Review Buku: Norwegian Wood

IMG-6397


Judul                           : Norwegian Wood


Author                         : Haruki Murakami


Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia


Jumlah Halaman       : 426


 

Dua bulan lalu ketika saya memutuskan kembali ke kampung halaman, dia memberikan buku ini sebagai hadiah atas perjumpaan yang dibatasi waktu. Dia memang selalu memberikan saya buku, namun buku yang belum pernah dibacanya sekalipun. Demikian juga halnya dengan buku-buku yang dibacanya, sayapun jarang membacanya. Kalau dulu saya sering disuguhi buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal, namun tidak untuk beberapa bulan terakhir ini, dia malah memberikan buku yang ditulis oleh penulis luar. Ketika saya tanyakan alasannya, dia hanya menjawab santai “supaya pikiranmu tidak kaku”. Sayangnya, dia yang saya anggap bijak selama ini karena buku-buku yang dibacanya membuat saya kecewa karena perbuatan dan tutur katanya. Setelah saya menyelesaikan buku ini, saya hanya ingin bilang ke dia “Seharusnya kamu membacanya terlebih dulu karena banyak pelajaran moral dalam buku ini yang bisa membuat kamu belajar  bagaimana memanusiakan manusia dan bagaimana dewasa tidak hanya pikiran, tapi hati, ucapan, dan juga tingkah laku.” Seperti yang dikatakan oleh salah satu tokohnya ‘’yang kita butuhkan bukan idealisme, tapi etika bertingkah laku yaitu bersikap gentleman’'


***


Di dalam sebuah pesawat yang baru saja melandas di Bandara Hamburg, Jerman, terdengar lagu Norwegian Wood karya The Beatles mengalun dengan manis. Seperti biasa, lagu tersebut menggundah-gulanakan hati Toru Watanabe (37 tahun) dan seketika membangkitkan kepingan demi kepingan kenangannya 20 tahun silam yang lalu. Saat itu, Watanabe masih berusia 18 tahun dan baru saja hendak memulai kehidupannya sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas swasta jurusan teater di Jepang. Dari sini, Watanabe kembali dipertemukan dengan Naoko, cinta pertamanya yang juga kekasih dari mendiang sahabatnya Kizuki. Naoko yang masih belum bisa melepas bayang-bayang Kizuki menjalani kehidupannya yang suram hingga ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan masuk di sebuah pusat rehabilitasi. Keberadaan Watanabe di sisi Naoko ternyata membantu kesembuhan Naoko sedikit demi sedikit walaupun pada akhirnya Naoko memutuskan bunuh diri di sebuah hutan dengan cara gantung diri.


Watanabe digambarkan sebagai sesosok lelaki pasif dan suka menyendiri sehingga tak pelak membuatnya hanya memiliki beberapa teman sepanjang usia remajanya. Seorang lelaki yang biasa-biasa saja dari keluarga yang biasa-biasa juga, namun memiliki daya pikat tersendiri sebagai sosok pendiam yang menyukai buku. Di asrama, Watanabe sekamar dengan Kopasgat, si pecinta kebersihan yang memiliki rutinitas senam pagi dan sering dijadikan bahan bully-an oleh sesama penghuni asrama. Kebiasaan Wanatabe membaca buku-buku sastra klasik menuntunnya bertemu dengan Nagasawa, sesosok laki-laki perfect, kaya, namun cenderung individualis. Walaupun begitu, “kesempurnaan” yang dimiliki Nagasawa tak ada artinya karena kebiasaannya tidur dengan perempuan walaupun ia sendiri memiliki kekasih yang begitu menyayanginya. Setidaknya, Nagasawa telah tidur dengan 100 perempuan yang sekalipun tidak pernah membuat Hatsumi-san (pacarnya) menegur kebiasaan buruknya. Tak hanya itu, rupanya takdir juga mempertemukan Watanabe dengan Kobayasi Midori, teman satu mata kuliahnya yang suka membicarakan hal-hal absurd dan nantinya ikut mewarnai kehidupan romansa Watanabe muda. Sayangnya, Watanabe tak hanya menjalin hubungan dengan perempuan seusianya namun juga wanita yang lebih tua 20 tahun di atasnya bernama Reiko-san.




“Jika kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca oleh kebanyakan orang, maka cara berpikir kita juga akan seperti mereka” 


Hal-45 



Awal membaca judul novel ini, pikiran saya menerawang membayangkan cerita yang berkisah di Norwegia, salah satu Negara di benua Eropa. Namun ternyata, Norwegian Wood hanyalah sebuah judul lagu dari grup legendaris The Beatles yang menjadi lagu favorit seorang gadis manis dan pendiam bernama Naoko semasa hidupnya. Secara keseluruhan, Norwegian Wood mengisahkan tentang kehidupan romansa anak muda Jepang tahun 60-an yang penuh dengan seks bebas. Di bagian awal, pembaca diajak berkenalan dengan sosok Watanabe, Kizuki, dan Naoko berikut kisah percintaan yang terjalin di antara ketiganya. Memasuki pertengahan cerita, pembaca diajak menyelami kehidupan Nagasawa dan Midori, kehidupan Watanabe di dunia kampus, dan aktivitas Naoko di pusat rehabilitasi. Di akhir cerita, terselip kehidupan pahit Reiko-san dan bagaimana Watanabe menemukan jati dirinya yang dilanda kebingungan antara memilih masa depan atau tetap terbelenggu oleh masa kelamnya bersama Naoko.




“Jangan mengasihani diri sendiri karena perbuatan tersebut hanya dilakukan oleh orang hina” 


Hal. 353



Novel ini pada dasarnya berkaitan dengan dunia psikologi karena hampir tiap karakter tokohnya memiliki masalah kejiwaan yang menuntun mereka memilih antara ke lembah kematian atau bertahan pada kehidupan. Setidaknya, ada dua hal dasar yang Haruki tekankan yaitu mental disorder dan traumatic experiences dari setiap tokohnya. Ini juga yang menjadi alasan saya begitu menyukai novel ini karena kondisi kejiwaan saya pada saat membacanya lagi down dan novel ini menjadi semacam healing. Cerita dalam novel ini begitu erat dengan realitas yang terjadi dengan kehidupan kita sehari-hari di mana depresi yang dialami seseorang masih dianggap sebelah mata. Padahal, seseorang yang mengalami depresi membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Membaca novel ini mampu membuat pembaca memahami karakter jiwa seseorang dan ikut larut merasakan kesedihan dan kepedihan dari setiap permasalahan yang membelit tokohnya. Watanabe yang kehilangan Kizuki dan Naoko karena bunuhdiri, Nagasawa yang kehilangan Hatsumi yang juga bunuh diri, Reiko-san yang kehilangan keluarganya karena depresi, dan Midori yang memiliki keluarga utuh namun tidak merasakan “cinta” dari keluarganya sendiri.




“Yang paling penting adalah tidak tergesa-gesa. Meskipun persoalannya sedang kusut berbelit-belit dan sulit ditangani, kamu tidak boleh putus asa dan memaksakan diri untuk meluruskannya secara paksa dengan amarah. Kamu harus punya tekad untuk menyelesaikannya secara perlahan, urai satu demi satu.” 


Hal. 171



Hampir sama dengan novel sebelumnya, sepertinya Haruki tipe penulis yang lebih menekankan pendeksripsian pada tiap tokohnya. Karakter tokohnya hampir selalu menyukai kesendirian dan terkesan acuh tak acuh dengan kehidupan di sekitarnya. Novel ini terkesan tidak memiliki alur cerita yang jelas kemana akan berakhir dan benar saja cerita dalam novel ini berujung dengan question ending. Namun kuatnya pendeksripsian tiap tokohnya menjadi keunggulannya tersendiri karena pembaca seakan hanyut dalam cerita berikut masalah yang dialami oleh tiap tokohnya. Membaca karya Murakami seperti melengkapi puzzle demi puzzle karena setiap cerita memiliki misteri yang perlu dikuak sehingga membacanya tidak perlu terburu-buru. Hal lain yang membuat saya terkesan terhadap Haruki adalah bahwa sepertinya dia penyuka sastra klasik dan lagu-lagu folk, jazz, rock, dan pop. Itu yang saya rasakan ketika selesai membaca kedua buku karya Haruki, hampir tiap tokohnya menyukai buku dan banyak referensi lagu yang bahkan saya sendiri tidak pernah mendengar judul lagunya bahkan penyanyinya kecuali The Beatles.


Karya- karya Haruki memang secara gamblang mendeksprisikan hubungan seksual dengan istilah-istilah seks yang saya sendiri pun baru tahu. Bagi yang tidak terbiasa membaca konten semacam ini, baiknya jangan membaca novel ini karena banyaka degan dewasa yang begitu vulgar dan membawa imajinasi pembaca melayang. Sebenarnya tak hanya penulis luar yang memasukkan konten dewasa dalam karya mereka, penulis Indonesia seperti EkaKurniawan dan Gina Amanda adalah tipe penulis yang juga terang-terangan dalam mendeksripsikan hubungan seksual. Ada satu bagian dalam novel ini yang membuat saya tercengang ketika adegan lesbian dideskripsikan secarajelas dan terus terang pembaca akan ikut memahami terkait disoerientasi seksual ini, it’s really disgusting. Hal lainnya adalah ketika pada akhirnya Watanabe yang saat itu baru saja kehilangan Naoko memutuskan untuk berhubungan seksual dengan Reiko-san. Boleh dikata hubungan antara tante-tante dan brondong dan saya jadi berpikir Watanabe begitu bodoh mau melakukan hal tersebut sama wanita yang lebih tua. Ahh




‘’ Apa yang terjadi ketika seseorang membuka hatinya ?’’


‘’Mereka menjadi lebih baik’’



Novel ini mengajarkan bahwa cinta bisa membuat seseorang memiliki harapan untuk hidup. Ketika cinta tidak ada lagi, maka bisa saja orang tersebut akan kehilangan harapan hidup dan berakhir dengan tindakan bodoh ‘bunuh diri’. Kejadian ini nyata adanya dab banyak terjadi di sekitar kita. Terkadang ada saja seseorang yang berlalu pergi namun tidak pernah berpikir akan luka yang ditorehkan pada seseorang yang ditinggalkannya. Mereka baru sadar mencintai seseorang ketika seseorang yang selama ini diabaikannya memutuskan pergi dari kehidupannya. Dan kalau sudah begini, hanya sebuah penyesalan yang tertinggal. Setidaknya hal itu yang dirasakan Watanabe ketika Midori menjauh dari kehidupannya.


The last and most important, saya hanya ingin bilang bahwa “Pada akhirnya yang kita punya hanyalah diri kita sendiri, maka kita patut mencintai diri kita dengan sepenuhnya”


Anw, novel ini sudah difilmkan 2010 silam dan bagi siapapun yang sudah membacanya, kuy diskusi

Comments