Mari Mencintai Arkeologi Melalui Bangunan Bersejarah
Heii guys, pepatah bijak mengatakan tak kenal maka tak sayang dan tak kenal maka tak cinta. Pepatah yang romantis bukan ? tetapi itu bukan menjadi poin dari tulisan ini melainkan hanya merupakan sebuah kalimat pengantar agar ikatan emosional antara penulis dan pembaca dapat terjalin dengan baik. hehe

Sebelumnya perkenalkan nama saya Dahniar Arsyad, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Sulawesi Selatan. Saya mengambil jurusan yang kata orang tidak bisa memberikan masa depan yang cerah, jurusan tidak jelas, ataupun jurusan yang suka menggali-gali kubur. Pernyataan yang kadang kala membuat down karena bernada merendahkan tetapi tidak membuat saya ataupun teman-teman yang senasib mengeluarkan statement MENYERAH. Ya, jurusan saya memang masih terdengar awam di telinga masyarakat karena pada hakikatnya ilmu ini merupakan ilmu baru yang muncul pada tahun 1920-an. Walaupun pada kenyataannya sebagian masyarakat telah mengenal jurusan saya tetapi banyak dipersepsikan dengan tulang belulang dalam hal ini tengkorak. Selain itu, banyak dari mereka mengira cara kerja jurusan saya hampir sama dengan pekerjaan seorang yang menggali-gali kuburan. *Ih kalo dengar pernyataan kek gituan rasanya pengen jitakin kepala yang ngomong haha
Oke, tinggalkan basa-basinya. Jurusan saya adalah arkeologi yang bertujun menginterpretasi dan menyusun sejarah kebudayan melalui tinggalan materil manusia pada masa lampau. Pernah dengar gak ? Kalo pernah selamat anda kuliah di Jurusan Arkeologi. haha tetapi kalau gak pernah maka lewat tulisan ini saya akan membawa anda menyelami dunia arkeologi itu seperti apa, bagaimana cara kerja seorang arkeolog di lapangan, dan apakah arkeologi sebegitu jeleknya di mata masyarakat ?
Arkeologi, sebuah disiplin ilmu dalam kelompok humaniora yang masih terdengar awam dalam masyarakat dan banyak dipersepsikan dengan tulang belulang manusia dalam hal ini tengkorak. Mereka yang tidak mengetahui arkeologi mengira bahwa cara kerja seorang arkeolog tertuju pada kuburan dan suka menjarah harta karun. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena pada hakikatnya arkeologi lahir dan berkembang karena adanya aktivitas antiquarian atau orang-orang yang mencari barang antik (harta karun) yang lebih mementingkan nilai ekonomis daripada nilai sejarahnya. Tetapi kemudian arkeologi lambat laun berkembang menjadi sebuah ilmu dan dimasukkan dalam kelompok ilmu-ilmu humaniora. Pada umumnya banyak masyarakat yang berpikir bahwasanya arkeologi adalah ilmu sejarah, tetapi ada juga yang berpikiran bahwa arkeologi adalah ilmu antropologi. Jawabannya arkeologi merupakan disiplin ilmu tersendiri walaupun pada kenyataannya keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan antropologi karena saling berakaitan satu sama lain.
Arkeologi berasal dari bahasa Yunani archaeos yang berarti kuna dan logos yang berarti ilmu. Jadi, secara istilah arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang tinggalan kebudayaan material dari manusia masa lampau. Seorang arkeolog di lapangan dituntut agar selain memiliki kemampuan teoritis, juga harus memiliki kemampuan metodologis. Kerja seorang arkeolog di lapangan tidaklah mudah karena selain membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang objek yang akan diamati, juga dibutuhkan ilmu bantu lain untuk menunjang penelitian. Dalam hal ini, arkeologi membutuhkan disiplin ilmu lain seperti sejarah, antropologi, geologi, psikologi, kimia, fisika, dan disiplin ilmu lain yang juga concern terhadap arkeologi.
Mungkin tulisan sebelumnya telah cukup menambah pengetahun anda dalam memahami arkeologi. Sekarang saya akan menceritakan bagaimana seorang arkeolog bekerja di lapangan. Kebetulan pada hari Kamis, 22 Oktober 2015 lalu saya dan beberapa teman dari himpunan KAISAR KMFS-UH (Keluarga Mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin) melakukan kunjungan terhadap tinggalan bangunan-bangunan keagamaan dari zaman kolonial. Sebenarnya tujuan awal kami hanya untuk mengambil beberapa foto pada bagian bangunan tetapi kemudian muncul ide untuk mencari data-data sejarahnya karena sadar akan posisi kami sebagai calon arkeolog masa depan.
Bangunan keagamaan yang menjadi tujuan pertama kami adalah Gereja Protestan Bagian Barat (GPIB) Immanuel Makassar yang terletak di Jalan Balaikota Makassar atau berada di samping timur Gedung Balai Kota Makassar. Gereja tersebut dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1885 dan merupakan salah satu dari sekian banyak peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Pengerjaannya membutuhkan waktu delapan tahun. De Prostetante Kerk (red: GPIB Immanuel) memiliki luas bangunan 600 m2 , berbentuk simetris dan bergaya arsitektur gotik klasik[1].
Pada awalnya gereja ini bernama Prins Hendriks Kerk atau Gereja dari Pangeran Hendri, tetapi lebih umum dikenal dengan nama Protestansche Kerk (Gereja Protestan) atau Grote Kerk (Gereja Besar) yang selanjutnya berubah nama menjadi Gereja Immanuel sampai sekarang. Dalam sejarahnya gereja ini telah mengalami pemugaran sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1992 dan 1999. Selain itu, bangunan ini telah dilindungi oleh Undang-Undang Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Tengah dan Tenggara yang sekarang telah berganti nama menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar (BPCB).
Gereja ini terdiri atas dua bagian yaitu lantai dasar dan balkon serta dapat menampung 700 jemaat. Bagian asli dari bangunan ini terdapat pada tembok, kursi, dan pintunya. Jendela pada gereja ini telah diganti, dahulu berbentuk bundar kemudian diganti dengan bentuk persegi panjang. Selain jendela yang mengalami pergantian, kursi tempat para jemaat duduk juga mengalami hal yang sama. Hanya saja bagian yang diganti hanya pada bagian tempat duduk yang terbuat dari anyaman rotan karena hancur dimakan waktu.
[caption id="attachment_39" align="aligncenter" width="365"]
Kursi gereja yang telah berusia ratusan tahun[/caption]Pada bagian pintu masuk gereja ini, terdapat sebuah prasasti yang menjelaskan tahun dan pembuat gereja ini.
[caption id="attachment_40" align="aligncenter" width="319"]
Prasasti berbahasa Belanda di Gereja Immanuel[/caption][caption id="attachment_41" align="aligncenter" width="200"]
Tampak Belakang Gereja Immanueal[/caption]Bangunan kolonial kedua yang menjadi tujuan kami berada tidak jauh dari bangunan Gereja Immanuel terletak di Jalan Kajaolalido No, 14 Makassar. Gereja Hati Yesus yang Maha Kudus atau lebih dikenal dengan nama Gereja Katedral Ujung Pandang dibangun oleh para misionaris Portugis pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1900. Sama halnya dengan Gereja Immanuel yang bergaya arsitektur gotik klasik, Gereja Katedral pun demikian. Gereja ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1939-1941 dan menyisakan bentuk yang dapat kita saksikan sampai sekarang.
Dalam buku 100 tahun Gereja Katedral Makassar dijelaskan bahwa Pastor pertama di Kota Makassar bernama Fernendez Navarette yang datang pada tahun 1658. Tetapi jauh sebelum itu, pada tahun 1525 telah ada tiga pastor yang singgah di Kota Makassar di antaranya Pastor Antonio do Reis, Cosmas de Annunciacio, dan Bernardinode Marvao. Namun agama katolik mengalami perkembangan ketika Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka ke Makassar pada tahun 1548. Sultan Alaudin yang pada saat itu telah memeluk agama islam menerima dengan tangan terbuka atas kedatangan misionaris tersebut, sehingga Pastor Vincente dapat menjalankan tugasnya dengan leluasa. Tetapi, itu tidak berlangsung lama ketika VOC datang ke Makassar setelah menaklukan Malaka. Selain itu, adanya Perjanjian Batavia menyebabkan Sultah Hasanuddin harus mengusir orang-orang Portugis dan orang-orang Katolik dipaksa untuk memeluk agama Protestan serta para pastor diusir. Barulah pada tahun 1806 umat Katolik dapat merasakan kebebasan dan menjalankan peribadatannya saat Belanda ditaklukan oleh Napoloen Bonaparte.
Bangunan Gereja ini terdiri atas dua bagian yaitu lantai dasar dan balkon. Bagian yang masih asli pada gereja ini terletak pada jendela, ukiran-ukiran, serta kursi walaupun ada beberapa kursi yang telah diganti. Untuk membedakannya cukup dilihat dari ukuran kursi. Kursi yang asli memiliki ukuran panjang sedangkan kursi baru ditandai dengan ukuran pendek.
[caption id="attachment_42" align="aligncenter" width="392"]
Kursi jemaat gereja terdiri atas kursi asli dan kursi baru[/caption]Bangunan gereja ini memiliki 8 buah jendela (4 buah pada sisi utara dan 4 buah pada sisi selatan). Berdasarkan penuturan seorang penjaga gereja bernama Pelle, diperoleh informasi bahwa jendela tersebut dibawa langsung dari Portugis ketika dalam masa pembangunannya. Selain jendela, bejana[2] pada gereja tersebut masih asli dan sampai sekarang masih digunakan oleh para jemaat yang akan dibaptis. Bejana tersebut berhiaskan emas murni pada bagian peyangganya. Pada umumnya, ketika seorang katolik akan dibaptis maka akan dibawa ke sumur atau sungai untuk dimandikan, tetapi di Gereja Katedral cukup kepala dicelupkan ke dalam sebuah ember yang disimpan di dalam bejana.
[caption id="attachment_48" align="aligncenter" width="416"]
Bentuk jendela pada Gereja Katedral[/caption][caption id="attachment_46" align="aligncenter" width="219"]
Bejana Gereja Katedral[/caption]Nah, jika sebelumnya bangunan keagamaan gereja yang dikunjungi, maka pada bagian terakhir kami akan membawa anda melihat bangunan Etnis Tionghoa di Kawasan China Town yaitu Klenteng Ibu Agung Bahari. Sebenarnya niat awal kami ingin mengunjungi Klenteng Xiang Ma yang lokasinya berdekatan dengan Klenteng Ibu Agung Bahari. Tetapi, teman-teman saya berpikiran bahwa alangkah lebih baik mengunjungi Klenteng Ibu Agung Bahari mengingat klenteng tersebut telah berusia ratusan tahun dan merupakan salah satu saksi sejarah dari Kota Makassar pada zaman dahulu.
Klenteng Ma Tjo Poh atau lebih umum dikenal dengan Klentang Ibu Agung Bahari berada di Kawasan China Town tepatnya terletak di Jalan Sulawesi No.41, sebelah barat poros sudut selatan persimpangan Jalan Serui. Merupakan klenteng tertua di Kota Makssar yang dibangun oleh seorang Kapitan Tionghoa bernama Ong Giap pada tahun 1736. Pembangunan klenteng tersebut bertujuan untuk memuja Dewi Ma Tjo Poh (Dewi Laut) yang mereka yakini dapat memberikan perlindungan dan keselamatan ketika mereka berada di lautan lepas. Sebelum bernama Klenteng Ibu Agung Bahari seperti sekarang, dahulunya klenteng ini bernama Thian Hoo Kiang yang berarti Istana Ratu Langit. Klenteng ini pernah dipugar pada tahun 1805, 1831, dan 1867. Sebagai peninggalan sejarah, Klenteng Ma Tjo Poh (Thian Ho Kong) dilindungi undang-undang dengan nomor register 342 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara yang sekarang telah berganti nama menjadi BPCB Makassar.
[caption id="attachment_55" align="aligncenter" width="444"]
Tampak depan Klenteng Ibu Agung Bahari[/caption]Bangunan klenteng ini berasitektur dan bergaya Tiongkok, ditandai dengan bentuk atap dan hiasan-hiasan dekoratifnya. Setiap pesembahyang yang masuk ke klenteng akan disambut dua patung singa pada sisi kiri-kanan pintu masuk. Patung singa tersebut terdiri dari singa jantan dan betina dengan tinggi masing-masing patung 85 cm. Kedua patung melambangkan kekuatan agung dan megah, keberanian, dan ketabahan. Selain itu, juga bermanfaat untuk mencegah masukknya pengaruh jahat.
[caption id="attachment_52" align="aligncenter" width="411"]
Dua Buah Patung Singa pada Pintu Masuk Klenteng[/caption]Selain dua buah patung singa perlambang pengusir roh jahat, juga terdapat dua buah prasasti pada pintu masuk klenteng. Prasasti tersebut berbahasa Mandarin dan sebagian tulisannya memiliki warna tulisan yang berbeda. Pada umumnya tulisan prasasti berwarna merah, tetapi pada bagian pinggir dan atas prasasti berwarna hitam. Di bagian atas prasasti terdapat ukiran berbentuk dua ekor naga berukuran kecil, sedangkan di bagian bawah juga terdapat ukiran satu ekor naga berbentuk agak besar.
[gallery ids="54,53" type="columns"]
Pintu klenteng ini bertipe p’ai-lou dengan ukuran yang cukup lebar karena di sisi kiri dan kanannya diberi tambahan tembok dan terdiri dari 1, 3, 5, dan 7 pintu kecil. Daun pintu seluruhnya berwarna dasar merah dengan hiasan sepasang lukisan panglima perang. Di daratan Tionghoa dikenal dua jenis pintu gerbang, yakni p’ai-lou dan p’ai-fong. Dari segi ukuran memang p’ai-lou lebih besar dibanding p’ai-fong yang hanya mempunyai satu pintu saja.
Bangunan Klenteng Ibu Agung Bahari memiliki luas 140 m2 yang terdiri atas empat lantai. Lantai 1 digunakan sebagai tempat parkir para pesembahyang, lantai 2 dan 3 kami tidak bisa menjelaskan fungsinya dikarenakan pihak klenteng tidak mengizinkan. Sedang lantai 4 merupakan tempat sakral yang digunakan oleh para pesembahyang untuk melakukan peribadatan.
Kerusuhan 1998 telah menyebabkan bangunan ini rusak sebagian. Melalui Subsidi dana dari anggotanya, maka mulai pada tahun 2003, mereka bertekad membangun tempat peribadatan yang lebih layak dan nyaman, maka dibongkarlah bagian belakang gedung ini, dengan tidak menafikkan bahwa bangunan ini merupakan bangunan bersejarah. Pintu masuk utama bangunan tidak mengalami pemugaran.
Nah guys, itulah tulisan hasil perjalanan kami ketika mengunjungi bangunan bersejarah di Kota Makassar. Semoga kalian selaku pembaca dapat mendapatkan tambahan pengetahuan dan doakan semoga saya bisa menjadi seorang penulis yang handal nantinya. Amin haha
Sekedar informasi ini adalah kali pertama saya menulis dan memposting tulisan di Blog. Awalnya tidak pede karena takut salah dalam menginterpretasi data arkeologi ataupun takut akan kesalahan dalam menulis. Ya namanya pendatang baru dalam dunia tulis-menulis pastilah akan banyak kesalahan yang ditemui. Tetapi seperti yang dikatakan oleh salah satu dosen saya “Foto-foto udah begitu banyak Dahniar, sekarang sisa dibuat tulisannya. Saatnya gerakan arkeolog muda menulis” Pernyataan dosen itu membuat saya malu karena harusnya seorang arkeolog memiliki kemampuan menulis selain kemampuan metodologis di lapangan. Hal inilah yang membuat saya termotivasi untuk mempublish tulisan ini walaupun rasa takut menjalar dan seakan membisik “Tulisan kamu jelek, gak usah dipublish”. Tapi lagi-lagi saya menyemangati diri dan melawan rasa takut yang membisik di kiri-kanan telinga saya “Jangan menjadi seorang pengecut hanya karena takut karya kamu memiliki kesalahan. Percayalah kesalahan akan mengajari kamu bagaimana mengubah karyamu menjadi lebih baik lagi dan bisa diakui nantinya”
Nah sebagai tambahan sekaligus salam perkenalan karena telah membaca tulisan saya, berikut foto-foto yang sempat kami abadikan dalam momen kebersamaan kami bersama bangunan bersejarah. Semoga kalian para pembaca termotivasi untuk lebih mencintai bangunan bersejarah terutama jurusan arkeologi. Haha
[caption id="attachment_43" align="aligncenter" width="387"]
Si Nurul Ngotot Foto Sambil Berdoa ala-ala Jemaat Gereja[/caption][caption id="attachment_44" align="aligncenter" width="390"]
Berfoto Bersama Penjaga Gereja Immanuel dengan Latar Salib[/caption][caption id="attachment_51" align="aligncenter" width="392"]
Bersama Dewa Dewi Jodoh di Klenteng Ibu Agung Bahari[/caption][caption id="attachment_49" align="aligncenter" width="395"]
Berfoto di Depan Patung Dewi Ma Tjo Poh[/caption][caption id="attachment_47" align="aligncenter" width="395"]
Bersama Penjaga Gereja di Goa Bunda Maria[/caption][caption id="attachment_45" align="aligncenter" width="393"]
Tampak dalam Gereja Katedral Ujung Pandang[/caption]
Comments
Post a Comment