gerangan yang bertamu di waktu subuh. Tak lama berselang terdengar suara berat seseorang yang tidak asing. Ketakutan yang semula menguasai tubuh seketika hilang mendengar suara tersebut. Aku beranjak ke luar membuka pintu, dan kudapati beberapa sosok yang terpaku duduk di pelataran rumah. “ah kalian bikin kaget saja, masuklah” tegurku kepada mereka.


Aku masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian mengikuti mereka. Yah, mereka menjemputku untuk jogging. Seakan menjadi tradisi, aku yang tak suka berolahraga harus mengikuti mereka yang suka bermandikan keringat di pagi hari. Entah hanya karena aku seorang perempuan yang terlihat cantik di mata mereka, hingga mereka selalu berlaku baik terhadapku. Atau mungkin karena mereka tidak pernah mendapatkan teman perempuan sepertiku. Entahlah, yang jelas kami sudah bersahabat selama lima tahun lamanya dengan aku seorang “perempuan tercantik” yang mereka miliki.

Aku “Rania”, seorang gadis innocent, pembenci sayuran, dan penyuka hujan. Aku memiliki lima orang sahabat dan kesemuanya lelaki, membuatku menjadi perempuan tercantik di antara mereka. Achan, Vikran, N, AL, dan William adalah sahabat yang selama ini menemaniku dalam suka dan duka. Bersama mereka membuatku tak memikirkan menjalin hubungan spesial dengan lelaki lain. Bagiku menghabiskan waktu dengan sahabatku adalah yang terpenting dibandingkan dengan lawan jenis yang belum tentu menjadi imamku. Tak ada sekalipun hasrat untuk memadu kasih layaknya anak muda zaman sekarang, hingga suatu hari aku bertemu dengannya

Dia bernama Araf. Lelaki berperawakan tinggi, bergigi ginsul, dan berpenampilan layaknya lelaki soleh. Perkenalanku dengannya dimulai dari keikutsertaanku dalam kajian islam yang dibawakan oleh salah satu dosen agama. Aku yang tak pernah sekalipun mengikuti kajian islam pun ikut berdesak-desakan dengan yang lain untuk mendengarkan kajian islam dengan tema “Perempuan Penghuni Surga”. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa seorang perempuan harus menutupi auratnya. Araf yang saat itu berposisi sebagai asisten dosen juga ikut ambil bagian menjelaskan tentang hakikat seorang perempuan. Aku mengikuti kajian hanya karena dosen agamaku terkenal killer dan tak segan memberi nilai error pada mahasiswanya yang  jarang mengikuti kajian keislaman. Takut hal tersebut terjadi, maka aku putuskan untuk mengikuti kajian tersebut. Namun, bukan kajian yang menjadi fokusku melainkan sosok Araf. Ketampanan dan pengetahuan keislamannya mampu membuat jantungku berdegup kencang. Apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama ? pertanyaan itu terus mengusik pikiranku hingga aku memutuskan untuk mengenal Araf lebih dekat.

Tanpa rasa malu, kudekati Araf setelah kajian berakhir. Dia yang tak menyadari kehadiranku tersentak kaget melihatku sudah berada di belakangnya. Aku berbicara kepadanya dengan maksud untuk memperdalam ilmu agama. Ia menundukkan kepala menghindari tatapanku. Aku merasa sedikit terintimidasi dengan sikapnya tersebut. Rasa kesal menjalariku dengan sikap cueknya tersebut. Tak pernah sekalipun seseorang berlaku seperti itu terhadapku. Aku mengingat kembali akan maksudku untuk memperdalam ilmu agama dan kutepis semua prasangka buruk yang menguasai pikiranku. “Rif, aku ingin memperdalam ilmu agama. Kamu bisa membantuku ?” tanyaku setengah berbisik. “Iya, nanti aku kenalin kamu sama akhwat” jawab Araf. Kamipun saling bertukar nomor kontak agar mempermudah komunikasi. Tak lama terdengar suara seseorang memanggil Araf dari kejauhan “Rif, ayo … udah telat nih”. Dan panggilan tersebut menandai akhir pertemuanku dengan Araf di hari itu.

Bayangan Araf terus menghantui pikiranku di kemudian hari. Sikap cueknya terhadapku membuatku merasa ingin mengetahui lebih dekat tentang kepribadiannya. Terlebih lagi tidak pernah aku mendapatkan penolakan dari lelaki. Pikiranku kacau akan kehadiran Araf, si sosok misterius. Belakangan aku mengetahui bahwa ternyata Araf berlaku cuek terhadap semua perempuan termasuk diriku. Kebenaran yang kudapatkan tersebut membuatku semakin penasaran dengan sosok Araf.

Aku sedang tenggelam dalam dunia khayal ketika seseorang mengagetkanku dengan menepuk bahuku. Aku yang sedari tadi duduk di tepian kolam renang hampir terperosok masuk ke dalam kolam. Rasa kesal karena dikageti berhenti ketika aku berbalik. Kudapati sahabat-sahabatku dengan muka tak bersalah sedang duduk di kursi kolam. Aku tersenyum kecut dan tidak butuh waktu lama untuk kemudian bergabung dengan mereka. Aku ceritakan keluh yang sedang kualami akhir-akhir ini. Mereka mendengarkan ceritaku dengan tenang hingga ketika aku mengungkapkan rasa ketertarikanku pada Araf, suara tertawa membuat suasana yang awalnya hening menjadi kacau. Mereka tertawa terpingkal-pingkal hingga aku merasa kesal. Tiba-tiba AL berkata “Terima kasih Tuhan, akhirnya Rania tidak jadi perawan tua”. Acchan yang paling pendiam di antara kami berenam juga ikut-ikutan bersua. “Kamu harus berubah jika ingin dekat dengannya. Yah, orang yang baik untuk yang baik pula”.

Aku terdiam dan mulai memasuki dunia khayal, sedang mereka asyik bercengkrama ria. Mulailah aku melihat diriku yang sekarang. Perempuan yang banyak memiliki teman laki-laki, tidak menutup aurat, dan sering lalai dalam melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Aku memang memiliki banyak teman laki-laki, tetapi hubungan kami hanya sebatas teman dan tidak lebih. Aurat ? aku sedikit demi sedikit mulai menutup aurat walaupun tidak setiap hari memakai khimar. Nantilah, ketika hati telah mantap baru aku memakai pakaian syari. Melaksanakan sholat lima waktu tidak setiap hari aku lakukan karena rasa malas selalu datang menghantui, bahkan biasanya dalam sehari aku tidak menunaikan satupun ibadah wajib. Aku teringat perkataan ustadz dalam kajian islam sebelumnya bahwa sebaik-baik perempuan di dunia adalah yang menutup auratnya. Namun melihat keadaanku sekarang, apakah aku salah satu penghuni surga ? batinku dalam hati.

Memang benar keimanan seseorang itu naik-turun dan seseorang harus selalu berpegang teguh pada janji yang telah ia buat ketika memutuskan untuk berhijrah. Setiap tiga minggu sekali, aku mengikuti majelis yang diadakan oleh Aliansi Mahasiswa Pencinta Musholah (AMPM) kampusku. Akupun mulai memakai pakaian syari sehingga sahabat-sahabatku nampak tak percaya dengan apa yang kulakukan. Walaupun demikian, mereka tetap mendukung bahkan merekapun mulai belajar agama dengan bantuan Araf. Seperti kata pepatah “Masa depanmu ditentukan oleh orang-orang di sekitar dan juga lingkunganmu”. Perubahan yang sedikit demi sedikit kulakukan memberikan dampak pada kelima sahabatku untuk mulai berbenah diri. Hal itu tak lain dari apa yang pernah kukatakan kepada mereka “bagaimana menjadi seorang imam dalam keluarga, sholat kalianpun masih bolong-bolong”.

Keikutsertaanku dalam mengikuti kajian keislaman membuka mata batinku. Niatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik pada awalnya kulakukan demi Araf. Namun kemudian niat itu aku buang jauh-jauh seiring dengan pemahaman keislaman yang mulai bertambah. Hati dan perubahan ini kulakukan hanya untuk Rabbku, Tuhan Yang Maha Esa. Lambat laun, sosok Araf mulai menghilang dari kehidupanku. Sekarang, aku mulai memiliki banyak teman perempuan dan mulai membatasi pergaulanku dengan lawan jenis. Walaupun demikian, aku masih sering hang-out dengan sahabat-sahabatku tetapi aku menyertakan teman perempuan yang lain. Merekapun tak mengizikanku pergi jika hanya aku seorang yang perempuan seperti yang sebelumnya kami lakukan.

Perubahanku yang sekarang ternyata mampu memdekatkan Araf padaku. Melalui sahabatku, kuketahui bahwa ia ingin ta’arufan denganku. Yah, ketika aku mengejar cinta Araf, Tuhan menjauhkannya dariku. Namun, ketika aku mengejar cinta-Nya, Araf malah mendekat padaku. Sungguh, hanya kuasa Tuhanlah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Aku mengiyakan apa yang menjadi maksud dan tujuan Araf terhadapku. Bersama dengan itu, aku juga menerima sebuah surat dari Araf. “Kuno banget, di zaman serba modern seperti ini, kok masih ada yang nulis surat”, bisikku dalam hati. Aku langsung membuka amplop surat tersebut dengan disaksikan oleh sahabat-sahabatku. Kalimat demi kalimat kubaca …

                  Buatmu Sahabat hati, Rania Prawirdayanti Putri

                  Satu pesanku untukmu,

                  Jadilah wanita mutiara yang memancarkan sinarnya dari balik lautan biru,

                  Jadikanlah “hijabmu” sebagai lautan biru itu,

                  Hingga orang-orang tak mudah menggapai sinarmu yang mempesona

                 Jadilah wanita idaman surga yang selalu menerangi kalbu

                                                                               Dari sahabatmu,

                                                                               Muhammad Arafian Al’atas 

“Jika aku adalah sahabat hatimu, maka kamu adalah sahabat hatiku juga” bisikku dalam hati menyudahi surat tersebut.

Comments