Yudisium Day
Terima kasih untuk kebersamaannya selama ini :)[/caption]“Waktu cepat sekali berlalu”, seperti itulah kalimat untuk menggambarkan momen sakral yang terjadi hari ini. Jum’at, 02 Juni 2017, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, secara resmi aku dinyatakan “LULUS” dari Universitas Hasanuddin. Tak akan ada lagi status mahasiswa yang disematkan kepadaku, tak akan ada lagi kegiatan keluar lapangan,tak akan dirasai lagi capeknya badan karena begadang semalaman untuk mengerjakan tugas, tak akan ada lagi drama telat masuk kampus karena bangun kesiangan, tak akan terdengar lagi ocehan dan omelan dari dosen karena tidak mengumpulkan tugas, tak akan ada lagi nilai C tersenyum karena gagal dalam suatu mata kuliah, tak akan ada lagi kabur-kaburan karena malas rapat di himpunan, dan semua hingar-bingar dunia mahasiswa akan memuai hilang. Mungkin, kehidupan dunia kampus akan kembali aku rasakan ketika melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, semua tak akan pernah tertandingi kala masih menyandang status mahasiswa S1.
Aku mengeyam bangku perkuliahan S1 selama 4 tahun 7 bulan. Lamanya waktu yang aku butuhkan untuk menyelesaikan pendidikanku dikarenakan dengan sengaja aku membiarkan skripsiku terbengkalai selama setahun. Yah, aku terlalu terbuai oleh dunia kampus hingga berlaku demikian. “Santai, bakalan selesaika juga”, begitulah kira-kira kalimat yang setiap kali aku lontarkan tatkala orang menanyakan kapan aku selesai. Namun, terkadang aku juga dibuat jengkel dan geram dengan kelakuan orang-orang yang membandingkan aku dengan si A yang cepat selesai, si B yang sudah dapat kerja, atau si C yang udah nikah. Terlepas dari hal tersebut, aku percaya bahwa Tuhan telah menyediakan sebuah pintu yang akan membawaku menuju gerbang kesuksesan suatu saat nanti. Percayalah, setiap manusia diciptakan unik dan berharga.
Sesaat sebelum acara yudisium digelar, dalam kesendirian pikiranku menerawang menembusi dunia pelamunan. Aku ingat sekali ketika semester 3, aku sempat ingin berhenti kuliah dari arkeologi karena tak mampu mengikuti sistem pengaderan yang ada. Lamanya waktu pengaderan yang memakan waktu selama setahun lamanya membuatku ingin pindah jurusan. Berkas-berkas untuk pindah jurusan sudah ada dalam genggaman dan hanya menyisakan tanda tangan ketua jurusan arkeologi sebagai syarat final sebelum pindah. Namun, ketua jurusan arkeologi saat itu tidak mengizinkan kami untuk pindah dan tetap keukeuh mempertahankan kami untuk tetap berada di arkeologi. Ketidaksetujuan ketua jurusan waktu itu membuatku bertahan beberapa bulan di kos karena galau dan stress, hingga dalam pelarianku aku putuskan untuk kembali. Aku mengikuti seluruh proses pengaderan yang menguras tenaga hingga ke titik terendah, melatihku agar tak menjadi anak manja dan cengeng, dan bahkan membuatku kembali mencintai arkeologi yang sekarang menghantarkanku meraih gelar sarjana.
Wejangan dan untaian motivasi bahkan isak-tangis hampir memenuhi ruangan yudisium kala dosen-dosen menceritakan kembali kisah saat kami awal berjumpa sebagai mahasiswa baru. “Sudah lama ternyata. Sampaikan salam kami (red : dosen) untuk keluarga kalian. Terima kasih telah mempercayakan Departemen Arkeologi sebagai tempat kalian untuk menitip ilmu. Semoga kesuksesan menanti kalian masa depan, dan jangan lupakan arkeologi karena kita adalah keluarga”, kalimat tersebut menutup acara yudisium yang dihelat di ruangan Departemen Arkeologi pada pukul 11.00 WITA.
Sebelum acara selesai, seorang dosen menanyakan perihal rencana kami ke depan.
Dosen : “Niar, rencana setelah ini mau ngapain ?”
Niar : “Insha Allah mau lanjut kuliah S2, Bu !”
Dosen : “Eh ? saya kira kau mau menikah ? rencana mau lanjut di mana”
Niar : (tersenyum kecut) “Belum Bu, Insha Allah di Peking University”
Dosen : “Oh bagus, kamu ketemu sama pembimbingmu baru minta rekomendasi ke beliau, bagusnya kamu kuliah di Eropa saja, tidak usah di China”
Niar : “Iye Bu, terima kasih”
Dan sesi percakapan tersebut akhirnya ditutup dengan foto bersama.
Terima kasih untuk Departemen Arkeologi atas memori berkasih yang telah kita torehkan selama ini. Terima kasih karena masih membuka pintu untuk menerimaku kembali menjadi mahasiswa arkeologi (red : pernah ingin pindah jurusan). Semoga kami bisa menjadi arkeolog-arkeolog mumpuni di masa depan yang bermaslahat bagi masyarakat. Viva Arkeologi : Bangun Bina Bakti Arkeologi Jaya !
Comments
Post a Comment