Backpacker Amatiran


It’s not the mountain we conquer but ourselves

– Edmund Hillary

img_2002 Finally we can reach the top[/caption]
Nama Sir Edmund Percival Hillary atau yang lebih akrab dikenal Edmund Hillary pasti tidak asing bagi para pecinta gunung. Ia adalah seorang peternak lebah asal Selandia Baru yang dijuluki sebagai bapak pendaki gunung.
Kecintaannya mendaki gunung mengantarkannya menjadi orang yang pertama kali menaklukan puncak tertinggi dunia, Mount Everest. Ia sempat berkali-kali gagal, namun tak pernah menyerah untuk mencapai tujuannya karena ia percaya kegagalan yang pernah ia dapatkan adalah kunci menuju keberhasilan. Pada tahun 1953, ia bersama bersama pemandunya Tenzing Norgay berhasil mencapai puncak tertinggi Pegunungan Himalaya. Keberhasilan Edmund dan Tenzing menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejak mereka. Seperti yang dikatakan Edmund Hillary dalam quotesnya bahwa “Pada dasarnya esensi dari mendaki gunung adalah bukan tentang puncaknya, melainkan bagaimana menaklukan diri kita sendiri”Banyak para pendaki yang menyerah ketika puncak telah di depan mata, mereka tidak mampu melawan ego ketidakberhasilan yang menguasai pikiran mereka. Padahal keberhasilan tidak akan ada tanpa kegagalan dan pemenang sejati adalah mereka yang mampu melawan ego.


“Jika kamu ingin mengetahui sifat asli seseorang, ajak dia travelling, karena Travelling bukan hanya tentang jalan-jalan apalagi sekedar buang-buang materi, tetapi lebih dari itu Travelling merupakan pendesakan diri untuk keluar dari rumah dan lingkungan yang ramai dengan keakraban. Watak manusia akan bisa digali lebih dalam saat dia sendiri dan terdesak”. Seru seorang kawan kepada saya sesaat pesawat tak lama lagi take off menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan kali ini terbilang perjalanan nekat saya sebagai backpacker amatiran. Yah, saya dan kawan saya akan melakukan travelling ke pulau seribu Masjid itu. Adapun priority goals kami adalah menaklukan salah satu seven summits Indonesia, Gunung Rinjani, meskipun dengan persiapan yang tidak begitu matang sebagaimana lazimnya para pendaki gunung pada umumnya. Niat dan keinginan besar untuk menaklukan puncak dari gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesia itu menjadi bagian dari modal kenekatan kami. Hohoho…

Setiba di International Lombok Airport kami dijemput oleh Esti, salah seorang kawan lama kami yang kebetulan warga setempat, dan kami berencana untuk nginap di rumahnya selama di Lombok. Sepanjang perjalanan menuju kota Mataram, kami disuguhkan dengan pemandangan berbagai bentuk arsitektur bangunan Masjid yang terllihat jelas hampir di setiap kiri-kanan jalan. Jarak antara masjid satu dengan yang lainnya tidak begitu jauh, sehingga terlihat sangat ramai. Pantas saja kota ini dijuluki dengan kota seribu Masjid.

***

Track Menuju Gunung Rinjani
Keindahan pemandangan di sepanjang jalur pendakian, kaldera yang luas ditambah Danau Segara Anak yang melingkar kebiruan membuat siapapun tergiur untuk menapaki puncak 3726 Mdpl gunung Rinjani. Terdapat tiga jalur pendakian menuju Rinjani yaitu Sembalun, Senaru, dan Torean. Kami memilih jalur Sembalun yang merupakan jalur favorit pendaki menurut beberapa referensi yang saya telusuri di internet. Kami berjumlah empat orang meninggalkan kota Mataram menuju Sembalun, Lombok Timur selama kurang lebih 4 jam menggunakan kendaraan roda dua. Memasuki Kawasan Taman Nasional Rinjani, kami disambut oleh sekawanan monyet yang hidup berkeliaran di sepanjang jalan. Perjalanan menuju Puncak Rinjani kami tempuh selama 4 hari mulai tanggal 29 Juni sampai 01 Agustus 2017.



[caption id="attachment_115" align="aligncenter" width="284"]img_1989 Cekrak-cekrek sebelum tenaga terkuras habis[/caption]
Setelah mengurus administrasi pendakian di Kantor Balai TNGR, Pukul 11.00 WITA kami meninggalkan perkampungan menuju pos 1. Sebelum memulai perjalanan kami disambut para ranger Rinjani yang bertugas sebagai pengawas sekaligus instruktur tentang peraturan pendakian gunung Rinjani. Perjalanan ke Pos 1 kami tempuh selama ± 3 jam. Areal pertama yang dilewati berupa jalan pengerasan tanah bercampur pasir dan debu yang bisa sampai buat hidung mempet. Areal kedua berupa hutan, dan yang terakhir berupa padang ilalang.

Sepanjang jalan menuju pos 1, terlihat tukang ojek lalu-lalang membawa carrier bahkan para pendaki. Yah, terdapat jasa ojek oleh warga setempat berupa motor bebek yang sudah dimodifikasi menjadi motor gunung yang siap melalui jalanan terjal penuh bebatuan dan pasir halus sampai pada pos 2. Namun kami memilih untuk tetap berjalan menikmati setiap langkah menuju pos demi pos menuju puncak tertinggi walaupun terik matahari terasa sejengkal dari kepala kami. Selain tukang ojek, hal lain yang tak kalah menarik adalah para porter yang hanya mengenakan sendal jepit dan celana kolor bahkan ada yang tak mengenakan alas kaki ataupun baju dan membawa beban berat nyaris melebihi berat badannya. Mereka adalah warga lokal yang menyediakan jasa porter untuk para pendaki yang tidak mau repot membawa beban peralatan pendakian. Jasa porter ini kebanyakan dimanfaatkan oleh para bule (pendaki asing) yang datang dari berbagai negara.



[caption id="attachment_126" align="aligncenter" width="411"]img_2157 Salah satu view pendakian ke Pos 1, sejauh mata memandang hanya hampara padang ilalang yang terlihat[/caption]
Kami beberapa kali beristirahat sejenak di sepanjang jalan menuju pos 1. Banyak kelompok pendaki yang berlalu lalang. Salam sapa tak pernah berhenti setiap kali berjumpa dengan mereka. Di salah satu shelter tempat kami beristirahat, kami bertemu dua orang bapak penggembala sapi yang kebetulan juga sedang beristirahat. “Masih jauh Pos 1 pak ?” tanya Esty dalam bahasa Sasak (kebanyakan warga lokal tidak paham bahasa Indonesia). “Masih jauh, kamu lihat dua pohon di sana ? itu Pos 1”, jawab salah seorang bapak dengan bahasa Sasak yang langsung diterjemahkan Esti kepada saya. Pandangan kami tertuju pada kedua pohon yang dimaksud dan yang nampak hanya pohon kecil karena jaraknya yang masih cukup jauh. Selain itu, barisan para pendaki yang sedang menuju pos 1 terlihat seperti liliput-liliput kecil dari kejauhan. Sesekali pohon tersebut ditutupi oleh kabut. Pukul 15.00 WITA. Kami akhirnya tiba di pos 1.

Menuju Pos 2

Jarak antara pos 1 dan pos 2 tidak terlalu jauh, sekitar ± 1,7 km dan dapat diakses selama ± 1 jam lebih. Walaupun jaraknya terbilang cukup dekat, namun medan yang dilewati cukup menguras tenaga. Sepanjang jalan, tak nampak satupun pepohonan yang dilewati selain bukit yang ditumbuhi ilalang. Untuk berlindung dari terik matahari yang tepat di atas kepala, kami hanya mengandalkan topi lapangan dan buff .



[caption id="attachment_111" align="aligncenter" width="235"]img_1921 Pos 2[/caption]
Sudah menjadi kebiasaan bagi sesama pendaki untuk saling menyemangati di setiap jalur pendakian, menanyakan asal daerah, dan memberikan bantuan. Seorang polisi (pembantu keamanan tim ranger) langsung menawari kami makan sesaat setelah kami tiba di Pos 2. Ketiga kawan saya yang kebetulan saat itu sedang lapar langsung menyantap makanan tawaran polisi tersebut, sedang saya hanya duduk berdiam diri sambil mencari tahu bagaimana trek ke Puncak Rinjani kepada beberapa pendaki. Sore mulai menjelang dan polisi tersebut menyarankan kami untuk bermalam di Pos 2, namun kami memutuskan untuk bermalam di Pos 3. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, kami mengisi perbekalan air yang mulai menipis karena karena kebetulan terdapat sumber air di pos 2.

Kabut mewarnai perjalanan kami menuju Pos 3 sehingga jarak pandang hanya menyisakan beberapa meter saja. Medan yang dilewati mulai berat karena jalanan mulai menanjak dan berupa bebatuan tajam. Beban berat yang bersarang di punggung juga membuat kami cepat lelah sehingga setiap waktu kami harus beristirahat. Pukul 17.30 WITA kami tiba di Pos 3.



[caption id="attachment_114" align="aligncenter" width="256"]img_1972 Warung gunung menjual snack dan minuman. Are you interested to buy some ?[/caption]
Di pos 3 kami disambut oleh sekawanan monyet yang setiap waktu ingin mencuri makanan dari para pendaki. Para monyet tersebut akan bertindak agresif jika pendaki tidak memberikan mereka makanan, untuk itu disarankan kepada setiap pendaki di Rinjani agar tidak sekalipun memberikan mereka makan. Pada pos 3 terdapat dua buah shelter dan di setiap shelter terdapat penjual yang menawarkan beberapa makanan ringan dan minuman dengan harga yang terbilang tinggi. “Maklumlah, mana ada penjual di gunung”. Jarak antara shelter pertama dan kedua ± 200 meter. Kami mendirikan tenda di shelter kedua untuk beristirahat malam dan makan. Shelter kedua memang banyak disukai para pendaki untuk mendirikan tenda karena posisinya yang terletak di antara dua tebing batu besar sehingga aman dari angin ataupun badai yang berpotensi merusak tenda.



[caption id="attachment_127" align="aligncenter" width="396"]img_2161 Langit malam di Pos 3, bintangnya banyak yah ? [/caption]
Menuju Plawangan Sembalun

Pagi menjelang, matahari kembali tersenyum menyapa kami. Embun menyeruakkan basahnya membuat kami betah berbalutkan sleeping bag dan enggan beranjak keluar tenda. Namun, perjalanan masih harus dilanjutkan. Ketiga kawan saya mulai menyiapkan sarapan sedang saya masih betah berlama-lama di dalam tenda. Seakan menjadi kebiasaan, saya menolak untuk sarapan pagi karena takut buang air besar. Yah, sulitnya mendapatkan air di gunung dan tempat untuk membuang hajat membuat saya memilih untuk menahan rasa lapar (jangan ditiru).

Beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan, kami mendapatkan satu masalah dilematis untuk melanjutkan pendakian atau pulang. Masalahnya adalah salah satu kawan kami harus kembali ke Mataram karena sesuatu hal yang sangat mendesak. Dengan berat hati kami bertiga tetap bertekad melanjutkan pendakian menuju puncak. Sementara kawan kami yang tetap ngotot memaksa kami untuk melanjutkan pendakian kembali ke Mataram. Kamipun berpisah di pos 3. Sedihnya…

Salah satu momok menakutkan yang membuat pendaki kewalahan dalam menaklukan Gunung Rinjani adalah Bukit Penyesalan yang terdiri atas tujuh bukit. Tidak ada jalur lain menuju Plawangan Sembalun selain harus melewati Bukit Penyesalan. Terdapat dua pos ekstra (pos bayangan) pada Bukit Penyesalan sebagai tempat peristirahatan bagi pendaki yang kelelahan. Pukul 09.00 WITA, kami meninggalkan Pos 3 menuju camp terakhir, Plawangan Sembalun.



[caption id="attachment_128" align="aligncenter" width="352"]img_2170 Siap-siap menyesal[/caption]

[caption id="attachment_129" align="aligncenter" width="353"]img_2173 Here is “Bukit Penyesalan”[/caption]
Belum cukup beberapa langkah meninggalkan Pos 3 menaiki bukit penyesalan pertama, kami sudah mulai kelelahan. Medan yang dilewati mulai menanjak seperti yang kebanyakan orang katakan, tak ada yang landai kecuali di pos ekstra. Selama perjalanan, beberapa kali saya meninggalkan kedua kawan saya yang berjalan sedikit pelan. Ketika beristirahat seorang diri, seorang bapak menghampiri saya dan memberikan coklat dan air minum. Mengetahui rombongan kami hanya terdiri atas tiga orang, ia menyarankan agar kami ikut bergabung dengan rombongan mereka yang berjumlah belasan orang.

Melewati bukit demi bukit penyesalan memang menguras habis tenaga. Awalnya tanjakan pada bukit pertama berupa bebatuan dan pepohonan yang bisa melindungi pendaki dari terik matahari. Kemudian pada tanjakan selanjutnya berubah menjadi tanjakan pasir dan padang ilalang. Sejauh mata memandang, tanjakan di Bukit Penyesalan seperti tiada berujung karena setiap melewati bukit, maka bukit lain bermunculan, dan begitulah seterusnya. Kami bertiga mulai kehabisan tenaga tetapi karena niat menggebu-gebu untuk mencapai puncak, maka kata “menyerah ataupun menyesal” seperti namanya Bukit Penyesalan tidak pernah terlontar dari mulut kami.



[caption id="attachment_132" align="aligncenter" width="386"]img_2440 Walaupun lelah tapi harus selalu siap berpose kapanpun kamera menyorot [/caption]
Kami terus melanjutkan perjalanan, menaiki bukit demi bukit penyesalan dan berhasil tiba di Plawangan Sembalun pada pukul 04.30 WITA. Terdapat tiga pos di Plawangan Sembalun : 1) Plawangan 1 berupa tempat landai dengan pemandangan utama berupa Danau Segara Anak; 2) Plawangan II berupa sebuah bukit landai yang ditumbuhi beberapa pohon cemara, inilah tempat camp kami dengan alasan tenda mampu terlindungi dari panas dan angin kencang ketika terjadi badai; 3) Plawangan III dekat dengan sumber air, shelter, dan WC. Tanpa membuang waktu kami langsung mendirikan tenda, mengambil air di sumber air yang sedikit jauh dan membuat makanan untuk mengisi kekosongan perut setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga.



[caption id="attachment_135" align="aligncenter" width="398"]img_2443 Perjalanan menuju camp terakhir setelah berhasil menaklukan Bukit Penyesalan[/caption]

[caption id="attachment_130" align="aligncenter" width="399"]img_2437 This’s Plawangan Sembalun, camp terakhir sebelum Puncak Rinjani[/caption]

[caption id="attachment_131" align="aligncenter" width="395"]img_2439 Lokasi camp kami menghadap langsung ke Gunung Agung, Bali[/caption]


Sesaat sebelum mendirikan tenda, seorang porter setengah baya memanggil saya ke tendanya saat saya sedang mengistirahatkana badan tak jauh dari tempatnya berada. Ia menawarkan air minum dan mengajak saya bercerita. Ia juga meminta saya untuk menunggui pisang goreng yang sedang dibuatnya matang, namun saya menolaknya dengan alasan saya harus membantu teman mencari air. “Ntar saya simpain pisang goreng dah, kamu selesain aja urusan kamu”, kata porter yang sayapun tidak sempat menanyakan namanya. “Serius ? makasih banyak pak”, jawabku sambil berlalu pergi setelah berpamitan.

Malampun datang, bintang bertebaran di angkasa, namun kami enggan beranjak keluar tenda untuk menikmati pemandangan malam. Kami berusaha mengistirahatkan badan namun mata seakan tak ingin terlelap cepat. Minuman hangat sepertinya sangat cocok untuk mengurangi suhu tubuh kami yang sangat dingin. Salah seorang kawan segera bergegas membuat segelas energen untuk kamipun menyantap segelas energen secara bergantian. Tiba-tiba saya teringat akan pisang goreng yang ditawari oleh seorang porter sebelumnya. sedang asik menyeduh segelas energen secara bergantian, saya tiba-tiba teringat dengan pisang goreng yang dijanjikan pak porter sore tadi. Saya pun segera keluar tenda menuju tenda milik porter tersebut.

Angin malam di Plawangan mendesir halus ketika saya beranjak keluar dari tenda. Dengan berlari-lari kecil saya menuju tempat si porter tersebut berada. Melihat saya datang, porter tersebut langsung keluar dari tenda. “Kirain situ gak datang” tanyanya sambil mengambil sepiring pisang goreng yang dilumuri susu coklat. Setelah berbicang sebentar dan menyantap sepotong pisang goreng, saya kemudian undur diri dan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan porter tersebut. Kedua kawan saya sangat senang ketika saya membawa pisang goreng dan dalam sekejap pisang goreng tersebut habis ditelan oleh mulut-mulut beringas kami. Pukul 09.00 WITA kamipun tidur.



[caption id="attachment_112" align="aligncenter" width="227"]img_1924 Gorengan dari si porter, It’s so delicious[/caption]

Menuju Puncak Rinjani
Time is coming, attack summit akhirnya tiba juga. Kami berangkat menuju puncak pada pukul 01.30 WITA dengan mengikuti rombongan lain yang kebetulan camp di samping tenda kami. Berdoa dan meminta perlindungan kepada Tuhan Penguasa alam kami lakukan sebelum pergi. Kemudian dilakukan perhitungan anggota rombongan dan didapati jumlah anggota yang berangkat sebanyak 15 orang. Berangkatlah kami menuju puncak dengan berbekalkan satu botol air minum. Rasa lapar mulai terasa ketika langkah kaki perlahan mulai menjauh dari tenda, menaiki tanjakan demi tanjakan meninggalkan Plawangan Sembalun. Kondisi badan yang lelah membuat kami tertidur dan tidak sempat makan malam sampai waktu attack summit tiba. Awal pendakian tubuh masih mampu menahan rasa dingin dan penat, namun karena medan semakin menanjak dan pijakan yang awalnya berupa gundukan tanah kemudian berubah menjadi pasir. Inilah penderitaan awal kami dimulai. Tanjakan demi tanjakan sudah dilewati dan medan yang dilalui semakin berat. Sepanjang sinar headlamp menerawang, hanya pijakan pasir yang terlihat. Di kejauhan sana, sinar demi sinar headlamp terlihat mulai meninggalkan Plawangan, terlihat seperti gugusan bintang yang berjajar memanjang rapi.

img_2441

[caption id="attachment_124" align="aligncenter" width="379"]img_2122 Hamparan pasir yang tiada berujung, benar-benar menguras habis tenaga[/caption]
Matahari pagi tak lama lagi menyingsing, sinar keemasannya memenuhi ufuk langit Rinjani, angin mulai bertiup kencang memberikan rasa dingin pada tubuh. Para pendaki tak terkecuali saya bersama kedua kawan saya yang mulai kelelahan memilih berbaring di atas pasir. Bahkan ada sebagian pendaki yang menyerah dan kembali ke Plawangan sebelum mencapai puncak. Tentu saja menjadi cobaan mental terberat bagi kami. Cobaan lain yang tak kalah membuat kami gagal mencapai puncak adalah ketika saya hampir mengalami hipotermia. Tangan saya terasa mati rasa karena dingin dan untuk menghangatkannya salah seorang kawan dengan rela memberikan sarung tangannya walaupun ia sendiri kedinginan. Melihat hal itu, seorang pendaki lain datang memberikan syal dan menyemangati kami untuk tetap menuju puncak.

Prinsip 10 langkah ala kami
Tenaga hampir habis, begitupun mental mulai drop karena banyaknya pendaki yang menyerah karena pasir yang semakin ganas menimbun setiap langkah pijakan kaki. Untuk mengatasi semua itu, kami harus berinisiatif melakukan hal apapun untuk mensiasati tenaga dan mental yang mulai drop. Kami menyebutnya prinsip 10 langkah (hahaha). Prinsip ini maksudnya adalah kami sebisa mungkin harus bisa maju 10 langkah untuk bisa beristirahat kambali. Prinsip ini sedikit ampuh untuk menambah jarak kedekatan kami menuju puncak. Saya hampir saja menyerah, tetesan air mata tak henti-hentinya mengalir menambah tekad untuk berhenti dan gagal. Tetapi dengan motivasi jauhnya jarak perjalanan dari Sulawesi menuju tempat saya berpijak saat ini membuat saya tetap bertahan.

Daaaaan….Pukul 09.00 WITA kami berhasil sampai di puncak dan menjadi pendaki ketiga terakhir dari rombongan pendaki Rinjani yang behasil sampai di puncak.



[caption id="attachment_125" align="aligncenter" width="387"]img_2141 Dan kamipun berhasil sampai di puncak, menaklukan salah satu 7 summits Indonesia. Sungguh perjuangan yang tak sia-sia. Love u guys [/caption]

[caption id="attachment_134" align="aligncenter" width="388"]img_2442 Puncak Rinjani [/caption]

[caption id="attachment_113" align="aligncenter" width="392"]img_1932 Keindahan tiada tara di Gunung Rinjani adalah Danau Segara Anak yang melingkar kebiruan. What do u think ?[/caption]
Eitzz, walaupun Gunung Rinjani menjadi destinasi utama, namun kami juga menyempatkan diri mengunjungi tempat wisata lain di NTB yang tak kalah menarik.



[caption id="attachment_122" align="aligncenter" width="425"]img_2100 Namanya sama “Pantai Kuta” tapi bukan Pantai Kuta yang berada di Bali, located in Lombok[/caption]

[caption id="attachment_123" align="aligncenter" width="317"]img_2114 Bale Lumbung, salah satu rumah adat Suku sasak yang berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil pertanian[/caption]

[caption id="attachment_119" align="aligncenter" width="383"]img_2033 Belajar Memintal benang di salah satu rumah warga di Desa Adat Sade[/caption]

[caption id="attachment_120" align="aligncenter" width="358"]img_2058 Memakai pakaian tradisional Suku Sasak pada acara nyongkolan (pernikahan)[/caption]

[caption id="attachment_121" align="aligncenter" width="382"]img_2074 Tempat yang tidak direncanakan. Awalnya kami berniat mengunjungi Masjid tertua di NTB ‘Masjid Kuno Bayan Belek’, namun karena terlalu jauh akhirnya kami ke tempat ini[/caption]



[caption id="attachment_118" align="aligncenter" width="404"]img_2025 Islamic Centre Hubbul Wathan Mataram. Masjid ini diresmikan pada tanggal 12 September 2016 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1437 H yang  dijadikan sebagai pusat kegiatan peradaban islam di NTB[/caption]

[caption id="attachment_117" align="aligncenter" width="290"]img_2024 Liburan bukan hanya sekedar mengunjungi tempat-tempat-tempat menarik, melainkan juga mencicip kuliner khas. Dan ini adalah salah satu makanan khas Lombok ‘Ayam Taliwang’ berupa ayam kampung utuh yang dibakar kemudian dilumuri rempah-rempah. Wow it’s so delicious and you have to taste it [/caption]



Comments