Pesona Morowali : Gua Vavompogaro

Eksotisme alam Kabupaten Morowali sudah tidak diragukan lagi akan keindahannya. Sebut saja Pulau Sombori yang sering disebut hidden paradise di kawasan Timur Pulau Indonesia, memiliki keindahan yang tak kalah dengan Raja Ampat di Papua. Kabupaten Morowali memang memiliki perairan yang lebih luas dibandingkan daratan, sehingga jangan heran jika terdapat banyak tempat wisata seperti pantai di daerah ini. Berbeda halnya dengan wisata alam yang tumpah ruah, wisata budaya dan sejarah bisa dikatakan sangat minim sehingga dewasa ini, generasi muda Morowali kurang mengetahui akan budaya dan sejarah Miano to Bungku (red: Orang Bungku). Benteng Fafontofure dan Masjid Tua Bungku adalah dua tempat bersejarah yang sudah menjadi benda cagar budaya dan kesejarahannya hanya diketahui oleh segelintir orang. Sangat Miris !


Jika Benteng Fafontofure dan Masjid Tua Bungku merupakan peninggalan Kerajaan Bungku ± 200 tahun lalu, kali ini saya akan membawa Sahabat Bungku menyelami puluhan ribu tahun silam untuk melihat jejak-jejak peradaban manusia purba di Kecamatan Bungku Barat. Kita tidak akan mendapatkan fosil manusia purba seperti halnya di Sangiran yang banyak ditemukan fosil Pithecantropus Erectus, yang ada hanyalah tinggalan artefaktual yang pernah digunakan oleh manusia purba di zaman lampau. Ialah Gua Vavompogaro yang menyimpan banyak bukti-bukti material manusia di masa lampau dan keberadaannya masih dapat disaksikan sampai sekarang.


Awalnya, saya tidak mengetahui keberadaan Gua Vavompogaro ini, hingga  Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin mengutus saya untuk menjadi delegasi Tokai Project 2016. Tokai Project adalah salah satu kegiatan kerjasama penelitian antara Tokai University, Jepang dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Sayapun sempat sangsi ketika pihak jurusan menjelaskan secara detail terkait Tokai Project. “Ini Orang Jepang mau ngapain jauh-jauh ke Morowali ? apa yang mau diteliti di Morowali ?” batin saya dalam hati. Sayapun tidak banyak bertanya saat itu hingga ketika tanggal 14 September 2016 berangkatlah saya ke Desa Topogaro untuk bertemu rekan-rekan sesama penelitian.




[caption id="attachment_71" align="aligncenter" width="389"]dsc_1517 (1) Tim Tokai Project 2016[/caption]

Tim Tokai Project 2016 berjumlah 20 orang dengan komposisi Dr. Rintara Ono, seorang Associate Professor, School of Marine Science and Technology sebagai ketua tim. Drs. Harry Oktavianus Sofian dan Nico Alamasyah (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Ipak Fahriani, Wiwik Sriwigati, Jamal, Jonly Ponto, dan Anang (Balai Arkeologi Manado), Suryatman (Balai Arkeologi Makassar), Dahniar Arsyad (Universitas Hasanuddin), Ni Luh Gde Dyah Mega Hafsari (Universitas Udayana), Zhafir Aryo Wibowo (Universitas Indonesia), dan Eugenius Olafianto Drespiputra Wisnuwardhana (Universitas Gajah Mada) dan Ahmad Azhar, Ivan Ronalio, Wahyudo, Ludin, Umar, Agus Ramlan (tenaga lokal).


Kami tinggal di Penginapan Fadli, satu-satunya tempat penginapan di Desa Topogaro yang lokasinya berada di perbatasan antara Desa Umpanga dan Desa Topogaro. Penelitian ini dilaksanakan selama dua minggu lamanya dari tanggal 14-27 September 2016. Sebagai Miano to Bungku, saya baru pertama kali menginjakkan kaki di wilayah ini walaupun notabenenya saya sering melewati tempat ini, akan tetapi tidak pernah sekalipun singgah.


Seorang arkeolog dituntut untuk tidak hanya memiliki kemampuan teoritis tetapi juga kemampuan metodologis, dan kegiatan ini adalah mengaplikasikan kedua kemampuan tersebut baik teoritis maupun metodologis. Kegiatan yang dilakukan yaitu ekskavasi yang memang merupakan salah satu prinsip kerja seorang arkeolog di lapangan dalam mencari data-data yang dibutuhkan terkait penelitian.


Gua Vavompogaro berlokasi di Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali. Istilah Vavo dalam Bahasa Bungku berarti di atas dan merujuk pada tempat yang terletak di ketinggian. Kenyataannya gua tersebut terletak pada deretan pegunungan karst, sekitar 3 km dari pemukiman penduduk dengan waktu tempuh ± 20 menit menggunakan kendaraan bermotor. Untuk menuju gua tersebut, akses jalan yang dilewati berupa jalanan berbatu, perkebunan kelapa sawit, areal penambangan batu gajah, dan sebuah tanjakan yang memiliki sudut kemiringan 50o.Karena itulah, untuk mencapai situs tersebut adalah dengan menggunakan tali sepanjang 100 meter.


 

[gallery ids="66,65" type="rectangular"]

Setiap harinya kami harus melewati areal penambangan batu gajah, melihat truk-truk pengangkut batu yang lalu lalang dan memberikan layanan debu gratis kepada kami. Selain itu, terkadang kami juga harus berhenti sejenak menunggu giliran jalan karena jalanan yang ada dijejali oleh truk-truk pengangkut batu. Belum lagi, forklit yang tiada hentinya menambang batu membuat kami was-was untuk melanjutkan perjalanan karena bongkahan batu yang ditambang sekali-kali bisa menggelincir dan mengenai kami yang jaraknya hanya 5 meter dari jalanan yang biasa kami lewati.


 

[gallery ids="69,67" type="rectangular"]

Perjalanan tidak hanya berhenti sampai disitu, kami masih harus menaiki dan menuruni tanjakan dengan berpegangan pada tali. Walaupun sudah berpegangan, terkadang kondisi jalanan licin sehingga membuat kami tetap terperosok jatuh. Yah, medan sulit yang harus dilewati membuat kami hampir kehabisan tenaga ketika tiba di situs. Sangat menguras tenaga tetapi itulah kenyataan seorang arkeolog di lapangan, tak peduli darat ataupun laut semuanya harus ditaklukan betapapun medannya berat.


Gua Vavompogaro ini dipergunakan oleh masyarakat sekitar untuk mencari kotoran kelelawar, tanpa pernah memperhatikan tinggalan artefaktual yang banyak ditemukan di gua ini. Setelah ditelusuri, ternyata gua ini pernah dijadikan areal penguburan karena banyak ditemukan wadah kubur kayu yang kondisinya sudah banyak mengalami pelapukan. Selain itu, juga ditemukan fragmen tembikar, artefak litik, dan keramik yang mengindisikan bahwa sudah sejak dulu terjadi aktivitas di gua ini. Terdapat banyak stalaktit dan stalagmit dengan kondisi tidak aktif, walaupun demikian pesona keindahan yang ada dalam gua ini akan membuat takjub siapapun yang melihatnya.


Kami memulai ekskavasi di situs dari jam 08.00-16.30 WITA. Berada dalam gua selama ± 8 jam membuat bosan dan untuk melawan kebosanan tersebut, diputarlah musik untuk mencerahkan suasana. Tetapi, lagu yang diputar adalah lagu-lagu tempo dulu dan sekalipun tidak mampu berkompromi dengan telinga saya yang kebanyakan lebih sering mendengar lagu pop. And guess ? anggota tim yang umurnya lebih tua dibandingkan dengan sayapun mengalah dan membiarkan saya memperdengarkan list lagu yang ada dalam Hp saya. Mereka sangat shock ketika mendengar alunan musik menggema dalam gua karena list lagu yang saya putarkan adalah lagu-lagu AKB48. Tetapi Dr. Rintara Ono (red: Pak Ono) malah senang dan bahkan menarikan beberapa tarian dari lagu terkenal AKB48 seperti Heavy Rotation dan Aitakkatta.


Hiburan dari Pak Ono dengan gayanya yang kocak mencairkan suasana. Itu dilakukannya setiap hari sehingga tak pelak tingkahnya yang jenaka kadang membuat saya mengernyitkan dahi dan geleng-geleng kepala. Selain tingkahnya yang jenaka, Pak Ono ini juga sangat ramah dan baik karena sering mentraktir kami makan bakso. Yah, awalnya hanya Kak Nico seoranglah yang ingin makan bakso tetapi kemudian kamipun mulai mengikut dan bahkan menjadikan makan bakso aktivitas rutin sebelum makan malam. Hingga suatu hari, hampir semua anggota tim sakit perut setelah makan bakso pada keesokan harinya. Karena tak tahan lagi, Kak Nico, Zafir, dan Olaf terpaksa membuat ranjau dadakan (red: poop), sedangkan Kak Ammang rela dua kali naik-turun situs-penginapan untuk melepaskan hasratnya. Tetapi, perjalanan yang terbilang jauh tersebut tak cukup membuatnya melepaskan hasratnya, di tengah-tengah ekskavasi Kak Ammang masih harus membuat ranjau dadakan di sekitar situs seperti yang dilakukan oleh Kak Nico Cs. Sayapun sebenarnya merasakan hal yang sama, sakit perut tak tertahankan membuat saya ingin kembali ke penginapan. Tetapi karena desakan dari senior-senior untuk membuat ranjau dadakan, saya urung melakukannya dan memilih menahannya ± 5 jam. Sungguh perjuangan yang sangat menguras tenaga dan hampir membuat saya pingsan karena tak kuat lagi untuk menahannya.




[caption id="attachment_72" align="aligncenter" width="338"]img_7035 and He is Pak Ono Aitakatta[/caption]

Aktivitas kami tidak berhenti ketika ekskavasi di gua selesai. Tiba di penginapan, kami masih harus membersihkan dan mengeringkan temuan yang kami dapatkan ketika ekskavasi. Juga memasukkan temuan yang telah dikeringkan pada hari sebelumnya ke dalam plastik khusus dan kemudian diberikan label. Pada malam hari, kami melakukan evaluasi dan briefing terkait aktivitas yang telah kami lakukan di gua. Evaluasi dan briefing tersebut dilakukan setiap hari pada saat makan malam telah selesai. Biasanya setelah makan malam selesai, kami mengisi waktu kosong dengan mengadakan kuliah malam. Om-om dari Puslit Arkenas dan Balar (panggilan khusus untuk mereka :D, maafkan) yang mengisi kuliah sambil berbagi informasi tentang dunia kearkeologian.




[caption id="attachment_73" align="aligncenter" width="347"]OLYMPUS DIGITAL CAMERA Suasana kuliah malam, serius amat :D[/caption]

Hal yang paling dinginkan dan ditunggu-tunggu setiap harinya adalah waktu istirahat di tengah-tengah jadwal ekskavasi. Waktu luang tersebut kami gunakan untuk mengistirahatkan tubuh yang penat setelah beraktivitas. Saya pribadi biasanya menggunakannya untuk tidur dengan bersandar pada dinding-dinding gua dan beralaskan tanah. Tak perduli pakaian akan kotor karena debu, yang terpenting adalah tubuh bisa beristirahat dan menghilangkan rasa ngantuk yang menguasai emosi tubuh.




[caption id="attachment_68" align="aligncenter" width="365"]dsc_0285 Tidur adalah aktivitas favorit saya haha[/caption]

Pernah suatu ketika tepatnya hari Jum’at, kami diliburkan dari aktivitas ekskavasi dan fokus pada analisis temuan. Saya, Mega, Zhafir, Kak Nico, Pak Ono, dan juga Om Agus ingin melihat rumput laut milik Om Agus yang adalah seorang petani rumput laut. Awalnya saya sangat excited karena untuk pertama kalinya dapat melihat rumput laut secara langsung, tetapi di tengah perjalanan dengan gelombang yang deras membuat saya mual dan pusing kepala. Ternyata saya mabuk laut ! Melihat kondisi saya yang mulai memburuk, diputuskanlah untuk kembali dengan sesegera mungkin. Tiba di penginapan, saya yang mabuk laut malah dijadikan guyonan oleh teman sepenelitian lainnya. Ah it’s truly annoying -_-




[caption id="attachment_74" align="aligncenter" width="338"]OLYMPUS DIGITAL CAMERA Tetap eksis di depan kamera dan setelah kamera off, langsung tepar karena mabuk laut[/caption]

Itulah aktivitas kami selama melakukan ekskavasi selama dua minggu lamanya. Banyak suka dan duka selama berada di lapangan walaupun yang lebih dominan adalah rasa suka. Pepatah bijak mengatakan “cintailah pekerjaanmu maka uang akan datang dengan sendirinya”. Banyak orang yang meragukan masa depan orang-orang yang bergelut dalam dunia kearkeologian, tetapi percayalah kamu akan mendapatkan kesuksesan jika kamu enjoy dan mencintai pekerjaan yang kamu geluti. Untuk kalian yang mengaku traveller dan suka mengunjungi tempat-tempat wisata, I recommend you all to visit this cave. Selain mengunjungi tempat baru, juga bisa menjadi tempat belajar untuk mengetahui khazanah budaya lokal kita.




Comments