Cintaku Bersemi di 5 Juni

[caption id="attachment_225" align="aligncenter" width="312"]kisspng-t-shirt-cartoon-drawing-couple-lovely-cartoon-couple-5a81ae6f593979.4682353715184482393655 Source : google[/caption]

Pagi yang cerah, matahari tersenyum menyambut pagiku hari ini. Sinarnya menghangatkanku, menusuk-nusuk badanku yang masih terbujur kaku di kasur. Ku coba untuk memejamkan mata sesaat, bersyukur atas nikmat Tuhan karena masih memberikan nafas kehidupan dan mengizinkanku menjalani aktivitas bersama orang-orang terkasih.Kubersihkan dan kurapikan kasurku dengan segera kemudian kubuka jendela sambil menghirup udara pagi, udara bersih tanpa polusi. Kudengarkan kicauan burung-burung yang merdu, bersiul-siul menyambut pagi yang indah ini. Kulihat ayam berkokok membangunkan manusia yang masih bermalas-malasan di kasur. Bunga-bungapun bermekaran, warna-warni. “Tuhan, terima kasih atas nikmatmu hari ini” bisikku dalam hati sambil tersenyum. Alangkah indahnya pagiku hari ini. Kunikmati setiap momen yang ada dan berdoa agar Tuhan selalu mengizinkanku menikmati pagi hari seperti ini. Kulihat jam telah menunjukkan 07.00 WITA, itu artinya 1 jam lagi menghadapi momok menakutkan bagi sebagian mahasiswa ‘kuliah’. Akupun langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap ke kampus.


***


Aku Dwi Sumaiyyah Makmur, seorang mahasiswi semester 6 dari jurusan yang notabenenya “mayoritas laki-laki”. Ya, aku kuliah di jurusan arkeologi yang mengharuskanku bergelut dengan tinggalan dan artefak manusia kuno. Bagi sebagian orang itu salah satu pekerjaan yang membosankan karena bekerja dengan barang yang tidak bisa bicara, tapi bagiku its really amazing. Karena arkeologilah, aku jadi mengerti bahwa kebudaayaan dan peradaban di dunia masing-masing mempunyai ciri khas, unik, yang diwariskan dari para pendahulunya. Selain kuliah, aku juga bergelut di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang lingkungan hidup. Aku memang menyukai lingkungan, karena sejatinya manusia hidup dari apa yang lingkungan berikan. Interaksi yang terjalin antara lingkungan dan makhluk hidup memberikan masing-masing pihak keuntungan. Perkenalanku dengan LSM tersebut terjadi ketika aku masih berusia 12 tahun saaat masih duduk di bangku SMP. Kala itu, aku melihat sebuah tayangan TV swasta yang memperlihatkan bencana banjir bandang di Kota Aceh yang menewaskan ratusan orang. Banjir bandang tersebut terjadi karena pepohonan disekitar hulu sungai sedikit dan tidak mampu menahan jutaan kubik air ketika hujan. Alhasil, terjadilah bencana banjir tersebut. Kulihat jenazah orang-orang tidak bersalah terbujur kaku berserakan di jalan. Mereka dikumpulkan dalam satu tempat dan orang-orang tak bersalah kelimpungan mencari keluarga mereka, bersabar dan berharap keluarga mereka masih hidup dan selamat dari amukan banjir tersebut. Orang-orang datang membantu dan menyelamatkan mereka. Para anggota Tim SAR berusaha mengevakuasi mereka yang masih terjebak banjir. Bencana tersebut terjadi karena manusia yang serakah akan ekonomis semata, menebang pohon sana-sini, membiarkan hutan gundul tanpa melakukan reboisasi, menjual kepada pihak luar tanpa memikirkan dampak buruk dari aktivitas tersebut. Aku juga seringkali muak terhadap aktivitas ilegal logging, yang hanya memanfaatkan nilai ekonomis dari pohon-pohon tersebut. Aku sangat membenci tindakan tersebut dan kemudian kuputuskan untuk masuk disebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Aku hanya ingin kejadian banjir bandang tersebut tidak terulang lagi dan berharap agar masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan demi kelangsungan generasi penerus di masa depan.


***


Hari ini aku diminta oleh Bang Aswar agar sehabis kuliah langsung ke sekret LSM untuk membicarakan sesuatu yang penting. Usia kami memang terpaut 20-an tahun, tapi aku memanggilnya Bang agar komunikasi yang terjalin antara aku dengannya bisa seperti adik dan kakak. Beliau adalah sosok yang sangat inspiratif bagiku, karena beliaulah pendiri dari LSM tempatku bernaung dan juga beliau adalah mahasiswa pertama di zamannya yang pertama kali menerima Pengharagaan Kalpataru dari Presien Soeharto kala itu. Setelah perkuliahan selesai, aku langsung ke sekret tetapi di sepanjang perjalanan pikiranku melayang akan hal penting apa yang dikatakan Bang Aswar kepadaku. Karena melamun di sepanjang perjalanan, aku tak sadar terperosok ke dalam sebuah selokan depan belokan ke sekret LSM. Aku malu setengah mati dan berharap agar tak ada seorangpun yang melihatku, mumpung pada saat itu kondisi sekitar jalan sepi dan tak terlihat aktivitas warga. Aku meraih tasku yang juga basah bercampur dengan selokan, kucium badanku dan aku terkejut dengan baunya. “Ahh bau tai” bisikku kecil sambil menahan muntah. Tetapi ketika hendak berdiri, kulihat sebuah uluran tangan mengadah kepadaku. Tangan tak bertuan tanpa tahu nama pemiliknya. “Mba, sini saya bantu naik” katanya menghampiriku sambil tersenyum manis. Kulihat deretan gigi-gigi berjejer rapi dan lesung pipi membuatku tak mampu berkata-kata. Aku tak mampu melihat wajahnya secara jelas karena waktu itu matahari menerpa mukanya “Siapakah pria misterius ini ?” bisikku dalam hati. Ku buang jauh-jauh pemikiranku dan tanpa basa-basi aku berdiri dan langsung meraih tangannya. Aku melirik jam tangannku yang menunjukkan pukul 12.30 WITA. “Ah sial aku terlambat lagi” kataku sambil berlalu pergi meninggalkannya tetapi baru sekitar 5 meter, aku berbalik dan berkata “Hey kamu pria misterius, terima kasih atas bantuannya. Tolong jangan katakan ini pada siapapun jika kita bertemu nantinya”. Aku tersenyum kepadanya dan berharap agar bertemu dengannya suatu saat nanti.


Ketika tiba di sekret, Bang Aswar kaget melihatku yang basah berlumuran kotoran selokan. Aku mengira Bang Aswar akan kasihan ketika melihatku seperti itu, tetapi dugaanku salah. Ia malah tertawa terbahak-bahak dan menyuruhku membersihkan diri secepantnya karena tak tahan dengan bau badanku. Aku kesal ketika diperlakukanku seperti itu tapi aku tahu Bang Aswar begitu agar membuatku happy dan melupakan kejadian itu. Ku simpan tasku dan bergegas menuju kamar mandi untuk menghilangkan kotoran yang hampir membuatku pingsan ketika mencium baunya. Setelah selesai membersihkan diri dan memakai wewangian, aku menghampiri Bang Aswar yang saat itu tengah terlibat pembicaraan serius dengan seseorang. Ketika melihat sosok tersebut, aku merasa tak asing karena pernah betemu dengannya. Kuputar otakku dan berpikir keras mencari jawaban di mana tepatnya aku melihat lelaki tersebut. “Oh God, lelaki itu, bukankah dia tadi yang menolongku ?” tanyaku dalam hati sambil menepuk jidatku. Bang Aswar yang pada saat itu melihatku telah selesai mandi langsung memanggilku “ Ayya, ke sini sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu”. Lelaki tersebut menoleh kepadaku dengan pandangan datar dengan ekspresi kaget karena pernah bertemu denganku sebelumnya. Aku kemudian duduk di samping Bang Aswar tanpa berkata sepatah katapun. Kuperhatikan lelaki tersebut dan berpikir kenapa dia bisa di sini. “Ayya kenalkan ini Isbahuddin, dia dari jurusan teknik lingkungan dan sekampus denganmu” kata Bang Aswar mengenalkanku pada lelaki tersebut. “Nak Isba, kenalkan ini Ayya, ketua pengembangan LSM ini”. Tambah Bang Aswar. Karena sudah diperkenalkan oleh Bang Aswar itu berarti kami tak perlu memperkenalkan diri lagi. Dia menyalamiku dan akupun membalas tanpa ada kata-kata yan terluar dari bibirku. Kemudian kami terlibat dalam pembicaaran serius tentang proyek penananam ribuan pohon bakau di daerah pesisir Kota Makassar yang memang kondisinya memprihatinkan, karena sisa sedikit pohon bakau yang menahan abrasi pantai dan bisa mengancam air laut semakin meluas. Selain itu, hal itu dilakukan untuk memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 05 Juni. Itu berarti, kami masih punya waktu 1 bulan untuk mempersiapkan segalanya mulai dari tema kegiatan, jenis pohon bakau yang akan ditanam, dan jenis kegiatan lainnya yang masih berhubungan dengan lingkungan.


***


Namanya Isbahuddin Pawalarukka, seorang mahasiswa, aktivis lingkungan hidup dan kuliah di kampus yang sama denganku. Walaupun masih berstatus sebagai mahasiswa tetapi dia telah lama berkecimpung di dunia aktivis lingkungan hidup, mewakili lingkungan hidup yang tak mampu berbicara dan menyuarakan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Aku kagum padanya akan semangat yang dia miliki untuk menjaga lingkungan. Karena sisa waktu yang cukup singkat, kami kemudian mengatur jadwal pertemuan untuk membicarakan semua persiapan yang dibutuhkan agar kegiatannya dapat berjalan dengan lancar, dan kami sepakat akan bertemu 3 kali seminggu setelah pulang kuliah. Kami tak hanya berdua, kami juga dibantu oleh Bang Aswar dan beberapa teman-teman Isba dari jurusan teknik lingkungan serta beberapa dari LSMku. Kami memilih Isba sebagai ketua panitia karena pengalaman dan kemampuannya menorganisir sebuah kegiatan dan aku sebagai sekretaris. Kamipun mulai bekerja dan hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tema kegiatan. Karena ini adalah kegiatan besar dan melibatkan banyak orang, tema menjadi penunjang penting suksesnya sebuah kegiatan. Kami berdikusi dan bertukar pendapat terkait tema yang cocok tetapi tidak monoton. Setelah berdiskusi selama kurang lebih 1 jam, didapatlah tema “Cintaku Tumbuh di 5 Juni”. Penggunaan kalimat tersebut bukan tanpa alasan mengingat 5 Juni adalah hari lingkungan hidup sedunia dan pada tanggal 5 tersebut kami mencoba untuk membuat sebuah gebrakan besar agar masyarakat sadar dan mau menjaga lingkungan demi keberlangsungan hidup. Kami juga berharap semua pihak dan golongan semakin mencintai lingkungan dan tidak lagi melakukan hal yang dapat merusak dan mengancam lingkungan. Kami bekerja keras, mengurangi jatah tidur dan fokus pada kegiatan tersebut.


***


5 Juni 2014. Aku telah bangun ketika matahari belum menampakkan sinarnya dan ayam belum berkokok. Aku menarik selimutku dan kemudian berwudhu untuk menunaikan sholat subuh. Aku berdoa pada Tuhan agar kegiatan kami nantinya bisa berjalan lancar dan orang-orang yang hadir di dalamnya bisa mendapatkan sisi positifnya. Setelah selesai menunaikan kewajiban setiap muslim, aku mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke acara tersebut. Setelah semuanya siap, aku bergegas ke sekret karena sebelum jam 07.00 pagi semua panitia harus berkumpul dan tidak boleh ada yang datang terlambat. “Terima kasih Tuhan atas nikmatmu hari ini, semoga kegiatannya berjalan sesuai dengan apa yang kami inginkan” doaku dalam hati. Aku melangkahkan kaki dan berjalan menuju sekret. Sesampainya di sekret, aku melihat ketua panitia dan beberapa teman telah sampai dan sibuk mempersiapkan semua item kegiatan karena jam 09.00 WITA acara akan dimulai. Aku menghampiri ketua panitia yang sedang memasukkan bibit pohon bakau ke dalam kardus “Assalamu’alaikum ketupat” sapaku kepada ketua panitia. Dia tersenyum sekali lagi dan membuatku tak bisa berkata-kata, senyuman yang sama ketika aku pertama kali bertemu dengannya. “Wa’alaikumsalam Ayya” Jawabnya. “yang lain mana, kok yang datang ke sini sedikit” tanyaku sambil membantunya memasukkan bibit pohon ke dalam kardus. “Ah aku lupa memberitahumu, yang lain udah di tempat kegiatan. Aku nyuruh ke sana supaya stand by dan mempersiapkan semuanya, maaf yah” jawabnya tanpa menoleh kepadaku. “Oh gitu, gak apa !” Jawabku singkat. Setelah semua persiapan selesai, kami pun bergegas ke tempat acara.


Jam 09.00 acara dimulai dengan pelepasan sebuah balon udara bertuliskan “Cintaku Tumbuh di 5 Juni”. Terlihat banyak kerumunan orang yang exited dengan acara tersebut. Tampak dari kerumunan tersebut, Bapak Menteri Lingkungan Hidup yang datang bersama pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup. Aku dan teman-teman lainnya senang dan sekaligus bangga karena semuanya berjalan lancar sesuai dengan yang diinginkan. Perjuangan dan pengorbanan kami selama 1 bulan lamanya ternyata membuahkan hasil yang sangat menakjubkan. Kegiatan selanjutnya adalah penanaman 1000 pohon bakau di pesisir pantai Kota Makassar. Bapak menteri dipersilahkan sebagai orang pertama yang menanam pohon dan sekaligus meresmikan acara. Mereka senang bermandi lumpur dan berebut untuk menanam pohon. Kami hanya tertawa melihat tingkah masyarakat. Ketika aku akan menanam pohon, tampak seseorang datang menghampiriku dan ditangannya terlihat menggenggam bibit pohon bakau. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena saat itu, matahari lagi sibuk-sibuknya menyinari bumi. Semakin dekat, aku langsung mengenalinya. Dia tersenyum manis kepadaku dan menyerahkan bibit pohon bakau sambil berkata “ Aku sayang kamu”.


SELESAI

Comments