Arunika : Part 1

“Komoto-sama, Komoto-sama, kita berhasil, kita berhasil menemukannya”, teriak Pak Wangsa sambil berlari tergesah-gesa di kejauhan. Kedua kakinya yang tak beralas bermandikan lumpur pekat. Di tangannya, terbelit sebuah lampu senter yang masih menyala. Pakaiannya basah oleh hujan yang baru turun beberapa saat lalu. Umurnya yang sudah separuh abad mulai menggerogoti tenaganya sehingga kecepatan larinya menurun. Ia berlari dengan napas terengah-engah sembari sesekali menyeka keringat bercampur titik-titik hujan pada dahi. Aku yang sedang menyeruput kopi di beranda rumah hampir saja tersedak mendengar teriakan Pak Wangsa. Pikiranku mengawang membayangkan hal buruk sedang menimpa kami atau para pejuang kemerdekaan ingin menyerang orang-orang Jepang yang sedang menjalani serangkaian penelitian di tempat ini. Kuletakkan cepat gelas kopi pada dipan bambu dan langsung turun menuruni tangga. Hujan yang baru saja mengguyur membuat pekerjaaan kami harus terhenti untuk sementara waktu sehingga aku bisa punya waktu luang bersantai sambil menyelesaikan laporan hari kemarin yang belum sempat selesai. Karena terburu-buru, aku terpeleset jatuh dari tangga rumah hingga membuat Nako yang sedari tadi berada dalam satu tempat duduk denganku tertawa terpingkal-pingkal. Aku tak mampu menahan malu hingga ikutan tertawa sambil menahan nyeri pada bagian bokong. Beruntung, kepala tidak ikutan luka dan dengan sisa-sisa kesakitan, kubersihkan sedikit lumpur yang menempel pada pakaian.


Daijobu desuka ?” seru Nako mencoba membantuku berdiri


“Yah, cuman sedikit nyeri” jawabku sambil menunjuk area bokong dan berlalu pergi meninggalkan Nako.


Miyawaki Nako atau Nako-can adalah anak dari Miyawaki Komoto, Ketua Tokay Project yang sedang melakukan penelitian di Indonesia. Seperti perawakan khas Perempuan Jepang pada umumnya, Nako memiliki mata sipit dan rambut berponi yang tidak berantakan jika diterpa angin. Nako juga memiliki eye-smile dan gigi sulung yang membuatnya terlihat sangat manis ketika tersenyum. Namun begitu, Nako sangat payah dalam urusan kerja lapangan. Ia begitu cepat lelah ketika melakukan kerja-kerja lapangan tapi paling handal ketika mengelola data lapangan. Nako seumuran denganku sehingga kadangkala waktunya banyak dihabiskan denganku. Namun tetap saja, kendala bahasa membuat kami berdua terkadang masih kikuk dalam berkomunikasi.


Aku mempercepat langkah sambil berlari-lari kecil menuju sebuah bangunan yang terletak di sebelah utara bangunan utama, sekitar 50 meter jaraknya. Sebuah bangunan yang dulunya dipergunakan sebagai lumbung padi namun kemudian beralih fungsi menjadi ruang kerja ketika kami datang di desa ini. Aku kemudian menghampiri Pak Komoto (hanya Pak Wangsa yang memanggilnya Komoto-sama) yang sedang sibuk menganalisis ratusan fragmen tulang hewan dalam sebuah wadah kaca. Tatapan matanya sangat fokus pada tulang-tulang tersebut sehingga kehadiranku tak disadarinya. Aku mendehem pelan agar sedikit mungkin tidak membuyarkan konsentrasinya. Ia menoleh sedikit dan sebentar kemudian kembali melanjutkan analisisnya. Sebelumnya, ia menjentikkan jari sebagai pertanda aku langsung menyampaikan perihal kedatangan.


“Kita berhasil menemukannya Pak.” Kataku singkat


Mendengar pernyataanku, Pak Komoto refleks menghentikan pekerjaannya dan langsung meraih pundakku untuk meyakinkan apa yang didengarnya.


“Serius ? kita berhasil ?”


Aku mengangguk cepat dan tanpa menunggu waktu lama, Pak Komoto bergegas membereskan pekerjaannya. Disimpannya hati-hati wadah kaca berisi fragmen tulang yang sedari tadi dikerjakannya, pun dengan kertas-kertas laporan yang dalam beberapa bulan belakangan menjadi santapan wajib kami sehari-hari. Ia begitu berhati-hati agar tidak ada satupun kertas laporan yang tercecer dan tetap tersusun sesuai tanggal kerja. Di meja kerja Pak Komoto tak hanya kertas yang bertumpuk, namun temuan hasil ekskavasi juga berserakan. Di ruangan yang hanya berukuran 3×3 meter tersebut terdapat dua meja dan satu lemari kayu. Satu meja tempat Pak Komoto menghabiskan waktu mengerjakan laporan yang begitu banyak sedangkan meja satunya sebagai meja analisis. Fragmen tulang manusia maupun hewan, artefak batu, fragmen keramik, dan masih banyak lagi temuan yang jumlahnya ribuan. Di lantai banyak terdapat ember berisi artefak yang belum sempat dianalisis. Di sudut ruangan, terdapat sebuah cermin seukuran orang dewasa yang sama sekali tidak memiliki memberikan kesan keindahan pada ruangan tersebut selain fungsinya untuk bercermin. Di dinding, dua lukisan dan satu potret foto tergantung rapi.


“Jangan lupa bawa kamera dan buku saku saya yang ada di meja”. Kata Pak Komoto sesaat sebelum meninggalkan ruangan. Ia ternyata telah berganti pakaian dan juga telah mengenakan topi dan sepatu kerjanya.


Kamipun keluar dan mendapati Pak Wangsa sedang berbincang dengan para arkeolog dan beberapa pekerja lokal yang selama ini membantu kami. Pak Wangsa duduk di gazebo sedang yang lain mengitari Pak Wangsa sambil mendengarkan dengan tatapan takjub. Melihat kami berjalan perlahan menuju gazebo, secepat mungkin Pak Wangsa menghampiri dengan senyum merekah. Lampu senternya tetap pada posisi menyala. Mungkin ia lupa mematikannya karena keasikan cerita dan yang lain juga tak menegur karena ikutan bahagia melihat progress kami selama berbulan-bulan yang akhirnya membuahkan hasil.


Akses menuju gua tersebut terbilang cukup jauh, pun dengan jalannya yang curam dan menanjak. Di langit, awan hitam pekat tak juga enggan menghilang dari peraduannya. Hujan sepertinya akan kembali mengguyur karena rintik-rintik hujan mulai terasa menyentuh kulit. Setelah berdiskusi sebentar, kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan harapan kembali sebelum petang menjelang. Tanpa memberi aba-aba, Pak Wangsa langsung mengambil jalan dan kami mengikut di belakangnya.


Nako tidak diperkenankan ikut mengingat basecamp harus tetap dijaga. Ia bersama beberapa arkeolog dan pemilik rumah tempat kami tinggal melanjutkan pekerjaan yang harus kami tinggalkan. Nako sempat kesal ketika dilarang ikut oleh Pak Komoto.


“ Otosan, saya mau ikut” keluh Nako dengan tatapan memelas


“Tidak, kamu di sini saja” jawab ayahnya


Bukan main kesalnya Nako tidak diperbolehkan ikut. Ia menggerutu sambil bertopang dada walaupun ayahnya sudah berlalu pergi. Mudah terbawa perasaan, begitulah watak Nako. Apapun yang diinginkannya harus terpenuhi dan merajuk seharian adalah pemandangan yang harus kami saksikan jika keinginannya tidak dipenuhi. Namun itu hanya berlangsung sehari saja, karena setelahnya ia akan kembali sedia kala.


***


Pernah suatu ketika Nako mengajakku melihat kumpulan Anoa yang berada di ujung desa. Ia penasaran dengan hewan mirip kerbau yang katanya tidak ada di Jepang dan baru pertama kali dilihatnya di Indonesia.


“Salah satu pelajaran yang paling aku sukai ketika masih mahasiswa adalah zooarkeologi karena kita belajar banyak hal tentang dunia hewan berikut nenek moyangnya jutaan tahun silam. Aku sering meminta Otosan membelikanku buku ensiklopedia dunia hewan dan aku juga sering ke perpustakaan jurusanku untuk mencari buku terkait kehidupan kingdomhewan. Bagiku hewan itu kawaii walaupun ada juga yang menyeramkan. Jadi, aku banyak tahu tentang nama-nama hewan berikut kehidupannya” terang Nako kepadaku berapi-api.


Ia beberapa kali melirik kepadaku berharap aku mendengar apa yang dikatakannya dan mungkin juga berharap aku memujinya. Ia seorang berpengetahuan tinggi dan sangat ahli dalam urusan hewan purba. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum kepadanya. Banyaknya artefak yang harus dianalisis dan laporan harian yang harus diserahkan kepada Pak Komoto malam harinya membuatku tak terlalu bersemangat menanggapinya. Ia sempat terlihat kesal karena perlakuanku yang menurutnya tidak berperikemanusiaan. Namun ia cepat melupakannya karena sibuk memikirkan Anoa yang pernah dilihatnya ketika pertama kali berkunjung ke desa ini. Ia sedikit merengek kepadaku minta ditemani namun aku bersikeras menolak karena harus menyelesaikan analisis.


“Kamu coba ajak Mardi, dia lebih tahu tempat ini dibandingkan aku”


“Tidak, aku tidak suka Mardi !”


“Kenapa ?”


“Dia suka menggodaku, pokoknya aku mau kamu yang menemaniku bukan Mardi” kata Nako sembari berdiri menghadapiku dengan muka yang hampir bersentuhan denganku.


Aku begitu kaget dengan tingkah Nako yang begitu tiba-tiba. Sedikit saja aku menaikan wajah bisa dipastikan aku menciumnya. Melihatku kikuk tak tahu harus berbuat apa, tawa Nako tiba-tiba meledak. Ia kembali duduk di sampingku dengan tatapan mengejek yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Bukan karena aku menyukai Nako, namun aku tidak pernah diperlakukan seperti itu. Seorang bangsawan punya tata krama tinggi yang harus dipatuhi termasuk dalam berhubungan dengan lawan jenis. Kutinggalkan pekerjaan analisis sebentar dan berbalik menghadapi Nako, kali ini dengan air muka serius.


“Nako, aku sedang banyak pekerjaan hari ini. Lihat artefak-artefak di sana” sembari menunjuk beberapa ember tempat artefak berada


“Aku harus menyelesaikannya malam ini sebelum rapat evaluasi berlangsung” lanjutku sambil menatap Nako tanpa seutas senyum


Nako beranjak berdiri tanpa berkata sepatah katapun dan berlalu pergi meninggalkanku. Aku kembali berjibaku dengan pekerjaanku dan melupakan kejadian tersebut. Belakangan aku tahu, Nako tidak pergi melihat anoa walaupun aku telah menyuruh Mardi menemaninya. Dan sampai rapat evaluasi, Nako yang biasanya duduk di sampingku malah memilih duduk di dekat otosannya. Ia bahkan menghindari kontak mata denganku. Sampai ketika rapat evaluasi berakhir, ia tetap tak mau menemuiku walaupun sempat kucegat pada pintu. Namun ia mendahuluiku dan pergi menuju ke kamarnya tanpa pernah menoleh ke belakang sekedar untuk melihatku.


“Sungguh kekanak-kanakan” batinku dalam hati.


***


“Bagaimana Pak Wangsa menemukan rock art tersebut ?” tanyaku penasaran, sesaat setelah kami meninggalkan basecamp.


Tanpa menoleh, Pak Wangsa langsung bercerita. Ia begitu bersemangat dan sesekali menoleh ke belakang untuk meyakinkanku. Aku dibuat takjub olehnya dan sesekali di tengah cerita, aku memotong dan memberikan pertanyaan. Orang-orang di belakangku juga ikutan mendengar termasuk Pak Komoto, namun ia hanya diam tak menimpali cerita Pak Wangsa. Yah wajar saja, karena Pak Wangsa kadang mencampuradukan bahasa ketika berkomunikasi antara bahasa Indonesia dan bahasa ibu. Sehingga Pak Komoto yang bukan asli orang Indonesia akan sedikit kewalahan dalam memahami cerita Pak Wangsa. Tanpa diminta, aku menjelaskan kepada Pak Komoto tentang cerita Pak Wangsa dan kepalanya hanya manggut-manggut.


***


Gambar cadas atau disebut rock art adalah salah satu objek temuan dalam disiplin ilmu arkeologi. Tokay University tempat Pak Komoto mengajar adalah spesialisasi di bidang arkeologi kemaritiman. Pak Komoto sendiri sempat mengeyam pendidikan di Australia National University dalam bidang yang sama. Kecintaannya pada arkeologi kemaritiman mengantarkannya mengunjungi Indonesia dan saat ini berada di tengah-tengah jazirah Pulau Sulawesi, tepatnya di Desa Laro inia. Sebuah wilayah yang masih jarang terjamah oleh manusia-manusia mega predator. Walaupun sudah berada di Desa Laro inia selama beberapa bulan, namun jejak-jejak kemaritiman dari para manusia prasejarah belum ditemukan.


Penelitian kami berpusat pada sebuah desa yang dikelilingi gugusan kars. Sepanjang perjalanan menuju desa ini, mata dimanjakan oleh hijaunya persawahan penduduk yang baru memulai masa tanam juga kerbau-kerbau yang digerakkan untuk menggemburkan tanah. Jika mulai malas, si penggembala akan memukulkan tali sesekali hingga kerbau-kerbau tersebut menambah kecepatannya membajak tanah persawahan. Mirip seperti kerja rodi yang digalakkan pemerintah Belanda. Para pekerja akan terus dipaksa bekerja tanpa henti, tak peduli letih dan penat menguasai tubuh. Melewati hijaunya persawahan akan dijumpai tanah lapang tempat ratusan anoa berkumpul. Sekilas mirip seperti kerbau dengan tanduk lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih, namun anoa memiliki ukuran badan yang lebih pendek dan kecil. Anoa-anoa ini tidak diternakkan oleh penduduk sekitar karena sifatnya yang liar sehingga mereka dibiarkan hidup bebas berkeliaran.


Perjalanan yang ditempuh cukup menguras tenaga hingga berulang kali kami harus beristirahat pada apapun yang bisa membuat badan menghilangkan penat. Pada akar tumbang, pohon, akar kayu, ataupun pada bebatuan yang kami lewati sepanjang perjalanan. Gua yang letaknya pada gugusan kars mengharuskan kami mendaki beberapa tanjakan mematikan yang sudut kemiringannya hampir 30o. Aku kemudian mengarahkan beberapa pekerja lokal untuk memasang tali agar memudahkan kami mendaki tanjakan tersebut. Kulihat Pak Komoto bersandar di sebuah pohon sambil sibuk mengipasi dirinya walaupun hawa udara di sekitar gua cukup dingin. Pak Komoto memang identik dengan kipas putihnya yang bermotif bunga Sakura. Kemanapun dan dimanapun ia berada, selalu kipas di tangan kirinya. Aku tak mau ambil pusing dan tidak mau tahu dengan kebiasaan dirinya memegang kipas. Pernah hal tersebut menjadi bahan candaan ketika kegiatan ekskavasi selesai. Seseorang berseru sambil memperagakan Pak Komoto dengan kipasnya yang diayunkan berulang-ulang. Kami hanya mampu tertawa melihat lakon tersebut.


Melihat Pak Komoto, aku jadi teringat mendiang bapak. Usianya sekitar lima tahun lebih tua dari Pak Komoto tapi perawakan bapak jauh lebih kuat dan sehat. Maklum, bapak adalah seorang pencari rotan yang kesehariannya berkelana ke hutan. Kadang berhari-hari bapak tidak pulang hanya untuk mencari rotan. Bapak saat ini mungkin masih hidup jika saja ia tidak terseret banjir bandang saat menghanyutkan rotan yang didapatnya. Jenazah bapakpun ditemukan tersangkut pada sebuah pohon besar di seberang muara sehari kemudian. Aku yang saat itu masih balita hanya melihat ibu dan kakak menangisi bapak tanpa mengerti arti dari tangisan tersebut.


Talipun dibentangkan dan dililit pada tiap pohon ataupun akar yang mampu menanggung beban kami saat meniti titian demi titian. Pak Wangsa paling depan disusul aku, Pak Komoto dan dua tenaga lokal yang membawa beberapa peralatan lapangan. Namun hujan yang beberapa waktu lalu sempat mengguyur membuat tanjakan semakin licin. Beberapa kali kakiku tak mampu menahan beban tubuh hingga membuatku terperosok jatuh. Tak hanya aku sendiri, beberapa pekerja lokal juga ikutan dibuat kewalahan oleh medan yang harus kami lewati. Setelah melewati pendakian yang melelahkan, tibalah kami di mulut gua dengan kondisi hampir tanpa tenaga. Kerongkongan terasa kering dan jantung berdetak tak karuan menyesuaikan dengan kondisi tubuh yang membutuhkan banyak asupan darah. Kepalaku sedikit pusing dan dengan sisa-sisa tenaga, kurebahkan tubuh sejenak pada dinding luar gua. Kuperhatikan Pak Komoto dan Pak Wangsa bercakap-cakap dengan bersandar pada bebatuan di sekitar gua. Aku tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan selain karena jaraknya sedikit jauh juga karena kepalaku yang masih terasa pening. Setelah memulihkan tenaga sebentar, aku beranjak dan memandangi gua yang tepat di hadapan kami. Tak lama berselang, Pak Wangsa datang menepuk bahuku dan berbisik “akhirnya kita sampai”


TO BE CONTINUED

Comments