Cinta di Ujung Jalan

144d5148635765b42b9269358ab493be.png_wh860 Source : google[/caption]
Delia sedang tertidur pulas di atas meja kerjanya ketika Hpnya berdering.  Lantunan musik country dari penyanyi terkenal Amerika Serikat ‘Taylor Swift’ menguasai ruangan dan meninabobokan Delia yang kelelahan
. Di depannya terbaring, laptopnya masih menyala dengan tulisandi misrosoft office yang menunggu untuk diselesaikan. Lama Hp tersebut berdering, namun Delia masih enggan untuk beranjak bangun dari tidurnya yang hanya mengandalkan kedua tangannya. Di samping meja kerjanya, terdapat banyak sticky notes namun hanya satu di antaranya yang ditulis dengan huruf kapital. “13 Juli 2018, anniversary ”, begitulah bunyi dari tulisan yang tertera dalam sticky notestersebut. Untuk kedua kalinya, Hp Delia berdering kembali. Dengan kepala yang masih terbenam dalam meja, tangan Delia meraba-raba meja untuk mencari keberadaan Hpnya. Setelah Hp tersebut berada dalam genggamanya, Deliapun bangun dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dibukanya matanya perlahan-lahan dan didapatinya nama seseorang yang tidak asing baginya.

“Hm, Hallo” jawab Delia dengan rasa kantuk yang masih menguasai. “Happy anniversaryjuga sayang, Love u too”, tambah Delia mengakhiri percakapan setelah beberapa menit telfonan. Delia masih menggenggam Hpnya, matanya tertuju pada salah satu tulisan dalam sticky notes. “Sudah dua tahun ternyata” bisik Delia sambi beranjak pergi menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya yang hampir hilang kesadaran.

Delia memiliki seorang kekasih bernama Irlan yang sedang melanjutkan studi S2nya di negeri kincir angin, Belanda. Adapun Delia berada di Indonesia untuk menggapai mimpinya menjadi seorang penulis terkenal. Mereka menjalin kasih saat keduanya berada di akhir status mahasiswa. Saat itu, Irlan sedang mencari MC untuk kegiatan tahunan himpunannya. Berbekal saran dari temannya, Irlan menemui Delia yang merupakan salah satu MC jempolan dan banyak mengisi jadwal MC di beberapa fakultas. Merekapun berkenalan dan menunjukkan ketertarikan satu sama lain setelah kegiatan himpunan Irlan berakhir. Dengan dibantu sahabat-sahabatnya, Irlan menyatakan perasaannya ketika Irlan maupun Delia akan berangkat KKN. Dan kisah romantisme merekapun dimulai saat itu juga ketika truk yang membawa peserta KKN melaju kencang, memisahkan mereka berdua yang berbeda lokasi KKN.

Irlan enam bulan lebih cepat menyelesaikan studi SInya dibandingkan Delia dan meraih peringkat cum laude. Selain iu, ia juga mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus di Belanda. Irlan dilema karena tak ingin meninggalkan Delia yang saat itu sedang berjuang untuk menyelesaikan skripsinya. Ia tak ingin berpisah dengan Delia, wanita yang selalu membuatnya merasa nyaman dan penuh semangat. Ia memutuskan untuk membawa serta Delia ke Belanda setelah Delia menyelesaikan studinya. “Delia, aku ingin kita menikah” kata Irlan ketika mereka berdua sedang duduk santai di tepian danau dekat taman kota. “apa sih, ngawur aja kamu” jawab Delia sambil menyeruput ice cream cone yang ada di tangannya. “Aku serius Delia, aku pengen kamu ikut aku ke Belanda” kata Irlan sambil menatap kedua bola mata Delia. Delia tak berkutik, kedua bola matanya sekarang beradu dengan mata Irlan yang saat itu menyemburkan api keseriusan. Delia menarik napas dan kemudian berucap “Gapai dan sukseslah di Belanda, aku akan menunggumu kembali di Indonesia”. Seketika jawaban Delia meluluhlantakkan harapan Irlan untuk membawanya ikut serta ke Belanda. Namun demikian, Irlan tetap berjanji untuk kembali ke Indonesia demi Delia nantinya. Dan mulai saat itu, Delia dan Irlan menjalani hubungan jarak jauh, dipisahkan oleh negara, oleh benua, oleh samudera dan hanya berkomunikasi lewat skype.

Sudah setahun lamanya sejak Irlan meninggalkan Indonesia untuk menempuh kuliah di Belanda. Selama kurun waktu itu juga, baik Irlan maupun Delia berusaha untuk mencapai apa yang mereka cita-citakan selama ini. Irlan menempuh studi master dengan mengambil konsentrasi konservasi lingkungan. Berbagai permasalahan lingkungan di Indonesia yang semakin mengancam keberadaan makhluk hidup membuat Irlan tergerak untuk mencari solusinya. Adapun Delia yang bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal mulai menunjukkan keberhasilan. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, ia telah meraih penghargaan sebagai salah satu penulis muda berbakat. Novelnya yang berjudul “Senyum Tuhan di Tanah Haram” terjual ratusan ribu eksamplar dan menjadikannya salah satu novel best seller di tahun 2017. Novel tersebut Delia tulis ketika masih berstatus mahasiswa dan untuk mempublikasikannya menjadi sebuah buku tidak terbilang mudah. Delia berulang kali mengirimkan naskahnya pada beberapa penerbit namun ditolak dengan alasan klise “sudah banyak yang nulis tentang tema keislaman” atau “penulis nekat”. Namun Delia tak patah semangat, ia tetap mengirimkan naskahnya walaupun sering mendapat penolakan hingga salah satu penerbit tertarik dengan naskahnya dan bersedia mempublishnya. Kesuksesan Delia yang ia dapatkan tak lepas dari peran serta kekasih. Irlan selalu menjadi editor dan teman sharing ketika Delia mendapat kebuntuan dalam menulis. Irlan juga yang selalu menemani Delia mengirimkan naskahnya pada beberapa penerbit sebelum ia berangkat ke Belanda.

Delia tiba di rumah pada pukul 11.00 WIB malam setelah bertemu dengan seorang sutradara yang tertarik mengangkat kisah Chamie (tokoh dalam bukunya) menjadi film. Ketika akan membuka pintu, seseorang memanggilnya. “Delia”, sapa suara tersebut. Delia membalikkan badan dan mendapati Irlan sedang berdiri di hadapannya. Delia mematung, tak percaya dengan apa yang diihatnya. Air matanya tumpah seketika, air mata kebahagiaan karena dapat bertemu Irlan setelah sekian lama. Delia langsung menghamburkan diri dalam pelukan Irlan. Didekapnya tubuh Irlan erat. “Kamu kenapa gak ngasih kabar kalau balik ke Indonesia”, tanya Delia menyudahi pelukannya. “Udah, aku ngirimin message ke e-mail kamu” jawab Irlan sambil menyeka air mata Delia dengan kedua tangannya. “maaf, beberapa hari ini jadwal aku padat dan belum sempat ngecek e-mail”. Jawab Delia dengan suara lirih karena merasa bersalah. Delia menarik tangan Irlan dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk mengobati kerinduannya pada kekasih. Merekapun saling berbagi kisah, menceritakan hal yang telah lalu bahkan flashback bagaimana mereka memutuskan untuk berhubungan, tertawa lepas memecah keheningan malam. Pukul 02.00 WIB, barulah Irlan kembali ke rumahnya. Sebelum balik, ia memberikan kado berupa cincin pada Delia. “aku balik dulu yah” kata Irlan sambil mencium kening Delia dan berlalu pergi meninggalkan Delia yang masih tak percaya dengan cincin yang terpasang pada jari manis kirinya sekarang.

Irlan berada di Indonesia selama seminggu. Ia sedang menemani dan membantu Profesor Brian meneliti tentang konservasi lukisan dinding pada gua-gua di gugusan kars Kalimantan. Selama kurun waktu itu, Irlan tak memiliki banyak waktu hang outbersama Delia. Begitupun halnya dengan Delia yang selalu bertemu dengan sutradara untuk membicarakan film yang akan digarap dari novelnya. Kesibukan yang mereka jalani tak bisa mempertemukan mereka berdua untuk waktu yang lama. Hingga ketika Irlan akan kembali ke Belanda, ia tetap tak bertemu dengan Delia. Delia yang mengetahui bahwa Irlan akan kembali Belanda sehari lebih cepat dari jadwal yang ditentukan langsung menuju bandara. Namun, ia terlambat. Irlan telah kembali ke Belanda. Betapa hancur hati Delia yang tidak sempat bertemu dengan pujaan hatinya. Tetesan air air mata sedikit demi sedikit mengalir dari kedua matanya. Ia tersedu-sedu sepanjang jalan menuju parkiran mobilnya. Adapun Irlan dari balik jendela pesawat terlihat termenung. Ia memandangi bangunan-bangunan yang semakin mengecil seiring dengan pesawat yang terbang membumbung tinggi ke angkasa.

Delia sedang menatap langit yang ditaburi bintang-bintang berkelipan dan bulan sabit yang menyendiri. Ia mengambil Hpnya, dibukanya inbox e-mailnya namun tak ada message dari seseorang yang ia harapkan. “Sudah dua minggu, kok gak ada kabar dari Irlan”. Ia kembali melihat e-mail dan mengecek pesan terkirim. “e-mailnya benar, kok gak ada balasan”, tanya Delia seorang diri sambil menggigit bibirnya. Namun, Delia tak mau berprasangka buruk terhadap Irlan. Delia percaya bahwa Irlan tidak akan melakukan sesuatu hal yang akan menyakiti Delia. Ditepisnya segala prasangka buruk yang tertuju pada Irlan dan faktor kesibukanlah yang membuat Irlan tidak menghubunginya.

Minggu berlalu dan berganti bulan demi bulan, namun kabar dari Irlan tak kunjung datang. Delia sangat gelisah dan khawatir dengan hal tersebut. Setiap hari dia mengecek e-mail berharap ada kabar dari sang kekasih, namun tak ada balasan. Delia mencoba menghubungi Firman, teman sekamar Irlan di Belanda, namun Firman tak pernah merespon pertanyaan Delia. Khawatir dan curiga dengan Irlan, Delia memutuskan untuk ke Belanda.

Delia mengetahui alamat apartemen Irlan dari prangko surat yang pernah Irlan kirimkan kepadanya. Setelah mendapat alamat tersebut, berangkatlah Delia untuk menemui sang kekasih. Namun, betapa terkejutnya Delia ketika berada ±10 meter dari pintu masuk apartemen Irlan. Ia melihat Irlan keluar sambil merangkul seorang wanita bule bahkan mencium mesra kening wanita tersebut ketika beranjak pergi. Delia tak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya, hingga ia terus melangkah mendekati Irlan. “Irlan” panggil Delia ketika Irlan berbalik menuju kamarnya. Irlan tak berbalik ketik Delia memanggilnya. Ia malah mempercepat langkah kakinya menuju kamar dan meninggalkan Delia seorang diri. Delia yang tak mengerti akan perubahan sikap Irlan langsung berlari ke arahnya. “Kamu kenapa Lan ? kamu kok ngejauhin aku ?” tanya Delia sambil meraih lengan Irlan. Namun Irlan menepisnya dan tetap melangkah pergi tanpa bicara sepatah katapun. Delia kembali meraih lengan Irlan untuk meminta penjelasan, namun ia terhempas jatuh karena dorongan Irlan. Delia menitikkan air mata karena mendapat perlakuan buruk dari orang yang disayanginya. Ia bangkit dan menepis tangan Irlan yang mencoba membantunya. Baru 10 langkah, Delia kembali menghampiri Irlan yang hanya berdiri mematung melihatinya. Delia meraih tangan Irlan dan dikembalikannya cincin yang pernah Irlan berikan tanpa sepatah kata mengalir dari bibirnya. Delia tak kuasa membendung air matanya. Pengorbanan yang ia lakukan demi bertemu Irlan di benua lain ternyata sia-sia. Kesetiaan dan rasa sayangnya selama ini ternyata berujung penghianatan. Akhirnya, Delia kembali ke Indonesia.

Delia kembali menjalani aktivitasnya. Sudah enam bulan lamanya ia tak lagi berhubungan dengan Irlan. Kekecewaan yang ia rasakan ketika di Belanda membuatnya ingin melupakan Irlan secepat mungkin. Delia kini lebih fokus kepada film dari novelnya yang tidak lama lagi akan rilis. Sahabat-sahabat Delia mencoba untuk menghiburnya dengan menjodohkannya dengan lelaki lain, namun Delia menolaknya. Ia masih menyanyangi Irlan walaupun lelaki tersebut telah  menyakitinya.

Delia kembali ke rumah pada saat jam telah menunjukkan pukul 02.00 malam. Seharian ia harus menghadiri meet & greet dari film yang telah rilis. Namun, Delia tak langsung beranjak tidur. Ia malah memperhatikan foto Irlan yang masih terpajang pada meja kerjanya. Kenangan lalu tiba-tiba terbesit kembali dan menghadirkan kembali memori indah mereka berdua. Delia buru-buru menepisnya karena tak ingin gagal move on. Diambilnya foto Irlan dan dibuangnya ke dalam tong sampah yang berada di samping meja kerjanya. Ketika akan beranja tidur, Delia melihat ada new message pada e-mailnya. Ia membukanya dan betapa terkejutnya ketika mendapati pengirim pesan tersebut adalah Irlan. Namun, bukan Irlan yang mengirim messagetersebut melainkan Firman yang merupakan teman sekamar Irlan. Kalimat demi kalimat dibaca olehnya. Garis muka Delia tak berubah sampai ia selesai membaca message tersebut. Delia menuju kamarnya dan langsung menghamburkan diri pada selimutnya. Ia menangis tersedu-sedu, pikirannya kosong, tak tahu apa yang harus diperbuat. “Kenapa harus Irlan Tuhan ?” teriak Delia di tengah heningnya malam. Delia menangis sepanjang malam dan bangun ketika peran matahari akan digantikan oleh bulan.

Irlan menderita penyakit leukimia. Saat Irlan berada di Indonesia, ia sempat terjatuh ketika akan memotret salah satu lukisan gua pada dinding-dinding gua. Ia mengalami pendarahan hebat pada lututnya sehingga Prof. Brian memutuskan untuk kembali ke Belanda sehari lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Selain itu, wanita yang dilihat oleh Delia di apartemen Irlan merupakan teman sekelas Firman. Irlan tahu waktunya tidak lama lagi, sehingga ia berpura-pura menjadi lelaki jahat di depan Delia. Ia berharap Delia akan melupakannya jika ia berlaku demikian. Irlan tak mau Delia bersedih hati jika waktunya untuk pergi telah tiba nanti.

Delia memutuskan kembali ke Belanda untuk menemui Irlan yang sedang terbaring koma. Ia ingin berada di samping Irlan, memberikan support, dan menjadi penguat bagi Irlan. Delia sedang berada di ruang tunggu bandara ketika sebuah pesan baru masuk ke – emailnya. Sebuah pesan yang meluluhlantakkan harapan Delia untuk bertemu Irlan. Harapan yang tidak akan terjadi dan tidak mungkin akan terjadi. Sebuah pesan yang menyiratkan bahwa Delia harus menunggu Irlan di Indonesia dan tak perlu jauh-jauh ke Belanda.Yah, Irlan telah meninggal dunia dengan penyakit leukimia yang menggerogoti tubuhnya. Betapa hancur hati Delia mendapat pesan tersebut. Ia tak percaya dengan takdir Tuhan yang terlalu cepat memisahkan mereka berdua. Ia berharap dapat menemani Irlan di saat-saat terakhirnya, namun Tuhan berkata lain. Delia mengambil kembali kopernya. Ia tak menitikkan air mata seperti yang sering ia lakukan sebelumya. Ia harus kuat menghadapi kenyataan yang telah terjadi. Ia kembali pulang menuju rumahnya, menunggu jenazah Irlan yang akan diterbangkan dari Belanda keesokan harinya.

Sudah sebulan lamanya Irlan berpulang ke pangkuan-Nya. Delia juga mulai menata diri dan kehidupannya kembali setelah ditinggalkan oleh Irlan. Setelah film yang diangkat dari novelnya laris manis di pasaran, Delia memulai project keduanya yaitu menjadikan kisahnya dengan Irlan sebagai sebuah buku. Yah, cinta mereka berdua berada di ujung jalan. Tak ada kepastian dan tak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bertemu lagi satu sama lain. Baik Irlan dan Delia telah dipisahkan oleh dua dunia yang berbeda. Namun yang pasti kehidupan memiliki ujung yang sama, yaitu kembali kepada-Nya.

Comments