Perempuan Tangguh Penakluk Gua
Sebenarnya saya masih bingung dalam menentukan judul yang harus diangkat ketika pemateri menyuguhkan sebuah tugas untuk membuat tulisan yang harus concern dengan content blog. Mengapa ? karena tema yang mengangkat “Jurnalisme Perspektif Perempuan” membuat saya mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin saya menghubungkan pandangan jurnalisme dalam perpesktif perempuan dengan arkeologi yang notabenenya masih terdengar awam dalam masyarakat. Jangankan cara kerja arkeologi di lapangan, jurusan arkeologi saja masih banyak yang tidak mengetahuinya. Tetapi Allah itu Maha Tahu, Maha Menyanyangi umatnya, sebuah ilham datang ketika 15 menit lagi kegiatan Workshop Media Sosial untuk Pers Mahasiswa yang diadakan oleh AJI Makassar diadakan. Sayapun pontang-panting memikirkan ide apa yang nantinya akan saya tuangkan dalam tulisan. Walhasil inilah tulisan saya dengan judul Perempuan Tangguh Penakluk Gua. Saya mengangkat judul ini karena kerja seorang arkeolog tidaklah mudah, di samping harus memiliki kemampuan teoritis juga harus memiliki kemampuan metodologis. Selain itu, salah satu objek arkeologi yang menurut saya menantang adalah cave (gua) di mana pada gugusan kars Maros-Pangkep tersebar gua-gua prasejarah yang menyimpan misteri sejarah masa lampau manusia. Untuk mengakses gua-gua tersebut harus melewati medan yang sulit karena letaknya jauh, menaiki tangga yang jumlahnya ratusan-ribuan, dan terkadang harus merayap untuk sampai pada mulut gua. Dan inilah cerita saya bersama teman-teman saya yang bergelut pada sebuah bidang yang fokusnya ke perbukala, ARKEOLOGI !
Perjalanan kami dimulai di Situs Prasejarah Belae. Bukan menggunakan kendaraan beroda dua ataupun empat, melainkan berjalan kaki dengan membawa peralatan yang tersimpan di carrier. Untuk perempuan muatan carrier yang dibawa seberat 60 Kg. Perjalanan kami tidaklah mudah karena harus melewati medan sulit berupa sungai yang deras, lautan lumpur setinggi lutut, sawah penduduk, dan bahkan sesekali harus menaiki tebing-tebing kars. Selai itu, teriknya matahari dan kurangnya persediaan air membuat kami mengalami dehidrasi parah. Kawasan tersebut berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan termasuk dalam rangkaian pegunungan karst Maros-Pangkep, yang menempati posisi kedua gugusan karst terluas dan terindah di dunia setelah kars China, dengan posisi astronomis 04049’20” – 04050’10” LS dan 1190 45” – 1190 36’50” BT. Setidaknya terdapat 30 leang dengan posisi berjejer di sepanjang bukit kars yang berada tidak jauh dari permukiman penduduk Kampung Bellae, seperti Leang Kajuara, Leang Kassi, Leang buloribba, Leang Camming Kana, Leang Bubuka, Leang Sakapao, dan Leang Lompoa. Hal yang menarik dari leang-leang tersebut adalah hampir semua leang memiliki tinggalan berupa lukisan telapak tangan manusia (rock art), sampah dapur (kjokkenmoddinger), dan alat-alat batu yang diduga pernah digunakan oleh manusia purba. Dari sekian banyak leang, salah satu yang paling menarik adalah Leang Sakapao, di mana leang tersebut memiliki lukisan cap tangan yang unik dan lukisan babirussa yang tidak ditemukan di leang lain.
[caption id="attachment_60" align="aligncenter" width="383"]
Perjalanan Menuju Kawasan Prasejarah Belae[/caption]Pada umumnya, leang-leang yang terdapat di kawasan Situs Prasejarah Belae memiliki rekam jejak manusia purba, tetapi terdapat satu gua yang sama sekali tidak memiliki tinggalan prasejarah. Gua tersebut adalah Leang Kallibong Aloa yang memiliki ornamen-ornamen indah khas gua berupa stalaktit dan stalagmit yang tersebar hampir di seluruh sisi gua. Pada sisi lain, terdapat ornamen-ornamen yang dipenuhi dengan kilauan menyerupai kristal-kristal kecil. Sebagian ada yang telah membentuk pilar, sebagian juga ada yang menjadi bentuk-bentuk yang unik. Beberapa diantaranya berupa stalagmit yang berbentuk ibu menggendong anaknya dan ornamen berbentuk seperti pelaminan pengantin.
[caption id="attachment_61" align="aligncenter" width="414"]
Salah satu contoh rock art[/caption]Selain tinggalan manusia purba, kawasan situs prasejarah Belae juga memiliki potensi alam yang lain, berupa view (pemandangan) bukit-bukit karst yang menyerupai pila-pilar rakasasa dan hamparan sawah penduduk yang memberikan visual yang indah. Para wisatawan juga dapat beragrowisata, di mana wisatawan dapat berinteraksi secara langsung dengan petani mengenai cara bercocok tanam secara tradisional, mulai dari turun ke sawah, pembibitan, menanam padi, ataupun membajak sawah dengan menggunakan hewan ternak seperti kerbau. Kehidupan penduduk disekitar kawasan situs juga menjadi salah satu daya tarik wisata, dikarenakan penduduk Belae memiliki kearifan lokal yang tidak ditemui di kawasan situs prasejarah yang lain. Hal itu ditandai dengan keramahan dan sikap terbuka bagi setiap wisatawan yang datang berkunjung ke daerah tersebut. Bahkan secara sukarela, mereka menyiapkan ‘home stay’ bagi wisatawasan yang ingin bermalam.
[1] Bulu merupakan bahasa Bugis yang berarti gunung. Dalam bahasa Bugis istilah bulu mencakup istilah gunung dan bukit. Dalam tulisan ini, penggunaan kata bulu untuk menyebut Bulu Matojeng dan Bulu Matenre lebih mengarah pada istilah bukit.
Comments
Post a Comment